PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TIDAK BISA MENERIMA PERMINTAAN ZI ZI


__ADS_3

Nan Thian hanya berani melihatnya dari tempatnya tanpa berani bersuara.


Dia terus menatap kearah Zi Zi dengan perasaan yang bercampur aduk hingga sulit di jelaskan.


Hanya kesedihan dan duka yang sangat mendalam yang terukir jelas di wajahnya.


Zi Zi sendiri setelah melepas kepergian keluarga Nan Thian, terutama bibi Hong Yi yang sangat pengertian dan menyayanginya.


Sehingga membuat dia berat melepaskan kepergian nya.


Kini setelah semua nya sudah pergi, tinggal tersisa dirinya sendiri, yang merasa kesepian tanpa ada yang mengerti perasaan nya lagi.


Zi Zi sambil menghapus airmatanya yang tersisa, sambil mengeraskan wajahnya, untuk menjaga sedikit harga dirinya yang tersisa.


Dia tidak mau terlihat lemah, dan terus menerus berjuang seorang diri, mengemis cinta dan belas kasihan dari pria, yang sudah tidak menghendakinya lagi.


Zi Zi membalikkan badannya dengan langkah setegar mungkin yang dia bisa.


Dia melangkah menghampiri Nan Thian, berdiri di hadapan Nan Thian yang terlihat tidak berani beradu tatap dengan nya.


Zi Zi sambil menatap lekat lekat wajah pria, yang sampai kini masih sangat dia cintai.


Dia berkata pelan,


"Kakak tampan untuk terakhir kalinya Zi Zi bertanya pada kakak, apakah kakak benar tidak menghendaki Zi Zi lagi ? jawab lah Zi Zi kak..?"


Nan Thian menghela nafas berat, dia masih tetap tidak berani menatap kearah Zi Zi.


Setelah mengumpulkan segenap kekuatan dan keberanian Nan Thian akhirnya buka suara,


"Bibi kamu pasti tahu, seberapa besar rasa hormatku kepada ayah mu.."


"Setalah dia memutuskan, bagaimana mungkin aku menantang keputusannya.."


"Dari segi apapun, bila aku melakukan nya, aku akan jatuh kedalam lubang tidak kenal Budi tidak setia dan tidak berbakti.."


"Jadi maafkan aku Bibi, setelah kakek paman guru memutuskan itu, selain menerimanya, menerima takdir kita.."


"Aku tidak punya pilihan lain, selain sebisa mungkin menjaga batasan hubungan di antara kita.."


"Mulai saat ini aku adalah keponakan mu, kamu adalah bibi ku.."


ucap Nan Thian pelan, masih dengan kepala tertunduk, tidak berani di angkat keatas.


Zi Zi terus menatap Nan Thian dengan sepasang mata yang kembali berkaca kaca.


Menuruti adatnya, dia ingin langsung pergi, karena kakak tampan nya, sudah jelas menyatakan sikapnya.

__ADS_1


Dia sudah menolak dirinya, ingin menjaga jarak dan batasannya, tidak menghendaki dirinya lagi di sisinya.


Tapi saat melihat kesedihan Nan Thian, dan terkenang masa masa indah kebersamaan mereka. akhir akhir ini yang begitu bahagia.


Zi Zi tiba tiba merasa tidak rela, dia ingin berjuang sekali lagi, demi kebahagiaan masa depannya, bersama Nan Thian.


Zi Zi menguatkan dirinya sekali lagi, setelah menghapus airmatanya.


Dia maju selangkah mendekatkan diri ke hadapan Nan Thian, Zi Zi sambil memberikan sebuah senyuman terindah yang dia miliki.


Dia memegangi sepasang tangan Nan Thian dengan lembut.


Lalu menggenggam tangan itu dengan erat.


"Kakak Tampan, angkatlah kepalamu tataplah Zi Zi, sekalipun untuk terakhir kalinya, Zi Zi mohon tataplah Zi Zi.."


Saat tangan nya di genggam hangat oleh jemari tangan Zi Zi yang halus dan lembut.


Nan Thian perasaannya tergetar hebat oleh kehangatan yang sangat di dambakan nya ini.


Sehingga Nan Thian tidak lagi kuasa menolak permintaan gadis satu satu nya yang telah mengisi seluruh hati dan perasaan nya.


Gadis satu satunya yang sangat dia cintai, dan harapan terakhirnya yang akan mendampinginya, bersamanya hingga rambut memutih ajal tiba.


Perlahan-lahan Nan Thian mengangkat kepalanya, menatap kearah wajah gadis itu.


Begitu sepasang mata mereka kembali bertemu, Nan Thian bagaikan terhipnotis.


Semua perasaan cinta dan kasih sayangnya yang dia pendam demi norma susila.


Kini semua belenggu itu langsung lenyap tak berbekas.


Nan Thian begitu terpesona menatap wajah kekasihnya yang terlihat begitu mempesona.


Melihat ekspresi wajah Nan Thian, Zi Zi pun tersenyum bahagia, hingga kecantikannya terlihat semakin cemerlang.


Perlahan lahan Zi Zi kembali maju setindak, lalu sambil berjinjit dan melingkarkan sepasang tangannya di belakang leher Nan Thian.


Dengan sepasang mata saling bertatapan mesra saling melekat seperti ada magnetnya yang saling tarik menarik.


Zi Zi akhirnya maju menempelkan bibirnya dengan lembut, di bibir Nan Thian yang hangat.


Awalnya sedikit kaku, Nan Thian juga sedikit kaget dan terbelalak tak percaya, menatap kearah wajah kekasihnya.


Nan Thian yang awalnya kaku, akhirnya menggerakkan sepasang tangannya memegang kedua sisi wajah Zi Zi dengan lembut.


Lalu membalasnya dengan ciuman lembut dan hangat, melepaskan semua perasaan cintanya yang terpendam.

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka berdua sudah larut dalam kehangatan, dan kemesraan perasaan mereka yang meluap luap.


Tidak tahu berapa lama, mereka melepaskan luapan perasaan mereka berdua.


Hingga Nan Thian merasakan nafas Zi Zi yang memburu seperti kehabisan nafas.


Nan Thian baru melepaskan ciuman hangatnya dari bibir kekasihnya yang sangat menggoda.


Setelah ciuman berakhir, mereka berdua saling bertatapan mesra, lalu sama sama tersenyum bahagia.


Zi Zi dengan wajah merah padam menahan malu, menunduk duluan.


Lalu dia menyusupkan kepalanya, menempel erat di dada pria yang sangat di cintai nya itu.


Zi Zi memeluk punggung Nan Thian yang lebar dengan erat, seolah-olah takut akan segera berakhir kehangatan mereka yang seperti ini.


Di mana kebahagiaan ini, akan segera di rengut darinya.


"Kakak tampan,..bawalah aku pergi dari sini, kita pergi ketempat yang jauh..jauh ke ujung dunia sana.."


"Di mana tidak ada ikatan aturan norma dan segala macam adat istiadat yang akan membatasi cinta dan kebahagiaan kita ."


"Mari kita hidup bersama sebagai pasangan berbahagia hingga rambut memutih ajal tiba.."


ucap Zi Zi pelan sambil membelai lembut punggung kekasihnya.


Mendengar permintaan kekasihnya, Nan Thian pun tersadar kembali ke kenyataan kejam dan pahitnya.


Nan Thian sambil menghela nafas panjang, perlahan-lahan dia mencoba mendorong lembut kedua bahu Zi Zi, agar melepaskan pelukannya menjauh dari nya.


Tapi Zi Zi bertahan di sana, sambil menangis dia menggelengkan kepalanya.


"Jangan kak, jangan sekarang, Zi Zi mohon Zi Zi belum siap.."


"Beri waktu sebentar lagi, hingga Zi Zi merasa siap.."


Nan Thian terpaksa menghentikan gerakannya, dia kembali membalas memeluk Zi Zi dengan erat.


Setelah beberapa saat berlalu, dia baru kembali berkata,


"Zi Zi kamu tahu itu, ini juga berat dan sangat tidak mudah bagi ku.."


"Tapi kita harus menerima kenyataan dan menjalaninya, kita tidak boleh kecewakan dan mempermalukan ayah mu.."


"Aku tidak bisa menerima tawaran mu tadi bukan karena tidak mencintai mu, sebaliknya aku sangat sangat mencintaimu.."


"Tapi aku tidak bisa menorehkan kotoran ke wajah ayah mu, yang telah berbudi pada ku.."

__ADS_1


"Kamu mengertikan maksud ku sayang..?"


ucap Nan Thian pelan dan lembut.


__ADS_2