
Tubuh Fei Yang langsung melesat keatas dengan sangat cepat, Dia langsung menembus awan, yang menutupi bagian atas tebing.
Tubuh Fei Yang meluncur seperti sebatang anak panah, yang di lepaskan dari busurnya.
Tapi semakin lama semakin lambat, setelah melewati gumpalan awan putih, yang menutupi bagian atas tebing.
Luncuran tubuh Fei Yang mulai melambat, tekanan udara di atas membuat laju tubuh Fei Yang semakin melambat, hingga akhirnya berhenti.
Fei Yang terpaksa menggunakan sepasang pedang nya untuk di tancapkan di sisi tebing, yang datar licin tanpa cekungan.
Fei Yang bergelantungan di sepasang ganggang pedangnya, sambil kembali mendongakkan kepalanya keatas.
Tapi yang kelihatan tetapi saja adalah gumpalan awan, dan terpaan angin yang semakin kencang dan hujan salju yang semakin lebat.
Hingga untuk membuka dua matanya, untuk memandang keatas pun terasa sulit.
Fei Yang kembali menghentakkan tubuhnya keatas, dengan meminjam daya dorong dari sisi tebing, menggunakan hentakan kedua tangannya yang bergelantungan di kedua ganggang pedangnya itu.
Tubuhnya kembali melesat keatas, menembus awan putih.
Fei Yang terus melakukan hal itu berulang ulang, tapi dia tetap tidak menemukan lokasi untuk beristirahat.
Maupun berhasil mencapai puncak dari tebing itu, yang tidak di ketahui berapa tingginya.
Yang jelas Fei Yang sudah menggunakan cara itu, untuk terus mendaki keatas sebanyak 10 kali.
Tapi tetap tidak terlihat ada hasilnya.
Malahan semakin keatas, tekanan udara semakin kuat, selain sulit bernafas, yang paling parah adalah hembusan angin yang datangnya seperti badai topan.
Seakan akan hendak menghapus apapun yang di lewatinya.
Di dalam hati Fei Yang, kini mulai mengerti mengapa Kim Tiaw nya, setelah mencoba hingga 3 kali akhirnya menyerah.
Bila di paksakan mereka berdua pasti akan terjatuh ke bawah, terhempas oleh angin yang sangat dahsyat ini.
Melewati 10 kali lompatan dengan cara yang sama, kini tantangan yang di hadapi mulai semakin berat.
Angin yang datang menerjangnya, benar'benar sangat dahsyat, hingga Fei Yang kini kesulitan, menggunakan ilmu ringan tubuhnya untuk terbang keatas.
Fei Yang beberapa kali hampir tersapu angin, saat tubuhnya sedang melayang.
Untungnya kedua pedang di tangannya itu sangat tajam, sehingga sangat membantu Fei Yang untuk bisa bertahan.
__ADS_1
Fei Yang dengan bantuan tenaga dalam yang di salurkan ke kedua kakinya, dia mencoba untuk melubangi batu tebing yang keras.
Agar bisa membentuk lubang kecil menjadi tempat berpijak, perlahan lahan Fei Yang mulai kembali merayap keatas,.sambil terus menantang angin badai yang semakin kuat.
Tiba-tiba saat Fei Yang sedang asyik merayap terdengar suara gemuruh dahsyat jauh diatas sana.
Fei Yang sedikit pucat saat melihat gumpalan salju dan batu gunung jatuh menimpa kearahnya.
Rupanya telah terjadi longsoran dahsyat di atas sana, yang longsoran nya jatuh menimpa kearah Fei Yang.
"Arrggghhh..!!"
Fei Yang berteriak keras, mengalahkan suara gemuruh dahsyat, yang menghempas tubuhnya terjatuh kebawah, bersama dengan longsoran salju yang menimpanya.
Tubuh Fei Yang jatuh melayang turun kebawah, Fei Yang kehilangan kendali, tanpa menemukan tempat berpijak, tubuhnya akan terus melayang kebawah.
Dia hanya bisa membuat tubuhnya seringan mungkin, sehingga tubuhnya yang jatuh melayang ke bawah tidak terlalu cepat.
Tapi longsoran salju yang menimpanya, membuatnya kesulitan menjalankan rencana tersebut.
Tubuhnya terus melayang turun kebawah mengikuti longsoran salju.
Fei Yang harus beberapa kali menepis dan menolak batu batu sebesar perut kerbau bunting.
Tapi kecepatan luncuran tubuh Fei Yang, yang terjatuh kebawah semakin cepat dan sulit di cegah.
Saat Fei Yang hampir pasrah menerima nasib, tubuhnya jatuh kebawah di sambut oleh bebatuan keras di lereng gunung.
Saat itulah Fei Yang tiba tiba merasa punggungnya, mendarat di atas sesuatu yang empuk.
Saat Fei Yang menoleh untuk melihat apa yang datang menyambut tubuhnya itu, ternyata yang datang menyambut tubuhnya adalah Kim Tiaw.
Dia pun menghela nafas lega tiduran di atas punggung Kim Tiaw nya, yang terbang membawanya menuju tempat aman
Kim Tiaw akhirnya mendarat di sebuah hutan, yang terletak di lereng gunung tidak jauh dari kota Lhasa.
Di mana Fei Yang dan Kim Tiaw terakhir berpisah jalan sebelumnya.
Fei Yang melompat ringan turun dari punggung Kim Tiaw nya, lalu dia merangkul erat leher burung besar itu.
"Terimakasih banyak Tiaw Siung, bila kamu tadi tidak datang tepat waktu, "
"Aku saat ini pasti sudah celaka terhempas ke dasar jurang tidak berbatas."
__ADS_1
Fei Yang berbicara sambil terus mengelus bulu leher sahabatnya yang halus itu.
Kim Tiaw mengangguk anggukan kepala dan mengeluarkan suara pelan, seolah olah ingin menunjukkan dia sangat gembira bisa menolong tuannya.
Tak lama kemudian, mereka berdua kembali berpisah, Fei Yang kembali melanjutkan perjalanan nya untuk kembali lagi ke kota Lhasa.
Fei Yang di dalam hati memutuskan tiada cara lain, dia hanya bisa mencoba meminta ijin kepada para lhama di Tibet, agar di ijinkan melewati halaman belakang kuil halilintar, untuk bisa menuju puncak gunung Chomolungma.
Bila tidak di ijinkan, dia terpaksa mencoba menerobos dengan jalan kekerasan, tapi jalan kedua ini hanya di ambil bila dalam keadaan tidak ada pilihan lain, sebagai jalan terakhir saja.
Bila ada jalan lain, Fei Yang tentu akan mencoba untuk tetap berkompromi.
Saat tiba kembali kekota, hari sudah sore, karena daerah pegunungan ini langit lebih cepat gelap.
Fei Yang terpaksa mencari sebuah penginapan untuk melewatkan malam.
Besok pagi pagi dia baru akan berkunjung ke kuil tersebut.
Karena bila dia berkunjung saat ini, akan terasa sangat tidak sopan karena hari sudah malam..
Tanpa kesulitan setelah bertanya tanya pada orang, Fei Yang akhirnya menemukan sebuah penginapan yang cukup besar layak dan bersih.
Setelah melakukan pembayaran deposit dan pelayan mengantar Fei Yang hingga depan kamarnya.
Fei Yang pun masuk kedalam kamar menutup pintu, lalu dia pergi mandi membersihkan tubuhnya.
Setelah bersih segar dan berganti pakaian baru, Fei Yang yang baru saja berjalan menuju kearah pintu kamar.
Hendak keluar dari dalam kamarnya, pergi mencari pelayan penginapan untuk memesan makan malam.
Tiba-tiba pintu kamar Fei Yang di ketuk dari luar.
Dengan heran Fei Yang pun membuka pintu kamar nya.
Begitu pintu kamar terbuka, Fei Yang berdiri bengong, menatap seorang gadis cantik yang sedang menggendong Ku Khim ( kecapi kuno ) ditangannya.
Gadis itu berdiri di hadapannya, sambil menatap dirinya dengan sepasang mata yang polos, dan agak malu-malu.
"Tuan maaf menganggu, kedatangan ku adalah ingin menawarkan pelayanan memainkan alat musik."
"Untuk menghibur tuan, di saat tuan sedang menikmati masakan khas restoran yang merangkap penginapan ini.."
Fei Yang buru buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Tidak perlu nona, aku tidak biasa dan tidak berminat dengan hal seperti itu.."