
Dibelakang kelima orang itu, terlihat seorang pria brewokan berusia kurang lebih 40 tahunan.
Wajahnya gagah, matanya terang menunjukkan kejujuran dan penuh wibawa.
Di sebelahnya ada seorang pemuda berusia 25 tahunan mungkin sebaya Yue Feng.
Perbawaannya santai sepasang matanya mencorong tajam penuh kekuatan.
Dia tidak mengenakan pakaian pengemis, begitu pula si brewok, hanya saja kain yang mereka kenakan adalah kain yang kasar dan tebal.
Fei Yang berjalan menghampiri mereka dan mengangkat kedua tangannya kedepan memberi hormat, dan berkata.
"Saya Li Fei Yang memberi hormat kepada saudara sekalian.."
"Menurut pelayan penginapan, kalian semua datang ingin bertemu dengan ku.."
"Kini saya sudah hadir di sini, kira kira apa yang bisa saya bantu,..?"
Si mata besar sebelah, sejak Fei Yang melangkah keluar dia sudah berbisik-bisik dengan kakek paruh baya yang berdiri di sebelahnya.
Selesai Fei Yang berucap, kelima kakek paruh baya maju ke depan membalas penghormatan Fei Yang dan berkata,
"Kami Wu Pang Sin Kai (Pengemis Sakti Lima Tongkat) datang kemari untuk menuntut penjelasan atas insiden penghinaan terhadap anggota kami ditepi danau Xi Hu."
Fei Yang tersenyum tenang dan berkata,
"Ohh masalah itu, bukannya kemaren sudah beres dengan dia.."
"Apa dia tidak mengembalikan ayam yang telah ku kembalikan, jangan jangan kamu habiskan sendiri,..?"
ucap Fei Yang sambil menunjuk kearah si mata besar sebelah..
Si mata sebelah tidak berkata apa-apa, tapi sepasang matanya menjadi juling saking marahnya.
"Anak muda masalah ayam itu, tentu anggota kami Kong Liang telah mengembalikannya ke kami.."
"Kami datang bukan karena masalah ayam itu, tapi ucapan pelecehan teman anda dan sikap anda yang melindungi dan mempermalukan anggota kami.."
"Jadi hari ini kami datang mohon pengajaran dan petunjuk dari anda, anak muda."
ucap salah satu anggota dari Wu Pang Sin Kai ( Pengemis Sakti Lima Tongkat ).
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kalau memberi petunjuk dan pengajaran aku tidak berani."
"Tapi bila ingin bertarung aku sarankan sebaiknya senior berlima pertimbangkan lagi.."
"Ada apa apa kita bisa bicarakan baik-baik, tak perlu dengan kekerasan.."
"Bagaimana bila Fei Yang mengundang kalian semua makan di restoran ini sebagai permintaan maaf bila ada kesalahpahaman.."
__ADS_1
Kelima orang itu saling menganggukkan kepalanya dan terlihat setuju dengan penawaran tulus dari Fei Yang.
Tapi di saat Fei Yang hampir membereskan masalah perselisihan itu dengan damai.
Tiba-tiba pemuda kurus itu keluar dari dalam penginapan dan berkata,
"Mana ada aturan seperti itu, aku mengambil ayam mereka karena lapar."
"Itu juga bukan sepenuhnya salah ku, karena ayam itu juga bukan milik mereka."
"Ayam itu adalah persembahan dari pengunjung kelenteng untuk dewa bumi.."
"Apa kalian merasa kalian adalah dewa bumi yang pantas disembah dan makan sesajen masyarakat..?"
"Apa kalian bisa kabulkan permintaan mereka, ? sehingga kalian berani menyentuh barang sesajen mereka.."
"Seharusnya ayam sudah di kembalikan masalah selesai, kenapa bawa orang banyak untuk menindas orang.."
"Kalian pikir kalian siapa,? kalian pikir sudah tidak ada hukum negara..?"
"Bila tidak puas kita boleh selesaikan ke pengadilan, hakim kan sudah ada di sediakan negara."
Pemuda kecil itu sangat pandai bicara, sehingga kelima tetua itu hanya bisa menatapnya dengan emosi, tanpa bisa berkata apa-apa.
Fei Yang berulang kali menggelengkan kepalanya, mengedipi mata, memberi kode agar dia diam.
Tapi pemuda itu pura pura tidak tahu dan terus nyerocos sesuka hati, mengeluarkan kata kata pedas.
Si mata besar sebelah melihat kemunculan pemuda kurus itu, dia sudah memandangnya dengan penuh dendam.
Di tambah dengan ucapan nya yang arogan, si juling sudah tidak bisa menahan diri.
"Hiaaatt,..!!"
Dengan berteriak nyaring, dia sudah melompat menyerang pemuda itu dengan tongkat nya yang di hantamkan dari atas kebawah.
Pemuda tubuh kecil sangat terkejut, hingga hanya berdiri dengan wajah pucat, menatap tongkat yang terayun keras kearah kepala nya.
Bila terkena hantaman itu minimal kepalanya akan cedera parah, atau bisa pecah berantakan yang berakhir dengan nyawa melayang.
Di saat tongkat hampir menyentuh kepalanya, tiba tiba sebuah tangan muncul menahannya.
"Prakkk,.. Kreekk,..Kreekk,..Dess,..!"
Tubuh si juling Kong Liang terpental ke belakang, tongkat ditangannya patah menjadi tiga bagian.
Bila punggungnya tidak di tahan oleh si brewok, dia pasti akan terbanting keras membentur lantai.
Melihat kejadian tersebut, di mana Fei Yang sudah turun tangan mencederai anggota mereka.
Kelima kakek itupun langsung bergerak dengan tongkat mereka mengepung dan menyerang Fei Yang.
__ADS_1
"Wutttt,..!!"
Dengan menggunakan sebelah lengannya, Fei Yang menahan kelima tongkat itu menggantung di udara.
Sedangkan tangan kirinya mencengkram kerah baju pemuda itu, dan melemparnya masuk kedalam restoran.
Saat lengan kiri Fei Yang yang di gunakan, untuk menahan kelima tongkat itu di kibaskan.
Kelima Tongkat itu langsung terpental ke belakang, termasuk kelima tetua pengemis juga ikut terdorong mundur dengan tubuh terhuyung-huyung kebelakang.
Tapi mereka yang merasa gengsi, sebagai tetua terhormat dalam satu gebrakan sudah di permalukan di depan hadapan ratusan anggotanya.
Mereka setelah memperbaiki posisi segera terbang kearah Fei Yang dengan menggetarkan tongkat mereka menjadi puluhan bayangan mengurung Fei Yang.
Tapi saat tongkat mereka membentur energi perisai pelindung Fei Yang.
Bayangan tongkat mereka sirna, hanya terlihat tubuh mereka berlima tergantung di udara bersama tongkat mereka.
Sesaat kemudian mereka berlima kembali terpental, dengan tongkat patah menjadi 3 potong.
Terkena hantaman telapak tangan Fei Yang yang terisi tenaga sakti semesta.
Sekali ini si brewok maju kedepan, menggunakan tongkat hijaunya untuk menahan punggung kelima tetua itu, membantu mereka menstabilkan keadaan, agar tidak jatuh terjengkang kebelakang.
Setelah berhasil menstabilkan kondisi mereka,.dia berkata,
"Tetua sekalian tidak apa-apa ?"
"'Tidak apa-apa,.. terimakasih ketua Ma,.."
ucap kelima tetua sambil menjura dan memberi hormat kearah si brewok.
"Bukan masalah, sebaiknya tetua berlima mundur saja dulu, urusan ini serahkan saja pada adik.."
ucap si brewok sopan, meski jabatan nya adalah ketua tapi usia nya memang jauh lebih muda dari kelima tetua itu.
Kelima orang itu mengangguk, memberi hormat sekali lagi kemudian mundur kebelakang.
Kini si brewok yang maju kedepan menghadapi Fei Yang. dan berkata,
"Aku Ma Cin Dao, ketua pengemis Tongkat bambu kuning memohon pengajaran dari anda.."
Fei Yang membalas penghormatan nya dan berkata,
"Bukan aku ingin bermusuhan dengan pihak kalian, aku hanya mempertahan diri saja.."
Si brewok tersenyum dan mengangguk penuh pengertian lalu berkata,
"Tidak bertarung tidak saling kenal, anggap saja ini pertarungan persahabatan.."
"Bersiaplah anak muda..!"
__ADS_1