PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
CELAH DI BAWAH AIR


__ADS_3

Ming Wang mengangguk dan berkata,


Kelihatannya hanya itu caranya, tidak ada jalan lain.


Lalu kedua orang itu mulai sibuk menggali dengan sebuah golok pendek berbentuk aneh, tapi sangat tajam.


Golok kecil itu dapat memapas batu seperti memapas tahu.


Tapi ternyata lubang sempit itu sangat tebal dan panjang celah sempitnya,. setelah menggali hampir satu jam lebih.


Mereka sudah masuk hingga 20 tombak, tetap saja lubang itu masih kecil.


Tidak ada tanda tanda membesar, Xu Da mulai jenuh dan berkata,


"Kak lubang sialan ini entah berapa panjang, bila sampai puluhan Li, mampuslah kita.."


Ming Wang tidak menjawabnya, dia hanya terus menerus menggali dan membuang pecahan batu yang dia gali keluar gua.


Di dalam hati dia juga setuju dengan pendapat Xu Da, yang bukan tidak mungkin dan sangat masuk akal..


Tapi saat ini, dia tidak punya pilihan lain, bila membiarkan Fei Yang kabur begitu saja.


Bagus bila dia mati di dalam celah ini, bila tidak lalu dia berhasil menyelamatkan diri.


Dengan kekuatan yang dia miliki saat ini, kelak pasti akan menjadi penghalang terbesar bagi dia dan bagi Hei Mo Pang, bila ingin menguasai dunia.


Selain itu ada kemungkinan kitab yang mereka incar berada pada Fei Yang dan Yi Han kemungkinan telah meninggal dan mengoper seluruh kekuatannya ke bocah itu.


Bila tidak bagaimana bocah kecil itu, bisa mengalahkan dirinya dan Xu Da dengan sangat mudah.


Semakin berpikir, Ming Wang semakin ngeri dan bersumpah tidak akan melepaskan Fei Yang sebelum melihat bocah itu mampus.


Sementara Xu Da dan Ming Wang sibuk menggali tanpa henti.


Fei Yang sendiri sudah melompat keluar dari lubang sempit, setelah bergerak seperti seekor ular hampir 10 Li.


Fei Yang menggunakan Xie Ku Fa, salah satu ilmu yang pernah di ajarkan Li Sian Sian ditempat pertapaan nya.


Untungnya ilmu ini di kuasainya dengan cukup baik, sehingga kini sangat membantunya, dalam meloloskan diri dari kejaran Ming Wang.


Sambil meneliti keadaan sekitarnya Fei Yang bergumam


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku.?"


"Kenapa ketiga macam tenaga dalam tubuh ku, kadang muncul kadang hilang.?"


"Padahal aku sudah mengerahkan nya sesuai aturan dan pelafalan yang di ajarkan ketiga guru ku itu."


"Tapi tetap saja sulit mengendalikan ketiga tenaga, yang kadang muncul kadang hilang."

__ADS_1


"Bila ada waktu aku harus mencari tahu dan mendalaminya lagi, kemungkinan petunjuknya, bila bukan dari buku peninggalan Wu Ti Sin Tong, tentu dari buku kitab Tanpa Tanding."


batin Fei Yang.


Sambil melanjutkan langkahnya kedepan.


Jalan yang remang remang itu, semakin lama kembali menyempit.


Hingga akhirnya Fei Yang kembali menemukan jalan buntu.


"Ahh sialan apakah aku nasibnya akan berhenti sampai di sini saja..?"


"Ini benar-benar celaka, bila kedua orang itu juga menyusul sampai kemari tamatlah aku .."


Fei Yang terus meraba kesana kemari, dalam keadaan gelap gulita.


Tapi sepanjang dinding yang dia temui, tidak ada satupun jalan yang berhasil dia temukan.


Fei Yang yang kehabisan akal, akhirnya menyalakan pemantik api dari sebuah tabung kecil.


Sehingga ruangan yang tadinya gelap gulita, kini sudah terang dan bisa terlihat dengan jelas.


Fei Yang tadinya sengaja menyimpan pemantik api tersebut, Dia tidak mau menggunakannya.


Karena takut menarik perhatian Xu Da dan Ming Wang yang pasti sedang mengejarnya.


Tapi kini melihat situasi, dimana semua tempat adalah jalan buntu, dengan pasrah Fei Yang pun memutuskan untuk menyalakan pemantiknya, agar bisa melihat dengan jelas situasi ruangan tempat dia berada saat ini.


Di mana kini semua terlihat jelas, seluruh ruangan tersebut adalah terdiri dari Dinding batu karang yang keras dan padat tanpa celah.


Fei Yang berjalan berkeliling sambil meraba raba dinding penghujung jalan tersebut.


Di bagian bawah sebelah kanan ada sebuah aliran sungai dangkal, setinggi tumit kaki.


Selain itu tidak ada hal lain.


Fei Yang sempat memeriksa Langit langit ruangan tersebut, tapi hasilnya tetap nihil.


Bahkan cahaya pun sulit masuk, apalagi yang bisa di harapkan dengan langit langit batu padat seperti itu.


Fei Yang akhirnya terduduk lemas bersandarkan dinding batu, yang padat keras dan dingin.


Melihat ruangan sekitarnya Fei Yang menghela nafas dan bergumam sendiri.


"Setidaknya aku masih di beri air minum, sehingga tidak perlu mati kehausan.."


Baru selesai Fei Yang bergumam, dua ekor tikus tanah, lari berkejaran, kemudian melompat kedalam air dangkal semata kaki tersebut.


Mereka berlarian berkejaran di atas aliran air, yang mengalir menuju daerah yang lebih rendah di pojok kanan.

__ADS_1


Sesaat kemudian kedua tikus itu pun menghilang dan tidak terlihat lagi, juga tidak muncul kembali.


"Loh kemana dua ekor tikus itu..?"


batin Fei Yang penuh tanda tanya, dan terus menatap kearah aliran air di pojok kanan.


Tapi setelah menatap sekian lama kedua ekor tikus itu tak kunjung keluar dari arah mereka menghilang tadi.


Fei Yang menjadi curiga, sambil mengangkat api penerangannya, Fei Yang bangun dari duduknya.


Lalu dia pergi melakukan pengecekan ke sudut gua tersebut.


Tapi sesampai di sana, selain air dengan dasar hitam pekat tidak ada lagi hal lain nya.


Fei Yang mencoba berjalan di atas aliran air itu, hingga area paling pojok yang di batasi oleh dinding batu .


Fei Yang menggunakan kakinya untuk meraba raba bagian sudut dinding yang terendam air.


Fei Yang dengan terkejut menemukan bahwa bagian sudut di bawah aliran air, ternyata ada celahnya.


Fei Yang dengan hati hati menjulurkan kakinya masuk kedalam celah itu.


Ternyata celah itu dasarnya di bawah dinding tebing sangat dalam.


Hingga sebatas pangkal paha pun belum ketemu dasarnya.


Hati Fei Yang mulai gembira dan penasaran, sambil duduk di atas aliran air itu.


Fei Yang mencoba merasakan sepanjang apa dinding tebing itu, menutupi celah dalam itu.


Hasilnya Fei Yang sedikit kecewa, ternyata dinding tebing itu sangat tebal, dan tidak tahu berapa tebal dinding itu.


Bila pun dia masuk kedalam celah, bila sepanjang cekungan tak berdasar itu di penuhi air dengan bagian atas adalah dinding tebal.


Dia pasti akan kehabisan nafas, sebelum menemukan jalan keluar .


Tapi bila tidak mencoba, dia tidak akan tahu bisa atau tidaknya..


Di sini menunggu diam ketika kedua orang itu tiba.


Dia pasti akan di buat lebih menderita daripada mati, bila sampai terjatuh ketangan manusia iblis itu.


"Aku tadi melihat dua ekor tikus itu berani masuk kedalam, berarti di dalam sana pasti ada jalannya."


batin Fei Yang.


"Bila tidak, tidak mungkin kedua tikus itu berani masuk kedalam sana.."


batin Fei Yang meyakinkan dirinya sendiri..

__ADS_1


"Mati hidup serahkan pada yang di atas, setidaknya aku harus berusaha dan mencobanya"


__ADS_2