
Xue Lian dengan penasaran, buru buru membantu Fei Yang berdiri.
Lalu dia bergerak dengan langkah sedikit terburu buru, memapah Fei Yang menuju pondok orang tuanya, yang terletak bersebelahan dengan pondok mereka berdua.
Fei Yang menemani istrinya hingga tiba di dalam pondok.
"Di mana mereka ?"
tanya Xue Lian, sambil menatap kearah suaminya.
Karena begitu masuk kedalam pondok, meski keadaan di dalam sudah bersih rapi, tidak terlihat berantakan seperti saat Fei Yang masuk kemaren.
Tapi ruangan itu kini terlihat sepi dan lenggang, tidak ada tanda tanda ada penghuninya.
Fei Yang menunjuk kearah kamar kedua orang tua nya dan berkata,
"Mereka ada di dalam sana.."
Xue Lian dengan jantung berdebar-debar, dia membimbing tangan Fei Yang, mengikutinya melangkah menuju kamar kedua orangtuanya.
Begitu pintu kamar terbuka, melihat keadaan di dalam sana, kosong melompong tidak ada siapa siapa.
Hanya terlihat diatas kasur pembaringan, ada dua tumpuk mutiara putih berkilauan.
Sedangkan di belakang kasur pembaringan, diatas dinding sana terlihat ada sederetan tulisan halus indah dan rapi, berdampingan dengan sederet tulisan, yang juga indah tapi garisnya lebih kuat dan tegas.
Begitu melihat keadaan tersebut sadarlah Xue Lian, itu adalah pesan dari ibu dan ayahnya.
Tulisan yang halus indah itu tentu berisi pesan dari ibunya, sedangkan yang bertulisan garis kuat itu tentu dari ayahnya.
Xue Lian langsung terjatuh bertekuk lutut di sana dan bergumam dengan suara sedih,
"Ayah ibu,.. Xue Lian tidak berbakti, Xue Lian egois."
"Sampai kalian berdua telah pergi begitu lama, Xue Lian baru tahu sekarang.."
"Hu..hu...hu..hu..!"
"Ayah ibu maafkan lah Xue Lian..putri kalian yang tidak berbakti ini.."
ucap Xue Lian menyesali dirinya sendiri dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya.."
Fei Yang yang ikut berlutut di sebelah nya, memeluk Xue Lian kedalam pelukannya dan berkata,
"Lian Er kamu jangan terlalu menyesali diri sendiri, bacalah pesan itu, kamu akan mengerti dengan sendirinya.."
"Ini semua adalah keputusan mereka sendiri, tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu,.."
ucap Fei Yang sambil membelai kepala istrinya dengan lembut.
Melihat istrinya masih sedih, masih menangis di dadanya dengan sabar Fei Yang membacakan satu persatu pesan kedua orang tua Xue Lian.
"Putri ku, ibu sangat gembira dan berbahagia, melihat mu tumbuh besar, hingga menikah dan punya keluarga sendiri."
"Fei Yang adalah suami yang sangat baik dan sempurna, kamu tidak boleh mengecewakan nya.."
"Jadilah istri yang baik, bila belum bisa, harus bertanya dan belajar, jangan putus asa.."
"Ibu yakin kamu pasti bisa, jangan malas nak, juga jangan putus asa, kamu harus terus mencobanya, hingga bisa."
"Hanya dengan melihat mu bisa menjadi seorang istri dan ibu yang sempurna bagi suami dan anak mu."
"Rasa bersalah ibu yang tidak menjadi ibu yang baik bagi mu."
"Di mana ibu tidak membimbing dan mengajari mu dari kecil hingga dewasa, rasa bersalah itu, baru bisa sedikit berkurang.."
"Kamu mengerti kan maksud ibu.."
"Ingat baik baik pesan ibu ini, sebelum kamu nanti menyesal harus kehilangan dia, karena kamu tidak mau belajar dan malas berusaha.."
"Buatlah kami semua bangga dengan mu nak.."
"Mengenai kepergian kami, kamu jangan bersedih dan menyesali,apalagi menyalahkan diri, jangan nak.."
"Kami memilih jalan ini, karena kami ingin berpindah ke tingkatan alam yang lebih tinggi.."
"Hanya dengan melalui berbagai cobaan baru di sana.."
"Kami baru bisa berkumpul kembali dengan leluhur kita Dewa Fu Si dan Dewi Nu Wa.."
"Sebenarnya mereka berdua lah yang datang menemui kami di dalam mimpi.."
"Mereka ingin kami melepaskan dunia ini, ikut dengan mereka.."
"Oleh karenanya mereka datang untuk mengajari dan membimbing kami, agar kami bisa naik ke tingkatan alam yang lebih tinggi lagi.."
"Jadi ini murni keputusan kami, tidak ada hubungannya dengan mu.."
"Satu hal yang harus kamu tahu, kami sangat menyayangi mu, berpisah dengan mu kami juga tidak mudah.."
"Tapi ini adalah sebuah pilihan, kami sudah memilih, maka segala konsekwensinya harus di terima.."
"Jaga diri kalian baik baik, bila waktunya tiba, kami juga akan datang menjemput kalian ikut dengan kami ke dunia yang baru sana.."
"Ibu menyayangi kalian.."
Sampai di sini selesai lah Fei Yang membaca pesan dari ibu mertua nya.
Xue Lian sambil menangis berkata pelan,
"Sayang setelah ini, tolong bantu aku, ajari aku masak satu dua macam saja hingga sempurna.."
"Aku ingin menyembahyangi mereka dengan masakan tangan ku sendiri.."
"Aku ingin mereka pergi dengan tenang dan bangga dengan ku.."
ucap Xue Lian di sela Isak tangisnya.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Kapan pun kamu mau aku siap untuk itu.."
"Tinggal katakan saja, apa yang mereka paling suka, aku akan membantu mu sampai bisa, menyiapkan nya buat mereka.."
ucap Fei Yang yakin.
Xue Lian mengangguk kecil, tidak menjawabnya dia masih belum sepenuhnya lepas dari kesedihannya.
Fei Yang kembali membacakan pesan berikutnya dari ayah mertua nya, yang agak singkat pesannya.
"Lian Er ayah tidak tahu mau bilang apa, hampir semua pesan ayah sudah di sampaikan ibu mu.."
"Sebenarnya sangat banyak, yang melintas di dalam pikiran ayah, ingin ayah sampaikan pada mu..'
"Tapi tiba di sini, ayah jadi lupa semua.."
"Maafkan ayah nak, ayah bukan ayah yang baik..."
"Ayah terlalu larut dalam dendam masa lalu, sehingga berdosa pada ibu mu juga pada mu.."
"Maafkan ayah nak, ayah menyayangi mu, jagalah diri kalian baik baik.."
Xue Lian mengangkat kepalanya menatap suaminya dan berkata,
"Hanya itu..?"
Fei Yang sambil menahan senyum berkata,
"Ya emang cuma itu.."
"Apa kamu berharap, aku ikut nambahin di sana..?"
"Aduhhh..!"
jerit Fei Yang tertahan.
Karena Xue Lian dengan kesal sudah mengigit daun telinganya.
Tapi sesaat kemudian Xue Lian pun tersenyum lebar dan berkata,
"Ayo kita keluar, dasar tidak pernah serius.."
"Jangan asal bicara di sini.."
Fei Yang sambil tersenyum sedikit meringis memegangi daun telinga nya yang agak perih.
Dia mengikuti gandengan tangan Xue Lian yang membantunya meninggalkan pondok orang tuanya.
Baru saja mereka berdua keluar dari dalam pondok.
Terlihat di depan halaman sana, Kim Tiaw baru saja mendarat di sana.
Zi Zi dan Sun Er langsung buru buru melompat turun dari punggung Kim Tiaw.
Mereka berdua sambil tertawa gembira berlari ke arah Fei Yang dan Xue Lian.
"Ayah,..! Ibu...!"
__ADS_1
teriak Zi Zi nyaring, dia terlihat berlari sambil membentangkan sepasang tangan lebar lebar, sambil tersenyum gembira.
Xue Lian maju berjongkok, memeluk lalu menggendong Zi Zi kedalam pelukannya.
"Putri ku..sayang.."
ucap Xue Lian sambil menciumi pipi putrinya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang.
Fei Yang melangkah pelan maju menghampiri mereka berdua sambil tersenyum lebar.
Sun Er yang menyusul datang di belakang Zi Zi ikut tersenyum bahagia dan berkata,
"Paman Bibi,. syukurlah akhirnya kalian berdua sehat juga.."
"Sun er kemarilah ..,"
Ucap Xue Lian lembut.
Dia kemudian menarik Sun Er kedalam pelukannya juga.
Xue Lian merasa kasihan dengan nasib Sun Er, masih begitu kecil sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tua nya.
Jadi di dalam hati dia sudah memutuskan, akan memberikan kasih sayang yang sama menyayangi Sun er seperti putranya sendiri.
Sun Er awalnya ragu, tapi akhirnya dia balas memeluk Xue Lian dengan hangat.
Dari pelukan hangat penuh kasih sayang Xue Lian, Sun er kembali menemukan kehangatan kasih sayang, yang selama ini di berikan oleh Ibu tirinya Sian Sian pada dirinya.
Sun er memang tidak pernah menikmati kasih sayang dari ibu kandungnya.
Karena anak malang ini begitu lahir, ibunya langsung meninggal.
Bahkan tidak sempat melihat mencium atau menggendong nya.
"Ibu apa ibu ada lihat pondok itu, sudah bersihkan ?"
"Aku, Sun ke ke. dan paman Lung yang membersihkan nya ? keren kan..?"
ucap Zi Zi menyerocos dengan penuh semangat.
"Terimakasih banyak ya kalian semuanya, kakek nenek pasti bangga dengan kalian ."
ucap Xue Lian penuh haru.
"Kakek nenek,..? tapi ibu, Zi Zi tidak melihat ada siapapun di sana..?"
tanya Zi Zi bingung.
Xue Lian sambil tersenyum sedih berkata,
"Kakek dan Nenek mu telah pergi kealam lain, mutiara mutiara itu adalah kenang kenangan dari mereka untuk kita.."
Zi Zi meski masih bingung dan kurang paham dengan penjelasan ibunya.
Tapi dia tetap menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Xue Lian tahu putrinya masih terlalu kecil untuk menangkap dan mengerti penjelasannya.
Jadi dia juga tidak memaksanya.
"Sayang kamu jangan menggendong Zi Zi lama lama, ingat kandungan mu.."
ucap Fei Yang mengingatkan.
Xue Lian tersenyum dan mengangguk.
Lalu dia menurunkan Zi Zi ke bawah dan berkata,
"Zi Zi, Sun Er, ..kalian pergilah bermain dulu.."
"Ibu dan ayah mu mau ke dapur menyiapkan makanan buat kalian.."
ucap Xue Lian sambil membelai lembut kepala kedua anak itu.
"Tidak ibu, Zi Zi gak mau..biara ayah saja yang masak.."
ucap Zi Zi cepat dengan mimik wajah aneh.
Karena dia paling takut dan agak trauma, bila di suruh makan masakan ibunya.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Zi Zi jangan takut, ayah yang akan dampingi ibu masak, ayah jamin pasti enak..ok..?"
"Engg,.. baiklah tapi ayah harus janji ya..?"
ucap Zi Zi sambil mengacungkan jari kelingkingnya kedepan.
Lalu tinju tangan mereka yang besar kecil saling menempel diakhiri dengan jari jempol mereka saling menempel.
Itu adalah tanda janji yang di tiru Zi Zi dan Fei Yang dari Xue Lian.
Sewaktu dulu Fei Yang dan Xue Lian masih belum menjadi suami istri, mereka juga sering mengikat janji dengan cara itu.
Hal itu tak pernah lenyap, terbawa hingga mereka punya anak, anak mereka lah yang lanjutkan tradisi ikat janji dengan cara itu.
Selesai mengikat janji dengan ayahnya, Zi Zi lalu menarik tangan Sun er meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua sambil tertawa riang berlarian kejar kejaran sambil tertawa gembira.
Padang rumput pendek luas itu menjadi saksi kegembiraan kedua bocah itu.
Sementara itu Lung Er dan Kim Tiaw selalu tidak jauh dari kedua anak itu.
Fei Yang dan Xue Lian sambil bergandengan tangan berjalan menuju dapur, yang terletak di halaman belakang pondok tempat tinggal mereka.
Saat tiba di sana, Fei Yang berkata pelan sambil menatap istrinya.
"Kamu ingin belajar masak apa hari ini..?"
Xue Lian berpikir sejenak lalu berkata,
"Di sini bukan pulau ikan, bahan tersedia hanya ikan sayuran dan ayah hutan saja.."
"Kita mulai dengan ayam bakar ala pengemis, ikan goreng saos asam manis dan Cah kangkung saja gimana..?"
"Boleh, tapi kira harus pergi mencari bahan bahan nya dulu."
Ucap Fei Yang sambil tersenyum lembut.
"Baiklah tuliskan saja, apa bahan bahannya di sini, biar aku pergi mencarinya, kamu tunggu di sini saja.."
ucap Xue Lian sambil meletakkan kertas dan pensil bulu diatas meja dapur.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku belum bisa membantu mu mendapatkan bahannya, tapi aku masih sanggup menemani mu mendapatkan nya.."
"Jadi ini tidak perlu, kita pergi sama sama saja."
ucap Fei Yang serius.
Xue Lian tahu Fei Yang tidak tenang membiarkan dirinya pergi sendiri.
Dia pun tidak menolaknya dan berkata,
"Baiklah ayo kita pergi sama sama."
Sesaat kemudian terlihat Fei Yang menemani istrinya pergi ke kolam air terjun menangkap ikan.
Lalu Fei Yang mengajari Xue Lian memotong dan membersihkan isi perut dan insang ikan.
Hal ini tidak sulit bagi Xue Lian, karena dia adalah seorang ahli pedang handal.
Sebentar saja dia sudah mahir, mereka menangkap dan membersihkan 10 ekor ikan, agak banyak dari biasanya..
Selain karena jumlah orang nya banyak, ikan ikan itu juga akan menjadi cadangan, bila masakan Xue Lian nanti gagal.
Selesai mendapatkan ikan, Fei Yang memberi petunjuk, di mana mereka bisa mendapatkan bahan bahan bumbu dapur, untuk melumuri ikan itu agar tidak berbau amis.
Selesai menyiapkan ikan yang sudah di lumuri bahan dapur agar tidak amis.
Semua bahan itu di tutupi dengan rapi, menghindari kejadian seperti dulu, semua makanan mereka di habisi Saga Sagi.
Sambil menunggu bumbu meresap, Fei Yang dan Xue Lian kini masuk ke dalam hutan menangkap 10 ekor ayam hutan.
Di sini Fei Yang juga mengajari Xue Lian cara menyembelih ayam, menampung darah ayam di sebuah wadah mangkuk yang diberi air garam.
Sehingga tidak lama kemudian darah ayam itu berubah menjadi darah beku, mirip potongan gula merah bentuknya.
Fei Yang juga mengajarkan Xue Lian membersihkan isi perut ayam, mengambil bagian hati dan ampelanya sebagai bahan untuk memasak yang lain..
Setelah ayam bersih, Fei Yang mulai memberi petunjuk kepada istrinya bahan bumbu dapur apa yang harus di masukkan kedalam tubuh ayam, dan bahan mana yang harus di taburkan di sisi luar tubuh ayam.
Lalu semua di bungkus dengan daun pisang rapat rapat.
Baru di lapisi dengan tanah lempung di luarnya, setelah itu di bawah tungku kayu bakar.
__ADS_1
Ke sepuluh ayam yang sudah di bungkus tanah lempung, semua di masukkan kedalam lubang di bawah tumpukan kayu bakar yang di susun diatasnya.
Setelah api di nyalakan, fei yang membiarkan api di tungku menyala besar dahulu.
Baru kuali hitam besar nya dia taruh diatas tungku.
"Sayang api harus di biarkan besar dan panas, baru kuali di taruh di atas nya.."
"Biarkan api memanaskan kuali hingga berasap, minyak baru di masukkan."
"Lalu biarkan minyak panas mengeluarkan asap, baru kita gunakan.."
"Ini untuk mencegah ikan kita nempel di kuali dagingnya.."
"Nah sambil menunggu minyak di kuali panas, kita bisa menyiapkan ikan yang akan di goreng."
"Tiriskan ikannya seperti ini, dengan memegang ujung ekornya seperti ini.."
"Biarkan ikan nya kering tidak ada airnya lagi, kemudian kita bawa ke kuali saat minyaknya mulai panas ."
"Ini untuk mencegah minyak panas meletup keatas karena terkena air."
Fei Yang kemudian menggunakan tangan nya yang satu memegang ujung ekor ikan.
Tangannya yang lain memegang Cedokan Sop untung mengambil minyak panas dalam penggorengan.
Untuk dia siramkan ke ikan nya, Fei Yang terus menyiramkan minyak panas itu seperti memandikan Ikan.
Hingga ikan terlihat sedikit menguning, setengah matang, baru ikan itu di masukkan kedalam kuali sepenuh nya.
Hal ini di lakukan dengan pelan pelan dari ujung kepala masuk, hingga akhirnya ujung ekor baru di turunkan.
"Sayang perhatikan saat ikan mulai keluar wanginya, berarti bagian bawahnya mulai matang."
"Balikkan ikannya, seperti ini.."
ucap Fei Yang memberi petunjuk.
"Saat ikan terlihat berubah warna kuning keemasan, langsung di angkat, jangan biarkan dia jadi warna coklat, atau malah jadi hitam.."
ucap Fei Yang mengingatkan.
Xue Lian mengangguk, dia terus memperhatikan mengingatnya dan mendengarkan dengan serius.
Untuk ikan kedua dan selanjutnya, Fei Yang tidak lagi mengurusnya, dia membiarkan Xue Lian mencobanya sendiri.
Dia hanya menemani dan mengawasinya dari samping sambil memberikan petunjuk dengan sabar.
Ikan kedua saat sedang di mandikan terlepas dari pegangan tangan Xue Lian.
Sehingga minyak panas muncrat kemana mana, untungnya Xue Lian kebal terlindungi hawa es semesta yang bergerak otomatis melindunginya.
Jadi dia masih bisa tertawa tawa, meski awalnya sedikit kaget.
Untuk itu Fei Yang terpaksa membantu memperbaiki nya hingga ikan goreng itu matang.
Baru yang ketiga di biarkan ke Xue Lian mengulanginya.
Sekali ini memandikan ikan lancar, tapi Xue Lian terlambat membalik ikan.
Sehingga bagian atas bagus, bagian bawah hitam.
Tapi Fei Yang dengan sabar menemani dan memberi semangat ke Xue Lian akhirnya ikan ke 5 keatas semuanya berhasil sukses dengan baik.
Setelah selesai menggoreng ikan, kini giliran untuk membuat saus asam manisnya.
Di sini Xue Lian mencoba hingga 7 kali baru rasa saosnya memasuki standar.
Tapi saat mencoba ke yang 8 dia kembali gagal.
Tapi Fei Yang tetap dengan sabar menemani dan mengajarinya, hingga 90% memenuhi standar.
Baru proses pembuatan saos di hentikan.
Mereka melanjutkan ke proses masak sayur kangkung.
Bahan bahan seperti darah beku yang sudah di iris iris juga hati ampela yang sudah di iris kecil kecil masuk dahulu.
Terakhir baru kangkung, cuma sebentar masaknya, langsung di angkat oleh Fei Yang.
Setelah itu dia baru siapkan sedikit saos untuk di siramkan diatas kangkungnya.
Disini meski terlihat sederhana, tapi hampir 10 kali Xue Lian mencoba nya, hasilnya baru bisa masuk standar Indra perasa Fei Yang.
Setelah semuanya siap dan tersaji diatas meja, Xue Lian terlihat terduduk.lemas bermandi keringat.
Dia terlihat sangat kelelahan, seperti orang habis berlari 20 kali lapangan sepak bola.
"Ternyata memasak begitu melelahkan.."
"Lebih capek daripada berlatih ilmu silat..aku heran kamu bisa menyukainya.."
ucap Xue Lian mengomel panjang pendek karena dia benar benar letih.
Dia yang biasanya Aling bernafsu saat masakan tersaji, kini dia malah terlihat banyak minum ketimbang makan.
Belum makan melihat hasil masakan nya sendiri dia sudah kenyang
Akhirnya dia hanya duduk memperhatikan putrinya keponakannya, tabib Hua dan cucunya makan dengan lahap.
Fei Yang sendiri hanya makan secukupnya, setelah itu dia langsung menemani istrinya yang kelelahan kembali kedalam kamar.
Begitu melihat kasur, Xue Lian bagaikan ikan bertemu samudra.
Dia langsung jatuh terlentang di sana, membiarkan Fei Yang memijat mijat punggung lengan dan kakinya.
Tidak sampai 5 menit dia sudah tidur mendengkur dengan posisi badan tertelungkup diatas kasur.
Ranjang yang muat dua orang kini hanya muat dirinya saja.
Fei Yang yang khawatir posisi itu menindih dan menganggu janin di dalam kandungan Xue Lian.
Dengan hati hati, dia membantu istrinya untuk tidur dengan posisi yang lebih tepat.
Setelah menyelimutinya, Fei Yang pindah duduk di kursi santai dekat jendela dia duduk setengah berbaring hingga tertidur di sana.
Di dalam mimpinya Fei Yang bermimpi bertemu dengan Wu Ming Lao Jen yang pernah menghadiahinya sepasang pedang api dan es padanya.
"Guru ..!"
panggil Fei Yang sambil menjatuhkan diri berlutut di hadapan kakek berjanggut putih itu, dengan sikap penuh hormat.
"Murid ku, berdirilah.."
"Kamu dengarkan baik baik, hidup mu kedepannya akan sangat berat.."
"Berbagai cobaan akan menimpa mu, secara bertubi tubi hingga kamu akan lelah menjalani hidup ini.."
"Tapi guru katakan pada mu, jangan pernah menyerah, apalagi putus asa.."
"Jalani dengan berani, pada akhirnya sesuatu yang indah akan bisa kamu raih.."
Fei Yang mendengarkan dengan kepala tertunduk, tanpa berani membantah.
Baru setelah gurunya selesai berkata, dengan penuh penasaran Fei Yang berkata,
"Guru cobaan apa yang akan murid alami ? bolehkah guru memberikan petunjuk pada murid.."
Fei Yang bertanya sambil bersujud dan merangkapkan sepasang tangannya di depan dada.
Fei Yang menatap kearah gurunya dengan sikap dan tatapan mata penuh rasa hormat.
Wu Ming Lau Jen tersenyum lembut dan berkata,
"Rahasia langit tidak boleh di buka.."
"Kelak kamu akan tahu semuanya, kamu hanya perlu mengingat pesan ku tadi.."
"Ohh ya Fei Yang di puncak gunung Yu Ni Feng salah satu puncak gunung di Hua San."
"Di sana ada sebuah Gua kolam air panas yang bisa membantu mu memulihkan keadaan mu.."
"Kamu boleh mencoba pindah tinggal di sana, kamu tidak boleh terlalu lama tinggal di lembah ini.."
"Hawa lembah ini yang mengandung unsur Yin tinggi bisa mencelakai mu.."
ucap Wu Ming Lao Jen sambil tersenyum lembut.
Fei Yang mengangguk penuh hormat dan berkata,
"Terimakasih banyak guru atas petunjuk nya.."
"Guru bila murid suatu hari ingin bertemu dengan guru, di mana murid bisa menemui guru..?"
tanya Guo Yun ingin tahu.
Wu Ming Lau Jen sambil tersenyum, dia menepuk kedua pundak Fei Yang dengan sepasang tangan nya dan berkata,
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa.."
Lalu Wu Ming Lau Jen sudah menghilang dari sana, hanya tersisa suara senandung nya saja, yang terdengar jelas.