PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MEMASUKI KOTA CHANG AN


__ADS_3

Melihat rombongan nya sudah bergerak melewati gerbang Wu Kuan.


Nan Thian sambil mencengkram leher Pimpinan pasukan itu, dia menyeretnya mundur.


Untuk melewati gerbang menyusul dari belakang.


Pasukan penjaga tidak ada yang berani bergerak, mereka hanya bersiaga dengan tombak dan tameng di tangan.


Begitu pula dengan sisa pasukan panah di atas tembok yang selamat dari terjangan Naga Emas.


Mereka juga hanya mengarahkan anak panah mereka yang terpentang siap di lepaskan kearah Nan Thian.


Tapi tidak berani melepaskan anak panahnya menuju sasaran tembak.


Nan Thian sambil melangkah mundur berkata,


"Kamu sangat fasih berbahasa Han..."


"Kamu bukan orang Mongol..?"


"Bukan tuan pendekar,, saya sama dengan anda, saya orang Han juga.."


"Saya..."


Belum selesai ucapan nya, Nan Thian yang marah sudah mengeraskan cengkraman nya.


"Kreekk..!"


"Kamu tidak pantas hidup, anjing penghianat, yang hanya bisa menindas rakyat sebangsa setanah air dengan mu.."


ucap Nan Thian sambil melempar jasad pimpinan pasukan.


Kearah pasukan Mongol yang sedang mengawasinya dengan siaga penuh di jarak tertentu.


Begitu tubuh itu dilempar, Nan Thian sudah melesat meninggalkan tempat itu.


"Brakkkk...!"


Dengan dorongan sepasang telapak pukulan angin kosong.


Nan Thian memukul pintu gerbang yang berat dengan sangat kuat.


Hingga pintu gerbang menutup dari dalam, sehingga pasukan pengepung tertahan di luar gerbang..


"Serrrrrrr...!"


Serrrrrrr...!"


Serrrrrrr...!"


Serrrrrrr...!"


Panah berhamburan di lepaskan kearah Nan Thian begitu tubuh pimpinan mereka di lempar oleh Nan Thian.


Tapi panah panah itu hanya menancap di atas tanah


Di mana Nan Thian sudah tidak terlihat lagi di sana.


Setelah pintu gerbang tertutup para pasukan di luar sana buru buru beramai-ramai mendorong paksa pintu gerbang hingga kembali terbuka.


Lalu mereka berhamburan berlari masuk melewati gerbang, tapi sampai di sana.


Mereka sudah tidak melihat Nan Thian dan kereta kuda nya lagi.


Hanya tersisa rakyat biasa yang masih terlihat sedang bergerak meninggalkan tempat itu

__ADS_1


Nan Thian sendiri saat itu sudah menggantikan Sun Er kereta nya meninggalkan tempat itu.


Gadis cantik berbaju merah yang bernama Kim Hong, setelah luka nya di obati oleh oleh Siau Yen di bantu oleh Siu Lian dan Zi Zi.


Dia buru buru memberi hormat dan berkata,


"Aku Kim Hong Murid Xue San Pai mengucapkan terimakasih atas pertolongan kalian semuanya.."


"Budi besar ini, seumur hidup Kim Hong tidak akan lupa.."


"Tak perlu sungkan Hong Mei mei sebagai sesama orang dunia persilatan, tolong menolong sudah seharusnya.."


ucap Siu Lian sambil membalas penghormatan Kim Hong.


Siau Yen juga mengangguk membenarkan dan ikut membalas memberi hormat.


Zi Zi sambil tersenyum gembira, memegang tangan Kim Hong dan berkata dengan wajah polos.


"Kakak cantik,..Zi Zi sangat senang punya teman baru secantik dan sehebat kakak.."


"Kakak ingin pergi kemana..?"


Kim Hong ikut terbawa suasana ceria dan sikap hangat tulus yang di tunjukkan oleh Zi Zi.


Sambil tersenyum lembut yang membuatnya terlihat semakin cantik.


Gadis itu dengan lembut membelai kepala Zi Zi dan berkata,


"Kakak juga senang punya teman seperti kalian semuanya.."


"Kakak ingin berangkat ke Hua San mengikuti turnamen mewakili Xue San Pai.."


"Kakak berselisih jalan dengan rombongan guru dari Xue San.."


Zi Zi tersenyum gembira dan berkata,


"Asyik kita bisa melakukan perjalanan bersama, kami juga sedang ingin pergi ke Hua San.."


"Kakak tampan di depan yang akan mengantar kami kesana.."


ucap Zi Zi polos.


Mendengar ucapan Zi Zi Kim Hong pun sadar, dia belum mengucapkan terima kasih nya, ke pemuda tampan dan berkemampuan tinggi, yang telah menolongnya tadi.


Bila tadi pemuda tampan dan sakti itu tidak turun tangan, entah bagaimana nasibnya kini.


Di tangan para pasukan berwajah manusia berhati binatang itu.


Dengan wajah sedikit tersipu malu, Kim Hong pun memaksakan diri bergerak mendekati pintu kereta.


Menyingkap tirai penutup, menatap kearah bayangan punggung Nan Thian yang lebar dan berkata,


"Kak terimakasih atas pertolongannya tadi.."


"Selain mengucapkan terimakasih, Kim Hong sudah tidak tahu harus bagaimana membalas Budi baik kakak..?"


Tanpa menoleh Nan Thian berkata,


"Nona Hong tak perlu sungkan, sebagai sesama saling menolong adalah wajar.."


"Jangan terlalu di ambil hati, lebih baik Nona Hong beristirahat sambil merawat luka agar cepat pulih.."


"Terimakasih kak, Kim Hong jadi ikut merepotkan dan menganggu perjalanan kakak.."


ucap Kim Hong tidak enak hati.

__ADS_1


Nan Thian menoleh menatap Kim Hong sambil tersenyum lembut dan berkata,


"Tidak perlu sungkan Nona Hong, tidak ada yang di repotkan di sini.."


"Kami semua kebetulan juga sedang menuju tempat yang sama, jadi kita sejalan..'


Kim Hong kini baru sempet memperhatikan dari dekat wajah penolongnya yang tampan.


Senyum Nan Thian langsung membuat wajah Kim Hong tersipu merah.


Jantung nya serasa jungkir balik, melihat senyum lembut tulus yang di tunjukkan oleh Nan Thian.


Untungnya, hal itu tidak berlangsung lama, Nan Thian hanya sebentar menoleh kebelakang.


Dia sudah kembali menatap kearah depan dan berkata,


"Beristirahatlah di dalam Nona Hong, perjalanan menuju Chang An masih jauh.."


"Ini bisa di manfaatkan untuk menyembuhkan luka, sebelum kita tiba di turnamen Hua San."


"Terimakasih kak,.."


ucap Kim Hong pelan.


Lalu dia kembali masuk lagi kedalam kereta bergabung dengan yang lain.


Melihat Kim Hong sudah kembali berkumpul dengan mereka, Siu Lian pun bertanya dengan penuh penasaran,


"Hong mei mei, sebenarnya apa yang di inginkan oleh para penjaga di Wu Kuan itu ?"


"Sehingga bisa timbul bentrokan di antara kalian..?"


Kim Hong menghela nafas panjang dan berkata,


"Awalnya mereka ingin memeriksa dan mengeledah tubuh ku.."


"Tentu saja aku menolaknya, sehingga timbullah keributan tadi.."


ucap Kim Hong .


Siu Lian mengangguk, lalu dia memberikan ransum kering dan air minum ke Kim Hong.


"Ini Hong mei, makanlah lumayan bisa buat ganjal perut, sebelum kita tiba di Chang An..'


Kim Hong menerima nya dan berkata,


"Terimakasih banyak Lian cie cie,"


Lalu dia mulai makan ransum kering itu.


Dia sempat menawarkan ke Zi Zi dan Siau Yen, tapi mereka menolaknya.


Sementara itu Nan Thian di depan sana, secara bergantian, dia dan Sun er mengendalikan kereta mereka, terus menempuh perjalanan kearah timur.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari tanpa hambatan berarti.


Nan Thian dan rombongannya akhirnya memasuki kota Chang An yang merupakan pusat ibukota kerajaan Yuan yang kedua.


Sehingga kota itu terlihat sangat ramai dan hidup suasananya.


Nan Thian langsung mencari penginapan dan restoran yang paling besar dan mewah di kota itu.


Agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman, soal buaya perjalanan dia tidak perlu khawatir.


Karena dia mendapat bekal uang cukup banyak dari kakek Chu.

__ADS_1


__ADS_2