
Sun Er menatap bayangan burung Bangau Dewata, yang membawa pergi Zi Zi dan guru barunya hingga menghilang kedalam jurang.
Sun er menoleh kearah biksu Kasapa dan berkata,
"Suhu murid mau membereskan mayat mayat teman teman murid dahulu.."
"Harap Suhu sudi bersabar menunggu sebentar.."
ucap Sun Er sambil memberi hormat kearah biksu tua Kasapa..
"Pergilah..nak.."
ucap Biksu tua itu sambil tersenyum lembut penuh welas asih
Sun er setelah memberi hormat dia pergi mencari sepotong kayu yang dia gunakan untuk menggali lubang.
Sun er pertama menyiapkan sebuah lubang di samping Siau Hei.
Dia bekerja dengan sangat cepat, dalam waktu singkat sebuah lubang setinggi pinggang dengan diameter 1x 2 meter telah siap.
Sun er sebenarnya memiliki tenaga sakti dahsyat, yang tersimpan di dalam tubuhnya.
Hanya saja dia belum pandai memanfaatkan nya, tapi saat dia melakukan pekerjaan berat, tanpa di sadari oleh nya, tenaga dalam itu bekerja sendiri mengalir secara otomatis.
Suhu Kasapa dari jauh memandang apa yang di lakukan oleh anak kecil 10 tahun itu, dengan tatapan mata penuh kagum.
"Benar benar keturunan Naga, anak ini hanya belum terasah dengan baik.."
"Akan menjadi tugas ku dan saudara saudara ku yang akan membantu mengasahnya."
"Hitung hitung sebagai balas Budi, pertolongannya di lembah dahulu.."
"Kelak anak ini mungkin adalah salah satu yang terbaik seperti Ping Huo Ta Sia.."
gumam Biksu Kasapa seorang diri.
Biksu Kasapa adalah pimpinan dari 9 tetua biksu kuil halilintar yang bertugas menjaga senjata pusaka Buddha.
Kedatangan nya kali ini kembali kedunia adalah karena beberapa waktu yang lalu.
Dia dan ke 8 saudaranya di dalam meditasi nya mendapatkan penerawangan dunia akan kembali dalam masalah.
Pusat masalah nya berasal dari istana kerajaan Yuan, penguasa dari Mongolia itu.
__ADS_1
Mereka juga mendapatkan penerawangan Ping Huo Ta Sia, penolong mereka itu, sedang menghadapi musibah dan cobaan, yang merupakan bagian awal dari musibah, yang akan mengacaukan dunia dan menimbulkan pertumpahan darah di mana mana.
Di dalam perjalanan nya, untuk menemui Ping Huo Ta Sia yang yang hidup tenang di Hua San.
Dia bertemu dengan Wu Fei Hsia, yang kakek nya adalah teman baik mereka di lembah dulu.
Mereka pun melakukan perjalanan bersama menggunakan bangau Dewata milik Fei Hsia.
Bangau Dewata ini adalah hadiah Lu Fan buat Fei Hsia sebelum mereka berpisah.
Fei Hsia sendiri keluar dari tempat persembunyiannya, karena ada firasat sesuatu yang buruk menimpa pria yang tidak pernah bisa dia lupakan itu.
Itulah sekilas kenapa dua orang sakti itu bisa tepat waktu muncul menyelamatkan Zi Zi dan Sun Er.
Selagi biksu tua itu sedang termenung.
Sun er sudah menyelesaikan pekerjaan mengubur Siau Hei, Siau Yen dan Siu Lian, yang di kubur secara sama-sama di satu lubang yang ukurannya lubangnya lebih besar.
Terakhir Sun er juga menguburkan jasad Pai Wang di sebuah lubang yang lain.
Sun Er membuat 3 buah nisan dengan potongan papan sederhana, sebagai penanda makam yang di buatnya.
Untuk makam Siu Lian dan Siau Yen menggunakan satu papan nisan.
"Siau Hei, Siau Yen Siu Lian juga Senior Pai..kalian beristirahat dengan tenang.."
"Sun Er berjanji suatu hari kelak, pasti akan menuntut balas bagi kalian semua.."
ucap Sun Er dengan mata sedikit berkaca-kaca saat menatap kearah kuburan Siau Hei, Siau Yen dan Siu Lian.
Karena mereka memiliki hubungan yang cukup dekat, selama perjalanan ini.
Banyak suka duka yang mereka lewati bersama selama dalam perjalanan hingga tiba di tempat ini.
Dari berlima kini hanya tersisa dua, dia dan Zi Zi saja yang masih hidup.
Kakak Nan Thian yang selama ini, selalu menjadi pelindung dan penjaga mereka pun kini sudah menghilang tanpa jejak.
Biksu tua Kasapa berdiri di sebelah Sun Er dan berkata,
"Namo Buddha Ya, semoga semua mahluk hidup dalam keadaan tenang dan berbahagia.."
"Sun Er jangan terlalu berduka, semua ini sudah merupakan kewajaran dari hukum sebab akibat..'
__ADS_1
"Mari kita pergi.."
Sun Er mengangguk pelan, lalu dia sambil berlutut berputar arah.
Sun er dengan cepat membenturkan dahinya 3 kali diatas tanah, memberi hormat pada biksu Kasapa dan berkata,
"Guru terimalah hormat dari murid.."
Guru Kasapa sambil tersenyum lembut dan sabar, membungkuk membangunkan Sun er dan berkata,
"Sun Er kamu bangunlah, bisa bertemu adalah jodoh, marilah ikut dengan guru.."
Selesai berkata, Guru Kasapa mengibaskan tangannya.
Tubuh dia dan Sun Er langsung menghilang dari tempat itu.
Mereka berdua muncul lagi sudah berada di balik awan, dan terus melesat menuju arah barat.
Sementara itu di Hua San Pai sendiri tepatnya di halaman belakang Hua San Pai yang sedang kebakaran.
Ye Pu Cin yang mendapatkan laporan dari anak buahnya, bahwa pasukan kerajaan Yuan, yang di pimpin oleh pangeran Mongke Khan dan putri Yesebuhua.
Sedang menyerang Hua San Pai, bahkan mereka kini hampir menembus hingga halaman tengah.
Ye Pu Cin buru buru memimpin semua orang yang ada di sana pergi menyambut serangan yang di lancarkan oleh pihak kerajaan Yuan.
Beberapa ketua perguruan besar yang hadir di sana seperti Song Wan dai Wu Tang Pai, Bai Xue Sethai dari Xue San Pai dan Yang Di dari Thian San Pai.
Mereka semua memimpin murid murid mereka ikut bergabung dengan pihak Hoa San Pai pergi menyambut musuh.
Begitu tiba di lokasi, rombongan besar Hua San Pai yang di pimpin oleh Ye Pu Cin langsung terjun ke arena pertempuran menghadapi serangan dari pihak kerajaan Yuan.
Melihat keganasan dari Lei Mo dan Ping Mo, Ye Bu Cin dan Bai Xue Sethai langsung bekerja sama mengeroyok Lei Mo.
Sedangkan Yang Di dan Song Wan bekerjasama mengeroyok Ping Mo.
Sedangkan murid murid angkatan muda yang berbakat, mereka semua secara berpencar bertempur di setiap sudut di kerubuti oleh puluhan komandan pasukan Yuan.
Pangeran Mongke Khan, yang melihat komandan pasukan nya, terlihat terdesak kalang kabut oleh perlawanan yang di tunjukkan oleh para pendekar berbakat angkatan muda perguruan perguruan besar.
Dia segera memberi kode agar pasukan tameng dan panah bergerak maju memberikan bantuan.
Pasukan panah dengan sigap berpencar mencari posisi dari tempat tinggi mereka melepaskan anak panah menyerang para pimpinan dan tetua Hua San Pai, juga para pendekar berbakat angkatan muda 5 partai besar.
__ADS_1
Datangnya bala bantuan ini sedikit banyak mulai membalikkan keadaan, pelan tapi pasti para angkatan muda mulai terlihat sibuk dan terdesak.