
"Kim Kim jangan terlalu cepat, mereka ambil jalan darat, kalau terlalu cepat kita bisa melewati mereka.."
"Sambil bergerak kita bisa memantau keadaan di bawah sana.."
ucap Nan Thian mengingatkan.
"Itu terlalu lambat kak, apa kakak punya barang bekas Li Sun atau Zi Zi seperti pakaian atau apa.."
"Pakaian dalam Zi Zi kalau ada lebih baik.."
ucap Kim Kim sambil nyengir.
Nan Thian sudah mengangkat tangan ingin memukul kepala Kim Kim,tapi dia tidak jadi lakukan.
Tangannya dia tarik balik di tengah jalan.
Dia berpikir saat ini bukan waktu tepat melayani sahabatnya yang suka asal bicara itu.
Nan Thian buru buru mengeluarkan sebuah sapu tangan merah muda, bersulam kan sepasang burung yang bertengger bersama di sebuah dahan pohon.
"Ini mungkin bisa, ini punya Zi Zi."
ucap Nan Thian sambil mendekatkan sapu tangan itu kearah wajah Kim Kim.
"Wah kakak ini diam diam cabul juga ya,? sapu tangan nya bisa kakak simpan ?"
"Jangan jangan **********.."
"Pletokkk..!"
"Aduhhhhh,..kakak..!"
protes Kim Kim kesakitan.
"Cepat jangan cerewet..!"
"Kita tidak punya banyak waktu..!"
bentak Nan Thian dengan wajah merah padam.
Hatinya sedang cemas, Kim Kim masih terus menggodanya, Kim Kim akhirnya menuai hasil dari mulutnya yang tidak bisa di jaga.
"Ya..ya..dasar sial punya kakak kejam seperti kamu.."
ucap Kim Kim sambil mengomel, tapi dia tetap mencium sapu tangan milik Zi Zi.
Beberapa saat kemudian, dia pun segera berkata,
"Di sini ada 3 bau, satu adalah bau manusia brengsek kejam picik gak tahu balas Budi.."
"Percaya tidak aku akan memberi mu hadiah lagi..?"
tegur Nan Thian dingin.
"Ya...ya..dasar gak sabaran.."
"Bau kedua kita harus berbalik arah, itu gak mungkin, kemungkinan bau guru Zi Zi.."
__ADS_1
"Bau ketiga ini terus bergerak kedepan sana, menuju arah timur.."
"Tidak salah lagi pasti bau ini..punya Zi Zi.."
Belum selesai ucapan nya, Kim Kim sudah melesat cepat kedepan.
Tidak berapa lama kemudian Kim Kim sudah melesat menuju tepi sungai kuning.
Saat mendekati dermaga di tepi sungai kuning itu, Kim Kim merubah wujudnya kembali menjadi manusia.
Dia dan Nan Thian melayang turun dari udara mendarat di tepi sungai kuning yang sepi.
"Kakak beberapa ratus meter di depan, aku mencium bau Xi Zi di sana.."
"Kita lewat jalur darat saja, agar tidak timbul kehebohan di masyarakat sekitar sana.."
ucap Kim Kim saat dia merubah wujudnya menjadi manusia, lalu melayang turun dari udara bersama Nan Thian.
Nan Thian mengangguk ringan dan berkata,
"Baik kita ambil jalur darat saja.."
Nan Thian dan Kim Kim begitu mendarat, mereka langsung melesat kearah dermaga yang mereka lihat dari udara.
Saat mendekati pintu gerbang masuk dermaga, Nan Thian dan Kim Kim pun memperlambat gerakan mereka.
Berjalan santai mendekati antrian orang orang yang hendak memasuki dermaga yang bernama dermaga Chang Yang.
Dermaga Chang Yang adalah dermaga paling ujung dari Sungai kuning, sebelum bermuara dengan laut timur.
Dermaga ini tidak jauh dari kota Bei Hai, masih merupakan bagian dari kota tersebut.
Dengan Wilayah selatan dan Utara yang merupakan daerah daratan tengah China.
Pertemuan arus lalulintas ini, membuat pusat perdagangan di dermaga ini sangatlah ramai pengunjungnya, hampir tidak pernah sepi.
Untuk memasuki dermaga, orang orang harus mengantri cukup panjang.
Mereka yang ingin masuk kedalam wilayah dermaga Chang Yang, harus melewati pos pemeriksaan, yang dilakukan oleh prajurit prajurit Mongolia.
Karena daerah ini masih termasuk wilayah kekuasaan dinasti Yuan Mongolia.
Nan Thian dan Kim Kim terpaksa berbaur dalam antrian.
Sambil mengantri Kim Kim terus mencari cari dengan mata dan penciuman nya.
"Kakak di depan sana, bukan kah itu mereka.."
bisik Kim Kim pelan.
Nan Thian mengikuti arah yang di tunjuk oleh Kim Kim dan dia juga melihat nya.
Melihat mereka berdua ada di sana, Nan Thian tidak bergerak dia masih mengikuti antrian.
"Loh kak,.. kenapa diam saja,? kenapa tidak maju mencegatnya..?"
tanya Kim Kim heran.
__ADS_1
"Di sini terlalu ramai, bila bentrokan pecah, bisa menimbulkan korban jiwa tidak berdosa, yang jumlahnya tidak sedikit."
jawab Nan Thian pelan.
"Lebih baik kita ikuti saja mereka secara diam diam, bila waktunya sudah tepat, baru kita ambil tindakan.."
ucap Nan Thian melanjutkan.
Kim Kim mengangkat kedua bahunya dan berkata,
"Terserah kakak, yang penting tugas ku sudah selesai.."
"Sisanya kakak bereskan saja sendiri.."
Kim Kim bersikap cuek, seolah olah hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Nan Thian hanya tersenyum menanggapi jawaban temannya itu.
Mereka terus mengikuti antrian berbaur di antara orang orang yang sedang mengantri memasuki dermaga.
Li Sun dan Zi Zi yang berada di barisan depan, mereka tidak menyadari keberadaan Nan Thian dan Zi Zi, yang diam diam sedang memantau mereka.
Li Sun menggenggam tangan Zi Zi sambil tersenyum bahagia, sedangkan Zi Zi terlihat memasang wajah dingin seperti patung tidak ada ekspresinya.
Hanya sepasang matanya yang terlihat memancarkan kesedihan dan keterpaksaan.
Dia terlihat tidak berdaya, mengikuti arah tarikan tangan Li Sun, mendekati pos jaga.
Setelah melewati pos pemeriksaan, mereka berdua pun langsung menghilang kedalam dermaga.
Melihat mereka menghilang Nan Thian tetap bersikap tenang, masih berbaris mengikuti antrian panjang.
Dia tidak khawatir, karena selama ada Kim Kim, kemanapun kedua orang muda itu pergi.
Nan Thian pasti akan bisa melacak keberadaan mereka dengan sangat mudah.
Setelah melewati pos pemeriksaan, Nan Thian mengikuti langkah Kim Kim, yang terus bergerak menuju tepi dermaga.
Saat tiba di tepi dermaga dengan langkah santai Kim Kim langsung menghampiri sebuah kapal layar besar yang sedang bersiap siap meninggalkan dermaga.
"Maaf nona, kapal kami sudah penuh saat ini sudah siap berangkat.."
"Demi kenyamanan penumpang kami, yang sudah ada diatas kapal, maaf bila kami tidak bisa menambah penumpang lagi.."
ucap salah satu awak kapal menghadang di depan Kim Kim.
Sebelum terjadi keributan, Nan Thian buru buru melempar sekantung uang perak kedalam tangan awak kapal itu.
"Kakak bantulah kami, kami perlu cepat tidak bisa menunggu kapal lainnya.."
"Kantung itu beserta isinya, boleh buat kakak sebagai ucapan terimakasih kami, bila kakak bisa aturkan satu tempat buat kami berdua.."
Awak kapal yang melihat isi kantung itu, sepasang matanya langsung berbinar.
Dia segera berkata,
"Bisa...tentu saja bisa..tuan muda, semua bisa di atur.."
__ADS_1
"Percaya kan saja pada ku tuan muda,..mari tuan muda,.. silahkan lewat sebelah sini.."