
Melihat reaksi Xue Lian, Fei Yang malah merasa berbahagia dan gembira.
Sambil tersenyum lebar dia maju merangkul bahu istrinya dan berkata,
"Apa kamu gak sayang, bila barang ku di potong, kan nanti kamu tidak bisa."
"Iss memalukan.."
ucap Xue Lian dengan wajah merah dan berusaha melepaskan rangkulan Fei Yang.
Tapi Fei Yang sambil tersenyum nakal, dia tetap tersenyum menggoda istrinya, tidak mau melepaskan rangkulannya.
Sambil memasang wajah cemberut, Xue Lian berkata,
"Pokoknya aku tidak mau berbagi dengan orang lain, daripada berbagi, lebih baik di tiadakan.."
Mendengar ucapan istrinya bukannya takut Fei Yang malah tersenyum lebar dan berkata,
"Kalau begitu aku memilih tetap menjadi milik mu seorang saja.."
Xue Lian sambil menahan senyum berkata,
"Nah itu baru mirip ucapan seorang pria.."
Sambil tertawa Fei Yang berkata,
"Jadi bagaimana dengan nasib kaisar tadi ..?"
"Sudah lupakan saja, ayo kita cari penginapan aku mau mandi.makan dan tidur.."
ucap Xue Lian cepat.
"Baik baik..segera di laksanakan yang mulia.."
ucap Fei Yang sambil tertawa menggoda istrinya.
Fei Yang berjongkok memunggungi istrinya, sambil menunjuk bahu nya.
Xue Lian langsung tersenyum lebar, melihat penawaran suaminya.
Tanpa sungkan, dia langsung melompat kepunggung Fei Yang.
Fei Yang sambil tersenyum gembira, menggendong istrinya meninggalkan tempat itu.
Jalanan yang sepi dan lenggang malah membuat Fei Yang dan Xue Lian merasa dunia serasa milik berdua.
Masyarakat Kai Feng yang ketakutan takut terlibat masalah memilih bersembunyi di rumah masing masing.
Bahkan banyak lapak yang masih lengkap dengan barang dagangan, mereka tinggalkan begitu saja di pinggir jalan.
Sedangkan dari pihak pemerintah, seluruh pasukan mereka tarik ke markas.
Tidak ada satupun yang berkeliaran, terkecuali pengawas benteng dan gerbang kota mereka tetap bertugas di pos mereka.
Ini adalah instruksi dari Wanyen Khan sendiri, untuk menghindari terjadinya benturan tak perlu dengan Fei Yang.
Fei Yang cukup mengenal kota ini, sehingga tanpa kesulitan, dia sudah berhasil menemukan sebuah penginapan besar dan mewah.
Di dalam penginapan itu sendiri, juga tersedia rumah makan besar yang terdiri dari 2 lantai.
Rumah makan ini biasanya sangat ramai terutama saat jam makan pagi siang dan malam.
__ADS_1
Tapi berhubung sebelumnya baru terjadi kericuhan besar, rumah makan itu jadi terkena dampaknya, sehingga terlihat sepi tanpa pengunjung.
Fei Yang begitu melangkah masuk, pemilik restoran sendiri yang keluar menyambutnya.
"Silahkan tuan, apa yang bisa kami bantu tuan nyonya, ?"
ucap pemilik penginapan itu, berusaha seramah mungkin.
Sedangkan beberapa pelayan restoran terlihat berdiri bergerombol, menatap Fei Yang dengan sikap takut takut.
"Aku butuh kamar terbaik untuk menginap malam ini, besok pagi kami sudah keluar dari sini."
"Apa masih ada kamarnya.?"
tanya Fei Yang sambil tetap memondong istrinya di punggung.
"Ada ada tentu saja masih ada, harap di tunggu sebentar, aku akan segera aturkan untuk anda..."
"Ada lagi tuan, ? biar saya sekalian aturkan.."
ucap pemilik penginapan penuh hormat.
"Hmm,.. sekalian antarkan semua makanan terbaik ke kamar.."
ucap Fei Yang santai
"Baik,..ada lagi tuan..?"
"Tidak kurasa itu saja dulu.."
ucap Fei Yang singkat.
"Atiam, segera aturkan yang terbaik buat tamu istimewa kita.."
"Baik.."
jawab seorang pelayan, sambil menerima kunci kamar kemudian dia mengantar Fei Yang melewati halaman belakang.
Fei Yang di bawa menuju sebuah paviliun terpisah yang mewah dan sangat privasi, tidak terganggu oleh deretan kamar tamu lainnya.
"Di sini tuan kamarnya,.."
ucap pelayan itu penuh hormat, sambil menyerahkan kunci ke Fei Yang.
Setelah itu dia buru buru meninggalkan tempat tersebut.
Fei Yang dan Xue Lian melewati malam itu dengan tenang, tanpa ada gangguan.
Keesokan paginya, setelah membayar semua tagihan, Fei Yang dan Xue Lian kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Keluar dari gerbang Utara kota Kai Feng, Fei Yang dan Xue Lian langsung menggunakan Kim Tiaw, meneruskan perjalanan mereka menuju kota Tai Yuan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari satu malam, sore itu Fei Yang dan Xue Lian memasuki kota Tai Yuan.
Saat memasuki kota Tai Yuan, Xue Lian langsung menjadi pusat perhatian semua orang sepanjang jalan.
Awalnya Fei Yang mengira itu adalah sikap mengagumi kecantikan istrinya, yang memang sangat luar biasa.
Tapi saat dia merasakan ada tatapan lain di mata beberapa orang.
Fei Yang mulai merasa curiga, apalagi saat dia memperhatikan lebih jauh sekelilingnya.
__ADS_1
Rasa herannya menjadi semakin bertambah.
Seingat dia dulu pernah datang ke kota ini, kota ini sangat ramai dan hidup.
Terutama sangat banyak gadis cantik dan muda muda hilir mudik di jalan.
Tapi saat ini semua terlihat berbeda, sepanjang mata memandang kota ini hanya ada pria saja.
Bahkan nenek nenek ibu ibu dan anak kecil perempuan sekalipun, tidak ada lagi yang terlihat.
Untuk mencari tahu hal itu, Fei Yang segera memasang fokus pendengarannya, mencari tahu apa yang menjadi omongan orang orang di sana.
"Sungguh kasihan pemuda itu, dia sebentar lagi harus kehilangan istrinya yang cantik jelita itu.."
ucap seorang kakek yang sedang duduk minum di sebuah kedai arak, bersama beberapa temannya.
Temannya yang lain mengangguk menyetujuinya.
"Kamu benar itu Lao Yi,.. akhir akhir ini Jai Hwa Sian malah semakin ganas.."
"Terakhir ini bahkan putri Gubernur Tai Yuan pun berani dinodai nya."
"Nyali nya semakin lama semakin besar, dan tak terkendali.."
"Sampai kapan ketenangan kota ini bisa pulih kembali seperti sedia kala..?"
ucap salah satu pria paruh baya bermuka panjang tirus.
Yang lainnya menggelengkan kepalanya, dengan wajah lesu dan putus asa.
"Lao Lin, hari mulai gelap, kurasa sebaiknya kamu pulang melihat kerumah."
"Jangan sampai istri muda, yang baru kamu nikahi 3 hari itu, sampai di gondol orang.."
ucap salah satu temannya sambil tersenyum lebar.
Kampret kau Acuan, aku jadi was was dan gak tenang.."
"Ya sudah kalian teruskan saja, aku mau pulang dulu.."
ucap pria berusia 50 an yang di panggil Lao Lin itu.
Dia terlihat bergegas melangkah meninggalkan teman temannya dengan wajah penuh rasa cemas.
"Syukurlah kau cuan, bini mu yang harimau tua itu gak ada yang mau.."
"Jadi kamu tak perlu cemas seperti Lao Lin.."
ucap temannya yang lain sambil tertawa.
"Itu masih lebih baik daripada Lai Fu, yang hanya bisa termenung di temani arak.."
ucap Acuan membela diri.
"Apa maksudmu Cuan, tanya salah satu temannya yang hadir di sana ?'
"Ehh Kamu gak tahu, baru dua hari lalu bini Lai Fu juga di bawa pergi oleh Jai Hwa Sian..?"
"Yang benar kamu Cuan,..?"
tanya kakek Lao Yi sulit percaya.
__ADS_1