
Melihat pria kurus itu kembali masuk kedalam bilik perahunya.
Fei Yang menghentikan minumnya, menatap tajam kearah pria itu dengan kening berkerut.
Pria itu tersenyum dan berkata,
"Tak perlu marah, seperti itu."
"Bisa bertemu adalah jodoh, mengapa kita tidak berteman saja.."
"Namaku Yi Wen,.. nama mu siapa ?"
Fei Yang menahan kesal berkata,
"Jalan tidak sama, sebaiknya tidak usah di paksakan,.."
"Katakan saja apa mau mu,..? setelah itu pergilah menjauh dari ku.."
Pria itu benar benar bermuka tebal, dia tidak memperdulikan pengusiran yang Fei Yang lontarkan berulang kali.
Dia malah kembali ikut duduk tak jauh dari Fei Yang dan berkata,
"Baiklah terus terang saja, aku tidak punya tempat tinggal, gak punya uang untuk beli makan, jadi aku mau numpang hidup, mengikuti mu kemanapun."
"Saat ini selain kamu,. Kurasa aku tidak akan bisa menemukan orang kedua, yang bisa melindungi ku, dari gangguan orang orang tongkat bambu kuning.."
"Apa yang membuat mu berpikir, aku akan membiarkan mu ikut dengan ku ? dan mencampuri urusan kamu dengan mereka..?"
ucap Fei Yang malas.
Pria itu tersenyum lebar dan berkata,
"Karena aku anggap kamu orang baik yang bisa ku percaya dan andalkan.."
"Mengapa kamu bisa berpikir demikian ?"
tanya Fei Yang kembali..
"Aku terus menganggu mu dan ribut dengan mu, hingga kamu kesal dan melempar ku ke danau.."
"Tapi saat melihat aku hampir tewas tenggelam, kamu langsung menolong ku.."
"Itu membuktikan kamu masih punya nurani, kamu termasuk orang baik yang bisa di andalkan.."
ucap pria itu sambil tersenyum.
Saat tersenyum wajahnya begitu cantik dan manis.
Fei Yang yang melihat nya langsung merinding, dia sering bertemu gadis cantik yang menyukainya, itu masih baik.
Tapi kini menghadapi pria muka tembok, yang begitu lengket mati matian ingin ikut dengan nya, tentu saja hal ini membuatnya menjadi ngeri dan sedikit bergidik.
__ADS_1
Fei Yang kini menatap pria itu dengan serius dan berkata,
"Apapun pendapat mu, aku tidak perduli."
"Aku hanya mau katakan, aku tidak bersedia punya hubungan apapun dengan mu,.."
"Silahkan saja,.."
ucap Fei Yang tegas.
Pria itu mencemberutkan bibirnya dan berkata,
"Kamu sungguh tega, aku sudah jujur dan berterus terang, merendah begini di hadapan mu, tapi kamu tetap masih saja mengusir ku.."
"Ya sudah anggap saja aku salah menilai mu, permisi "
ucap pria itu kemudian dia langsung berjalan keluar dari bilik perahu Fei Yang.
Dia turun dari perahu Fei Yang dan melangkah pergi, tiba tiba dia menoleh ke belakang dan melempar kan senyum manis kearah Fei Yang.
Fei Yang yang kebetulan sedang mengintipnya dari lubang jendela, buru buru menurunkan kain penutup jendela.
Dengan gaya seperti orang mual mau muntah, Fei Yang buru buru kembali lagi ke posisinya tadi, duduk santai menghadap kearah jendela, sambil meneruskan minumnya.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki naik keatas perahunya.
Fei Yang langsung menatap was was, jangan jangan si banci bermuka tebal itu kembali lagi.
Tapi setelah penutup bilik perahu tersingkap yang datang ternyata beberapa orang pelayan dari Restoran Naga dan Phoenix.
Serta membereskan piring piring masakan sebelumnya, yang makanannya bekas di makan oleh Yi Wen pria kurus kecil itu.
Setelah para pelayan itu pergi, perahu pun mulai bergerak menuju tengah danau.
Fei Yang pun mulai bisa dengan santai menikmati masakan yang ada di hadapannya.
Setelah bolak balik berurusan tadi, sehingga selera makan nya hilang.
Kini setelah tenang, Fei Yang baru merasa perutnya sangat lapar.
Dia makan dengan lahap menikmati setiap masakan khas Hang Zhou, yang ternyata memang sangat lezat, sangat jauh berbeda dengan kota kota sebelum nya yang pernah dia lewati.
Setelah puas makan minum dengan kenyang, Fei Yang pun berbaring santai di dalam bilik perahunya.
Hujan rintik rintik yang turun menimpa atap bilik kapal, menimbulkan irama yang bikin ngantuk.
Sehingga perlahan lahan sepasang mata Fei Yang pun terpejam, dia jadi merasa mengantuk.
Tapi baru saja matanya terpejam, sayup sayup dia mendengar suara berteriak minta tolong dan tangisan seorang wanita yang terdengar ketakutan.
Sepasang mata Fei Yang yang hampir terpejam otomatis terbuka kembali.
__ADS_1
Dia langsung bangkit menghampiri jendela kapal, untuk mematikan asal suara tersebut.
Merasa jendela bilik perahu, ruang penglihatannya terbatas.
Fei Yang pun keluar dari bilik perahu,.meski hujan cukup lebat.
Tapi tidak ada setetes air pun yang mampu menyentuh tubuh Fei Yang, semuanya menguap begitu saja, begitu mendekati tubuh Fei Yang.
Setelah keluar dari bilik perahu, Fei Yang pun akhirnya berhasil menemukan asal suara jerit minta tolong itu.
Ternyata suara itu berasal dari sebuah perahu besar yang mewah, letaknya masih cukup jauh dari perahu yang ditumpangi Fei Yang.
Fei Yang menoleh kearah tukang perahunya yang sedang berjongkok berteduh di ujung perahu.
"Paman aku pergi kesana sebentar, kamu tunggu saja di sini..!"
ucap Fei Yang.
Tukang perahu menatap bingung kearah Fei Yang,.tapi saat melihat Fei Yang terbang kearah perahu besar yang cukup jauh dari perahu mereka.
Si tukang perahu sampai berdiri dari tempat berteduhnya, membiarkan hujan membasahi tubuhnya.
Dia memandang bengong kearah Fei Yang, yang bisa terbang sejauh itu.
"Ahh dia bukan manusia,.dia adalah jelmaan dewa yang turun dari langit.."
gumam tukang perahu itu ketakutan.
Sementara itu Fei Yang sudah mendarat ringan di atas perahu itu.
Begitu mendarat Fei Yang langsung melihat pemandangan menyedihkan di hadapan nya.
Di sana terlihat seorang kakek tua yang lemah terbaring di atas lantai kapal .
Dia terlihat tak berdaya, karena dadanya di injak oleh seorang pria tinggi besar dengan dada dan wajah penuh bulu..
Pria itu sedang tertawa terbahak bahak tanpa memperdulikan kondisi kakek itu yang mengenaskan.
Kakek itu meski terlihat batuk batuk darah dan sudah tak berdaya, tapi dia masih terus menggapaikan tangan nya kearah depan dan berteriak,
"Tuan muda,.. ku mohon ampuni dia,.. jangan sakiti cucu ku tuan muda, kasihani dia,..!"
Di balik tirai tipis Fei Yang melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih.
Di sana terlihat seorang gadis muda yang sangat cantik terbaring tertelungkup di atas meja dengan pakaian compang camping tidak karuan.
Di belakang nya terlihat seorang pemuda yang berusia 30 an sedang berusaha mengagahi nya dari arah belakang.
Di belakangnya masih ada beberapa pemuda lain yang di duga adalah temannya sedang menanti giliran.
Tanpa memperdulikan siapa mereka dan beberapa pengawal yang bergerak mengurung nya.
__ADS_1
Fei Yang mengubah titik titik air hujan menjadi ribuan paku es, sebagian di.lesatkan kearah balik tirai.
Sebagian lagi di arahkan ke arah pria tinggi besar itu.