
Nan Thian terpaksa menghentikan langkahnya, Nan Thian menurunkan Zi Zi dari pundaknya, dan berkata pelan.
"Sun Er bawa Zi Zi kembali ke penginapan.."
"Siau Hei kamu jaga mereka mengerti..?"
Siau Hei menyalak kecil, lalu dia ikut dengan Sun Er yang menggandeng tangan Zi Zi berjalan menjauhi tempat itu
Sedangkan Nan Thian sambil tersenyum dingin, membalikkan badannya.
Lalu berjalan ke hadapan Pria itu dan berkata,
"Tuan ada masalah dengan saya..?"
"Ha..ha..ha..ha..! bagus bernyali, sangat pantas menjadi pahlawan muda di masa depan.."
"Siapa nama mu anak muda ?"
tanya Pria itu sambil tersenyum ramah.
"Aku bernama Yue Na Thian.."
ucap Nan Thian dingin.
"Senang berkenalan dengan anda pendekar Yue."
"Anda masih begitu muda tapi sudah mampu membunuh beberapa jagoan ku.."
"Ini termasuk suatu prestasi yang luar biasa.."
"Begini Pendekar Yue, kebetulan kami pihak kerajaan Yuan sedang kekurangan orang hebat.."
"Kami sedang mengumpulkan orang hebat seluruh penjuru dunia, untuk mengabdi pada kami.."
"Bagaimana pendekar yue, apa anda tertarik untuk bergabung dengan pihak kami..?"
tanya pria itu sambil tersenyum ramah.
Pria ini bernama Tolui, dia adalah putra ke 8 Raja Genghis Khan.
Jadi dia terhitung sebagai pangeran ke 8 kerajaan Yuan.
Nan Thian dengan wajah datar memberi hormat dan berkata,
"Terimakasih banyak tuan, sudah memandang begitu tinggi diri saya..'
"Tapi maaf tuan, saya sudah terbiasa hidup bebas lepas, seperti burung yang terbang bebas di angkasa.."
"Saya tidak biasa hidup terikat dengan segala macam peraturan, jadi sekali lagi maaf.."
"Saya terpaksa menolaknya.."
ucap Nan Thian sambil memberi hormat dengan sikap sopan.
"Pendekar Yue anda jangan terlalu cepat mengambil keputusan, ini adalah tawaran yang jarang ada."
"Mengapa anda tidak mencoba mempertimbangkannya dulu ?"
ucap pangeran ke 8 Tolui, belum putus asa..asih mencoba membujuk Nan Thian.
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf tuan keputusan saya sudah bulat."
"Saya tidak bisa menerimanya.."
"Bocah sombong,..!"
__ADS_1
"Berani kamu mengabaikan niat baik pangeran..!"
"Pangeran biar yang tua ini turun tangan menjajal kesombongan nya.."
ucap seorang pria bersorban berpakaian putih polos.
Sepasang matanya menyorot tajam penuh kekuatan magis.
Pria itu mengangkat tangannya dan berkata,
"Tahan tuan Vipasing, jangan bikin keributan di tempat ini.."
Pangeran ke 8 menoleh kearah Nan Thian dan berkata,
"Baiklah pendekar Yue,.anda silahkan saja.."
"Setiap orang punya prinsip, aku juga tidak akan memaksa.."
"Tapi bila suatu hari anda berubah pikiran, pintu kerajaan Yuan akan selalu terbuka menyambut kedatangan anda.."
ucap Pangeran ke 8 sambil tersenyum penuh simpatik.
"Terimakasih Tuan.."
"Permisi.."
ucap Nan Thian singkat, sambil memberi hormat.
Kemudian dia langsung membalikkan badannya, berjalan meninggalkan tempat itu.
Setelah Nan Thian pergi jauh, dengan tidak puas Vipasing berkata,
"Pangeran ke 8 mengapa anda tidak biarkan saya menghabisinya, agar tidak menimbulkan kerepotan di kemudian hari..?"
"Kamu sabarlah Vipasing, nanti akan ada waktunya, tak perlu terburu-buru."
Salah seorang rekan Vipasing menepuk pundaknya dan berkata,
"Kamu sabar saja, di banding kamu aku lebih ingin menghabisinya.."
"Tapi kini belum saatnya, kamu jangan lupa Qi Lian San Koai adalah murid ku.."
"Mereka di habisi oleh ayah bocah itu, aku juga tidak bakal mengampuninya.."
"Tapi lebih baik kita ikuti pengaturan pangeran ke 8 saja.."
ucap rekan Vipasing itu.
Dia adalah Qi Lian Lao Koai (Siluman tua gunung Qi Lian ).
Kebalikan dari Vipasing yang berpakaian putih, Qi Lian Lao Koai justru mengenakan jubah hitam menutupi dari kepala hingga ke kaki.
Selain sepasang matanya, yang menyorot tajam dari balik jubah penutup kepalanya, wajahnya sana sekali tidak terlihat.
Pangeran ke 8 berjalan santai meninggalkan tempat itu langsung menuju istana.
Ditempat lain Nan Thian menghela nafas lega, dia tadi tidak sampai harus bentrok dengan orang orang pihak kerajaan Mongolia itu.
Bila sampai bentrok tentu kerugian besar ada di pihaknya.
Baru kedua kakek berambut hijau dan putih saja, dia sudah harus menggunakan Kim Kim.
Bagaimana bila harus menghadapi ke 8 orang itu sekaligus.
Nan Thian ragu Kim Kim akan mampu menghadapi ke 8 orang itu sekaligus.
Di saat Nan Thian sedang berpikir,
__ADS_1
Kim Kim pun ikut angkat bicara.
"Tindakan kakak tadi sudah sangat tepat.."
"Si baju putih dan si jubah hitam serta kedua lawan kita kemaren.."
"Aku yakin mampu mengurusnya.."
"Tapi 4 orang yang berdiri diam di belakang, tidak bersuara dan berekspresi itu."
"Aku sendiri tidak punya keyakinan bila mereka berempat ikut maju sekaligus.."
ucap Kim Kim yang biasanya percaya diri, kini malah terlihat cemas.
Ini hanya menunjukkan bahwa mereka itu sangat tidak sederhana.
Nan Thian mengingatnya, dia harus berhati-hati bila kelak kembali harus bertemu dengan kelompok itu lagi.
Nan Thian mempercepat langkahnya kembali kearah penginapan nya.
Tadinya dia ingin menginap semalam di tempat itu, tapi setelah kejadian tadi, di tambah dengan ketidaknyamanan dirinya.
Setiap kali bertemu dengan Xue Xue Siau Semei nya itu.
Wanita yang paling tidak bisa dia lupakan, tapi juga wanita yang paling tidak ingin dia temui saat ini.
Akhirnya setelah kembali ke penginapan dan melumasi seluruh tagihannya.
Nan Thian langsung mengajak rombongan nya melanjutkan perjalanan malam itu juga.
Tidak jadi menginap di Chang An sesuai rencana awal.
Saat keluar dari pintu gerbang sebelah barat, Sun Er pun berkata,
"Kakak, kenapa terjadi perubahan rencana secara mendadak begini..?"
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Maaf paman kecil, Chang An terlalu tidak aman buat kalian.."
"Jadi paling baik memang kita harus secepatnya tinggalkan tempat itu.."
Sun Er mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.
Malam itu juga Nan Thian terus memacu kudanya mengambil jalan arah tenggara menuju kota Huai Yin.
Saat matahari terbit, Nan Thian dan kereta kuda yang dikendarainya.
Akhirnya tiba di kota kecil di bawah kaki gunung Hua.
Saat memasuki gerbang kota tersebut, Nan Thian turun dari kereta nya.
"Paman boleh saya tanya dan ganggu waktu paman sebentar..?"
ucap Nan Thian sopan sambil memberi hormat kepada seorang penjaga gerbang masuk kota persinggahan terakhir tersebut.
"Silahkan saja anak muda, anda ingin bertanya apa..?"
ucap penjaga itu ramah.
"Paman apakah di kota ini ada penginapan dan restoran, yang bagus, arah mana yang harus kami ambil bila ingin ke sana ?"
tanya Nan Thian sopan.
"Ohh itu, kalau kamu masuk kedalam kota justru hanya akan menemukan penginapan biasa ."
"Bila ingin yang bagus anda bisa melewati kota ini dengan jalan memutar, terus kearah tenggara.
__ADS_1
Di sana di tepi sungai Wei nanti akan ada penginapan tunggal namanya paviliun bunga merah..(Hung Hua Lou ).