PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SITUASI KRITIS


__ADS_3

Alam dimensi yang di ciptakan kakek itu sangat berbeda, memilki daya tahan yang termasuk sangat kuat.


Setelah bertahan sekian lama menahan serangan Fei Yang dan Kakek tua itu.


Akhirnya meledak juga, bila di bandingkan dengan alam dimensi ciptaan Fei Yang, alam dimensi ciptaan kakek ini jelas 10 kali lipat lebih kuat dari alam dimensi ciptaan Fei Yang.


Setelah masing-masing terlempar ke dunia nyata, mereka yang sudah kepalang tanggung hanya bisa melanjutkan daya serang mereka.


Tiada jalan mundur, siapa pun yang lebih dulu menarik kekuatan nya kembali.


Dia pasti akan tewas seketika, oleh tenaga membalik sekaligus di tambah daya dorong dari lawan mereka.


"Boooom,.! Boooom,..! Boooom,.!"


Boooom,.! Boooom,..! Boooom,.!"


Boooom,.! Boooom,..! Boooom,.!"


Saling dorong mendorong diantar mereka berdua kini, mulai menimbulkan ledakan di sekitar arena pertarungan mereka.


Lembah kebahagiaan yang tadi indah dan sangat cantik, dalam sekejab mata telah berubah menjadi lembah neraka.


Tanah batu pasir berhamburan, pohon pohon bertumbangan.


Lubang bekas ledakan menga nga di mana mana.


Mungkin tidak kalah hancurnya di bandingkan dengan lokasi penggalian tambang emas dan batu bara yang di ijinkan di negeri kita.


Fei Yang dan kakek tua masing masing terlihat tidak ada yang bersedia mengalah.


Jarak di antara mereka berdua semakin lama semakin dekat.


Sepasang kaki Fei Yang yang berdiri di atas tanah telah melesak kedalam tanah sampai ke lutut.


Kakek tua terus memperpendek jarak diantara mereka.


Hingga akhirnya senjata mereka berdua kembali saling menempel.


Fei Yang kini tentu mewaspadai serangan semburan api hijau kakek tua itu.


Setiap saat bisa saja dia mengerahkan kekuatan itu, untuk membokong Fei Yang.


Sesuai perkiraan Fei Yang setelah saling menekan selama beberapa waktu.


Kakek itu akhirnya tidak sabar lagi, dia menyemburkan Api hijau menyerang kearah wajah Fei Yang untuk kedua kalinya.


Tapi karena Fei Yang dari awal sudah mewaspadai nya, serangannya kali ini gagal.


Fei Yang telah menciptakan perisai Pat Kwa tulisan kuno untuk menahan kekuatan semburan itu.


Setelah beberapa kali melakukan semburan api hijau, dia masih tetap gagal menekan Fei Yang.

__ADS_1


Kini dia menyemburkan hawa beku kehijauan menerjang kearah Fei Yang.


Perisai pelindung Pat Kwa ciptaan Fei Yang sempat membeku sebentar.


Tapi sebelum kakek tua itu sempat melakukan serangan untuk menghancurkan pertahanan Fei Yang.


Perisai bentukkan Fei Yang yang membeku telah hilang dari perisai perlindungan Fei Yang yang mengeluarkan cahaya merah.


Menghancurkan lapisan es beku yang mencoba menekan dan membekukan perisai ciptaan Fei Yang.


Tapi kakek tua itu memang banyak sekali ilmu aneh aneh, tiba tiba dia mencoba menghancurkan perisai pelindung Fei Yang.


Dengan sinar hijau yang terpancar dari kedua matanya seperti sinar laser hijau.


Terkena Sambaran sinar hijau yang keluar dari sepasang mata kakek tua itu.


Perisai pertahanan Fei Yang bergetar hebat bahkan sedikit retak, tapi setelah mendapatkan pasokan energi Chi dari Fei Yang.


Perisai itupun pulih kembali seperti semula.


Melihat serangan susulan nya belum juga berhasil, kakek itu kembali membelah diri menjadi 8 orang.


Lalu masing masing menyerang Fei Yang dengan cara yang sama, dari delapan arah mata angin.


Mereka semua berusaha menghancurkan perisai pelindung Fei Yang.


Tapi kakek tua kembali mengigit jari, karena Fei Yang sudah membaca ilmu andalannya sebelum dia sempat melakukan serangan.


Kakek tua yang melihat usahanya belum juga berhasil.


Dia mulai berkomat Kamit, serangan nya yang bercahaya hijau kini berubah menjadi kabut hitam.


Tubuhnya yang tadinya menekan dari atas kini berpindah berdiri di atas tanah.


Dia terus memberikan tekanan yang semakin lama semakin kuat.


Fei Yang yang tadinya tenggelam keatas tanah sebatas lutut, tiba tiba melesak kebawah sebatas paha.


Tubuhnya semakin tenggelam hingga sepinggang melesak kedalam tanah.


Fei Yang merasakan ada kekuatan tidak terlihat di dalam tanah, yang terus berusaha menarik bagian bawah tubuhnya, tenggelam masuk kedalam tanah.


Fei Yang melepaskan hawa panas ke sekitar bagian bawah tubuh nya, membakar apapun yang sedang berusaha memegangi bagian bawah tubuhnya.


Melihat hal itu, Kakek tua itu, menghentakkan kakinya keatas tanah.


Sambil meningkatkan intensitas mulutnya berkomat Kamit hingga terdengar suara berdengung dengung di sekitar arena pertempuran.


Fei Yang kembali merasa sesuatu di bawah sana, semakin banyak yang berusaha menarik tubuh nya tenggelam kebawah.


Mereka kini bahkan tidak takut dengan energi panas yang dia pancarkan dari bagian bawah tubuh nya.

__ADS_1


Konsentrasi Fei Yang yang terganggu dari berbagai arah, mulai membuat perisai ciptaan nya retak retak.


Mulai tidak kuat menahan serangan semburan yang sebentar panas sebentar beku, di tambah dengan cahaya sinar hitam yang melesat dari sepasang bola mata kakek tua itu.


Begitu pula pedang Mestika Panca Warna, perlahan-lahan mulai terdorong mundur.


Hingga Golok Naga Hijau kini sudah menyentuh pundak Fei Yang, tertahan di sana.


Darah mulai mengucur deras dari pundak yang terluka.


Fei Yang sendiri kesulitan untuk melepaskan tebasan pedang tanpa nama nya, untuk memberikan tekanan balik.


Karena bagian bawah tubuh nya, terus di ganggu oleh kekuatan mistis di dalam tanah.


Fei Yang melepaskan tenaga es yang menyebarkan pecahan es setajam pedang.


Menusuk apapun di bawah sana yang sedang menganggunya.


Tapi bayangan hitam di bawah sana hanya roh, tubuh mereka transparan.


Benda benda tajam itu, tidak mampu melukai mereka.


Pedang es tajam itu hanya lewat menembus tubuh mereka.


Mereka malah semakin ganas menarik tubuh Fei Yang hingga sudah tenggelam sebatas dada.


Hal ini membuat Fei Yang semakin berada dalam posisi yang sangat sangat tidak menguntungkan.


Kakek tua itu kini bukan lagi menekan goloknya dengan tangan.


Tapi dia menambahkan kakinya menginjak punggung goloknya, untuk menambah daya tekan.


Sehingga golok semakin melesak kedalam bahu Fei Yang yang lukanya semakin lebar.


Fei Yang wajahnya mulai terlihat pucat, peluh membasahi keningnya.


Embun halus mulai muncul diatas, ubun ubun kepalanya.


Sepasang alisnya yang hitam tebal kini mulai bertaut menjadi satu.


Seiring dengan mulutnya yang mendesis menahan rasa nyeri di bagian bahunya.


Perisai ciptaan Fei Yang retakan nya semakin lebar dan makin meluas.


Satu persatu bayangan Fei Yang mulai berhasil di hancurkan oleh bayangan kakek tua itu.


Hingga akhirnya hanya tersisa satu kubah pelindung 6 cahaya warna warni, yang masih berusaha menahan serangan dari 8 arah.


Di saat keadaan sedang kritis, dari atas langit melayang turun seorang pria berwajah cemerlang.


Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya emas berkilauan.

__ADS_1


Ditangannya terlihat sebatang suling hitam yang di tempelkan ke bibirnya.


__ADS_2