
Kim Lan dan Kim Sin Sethai mengangguk cepat, mereka kemudian mengikuti Nan Thian menuju keruangan berikutnya.
Di ruangan berikutnya Bai Xue Sethai tersenyum lembut menyambut kedatangan Nan Thian.
"Pendekar muda terimakasih banyak kamu sudah repot-repot datang kemari, untuk menolong orang tua, yang hampir mampus ini.."
ucap Bai Xue Sethai tersenyum ramah.
Nan Thian membalas dengan memberi hormat,
"Maafkan kelancangan junior,.."
ucap Nan Thian sopan.
Lalu dengan gerakan cepat, Nan Thian dengan mudah mematahkan rantai rantai yang membelenggu kaki dan tangan Bai Xue Sethai.
"Di mana senjata mereka di simpan..?"
tanya Nan Thian sambil menoleh kearah penjaga penjara, yang mengantar nya membebaskan tahanan.
"Maaf kalau itu saya kurang tahu tuan, hanya gubernur Lim dan Wu Cong Kuan yang mengetahui tempat nya ."
ucap penjaga itu sejujurnya.
"Apa kamu tahu di mana mereka berdua sekarang..?"
tanya Nan Thian sambil menatap tajam kearah penjaga itu.
"Kalau gubernur Lim saya kurang tahu, tapi Wu Cong Kuan saya tahu.."
ucap penjaga itu cepat.
"Bagus antarkan kami kesana..?"
ucap Nan Thian singkat.
"Baik tuan, silahkan ikut dengan saya.."
ucap penjaga itu cepat.
Sekali ini dia terlihat bersemangat, karena dia bisa membalas Wu Cong Kuan, yang hampir saja membuat dia dan teman-temannya celaka.
Nan Thian Bai Xue Sethai, Kim Sin, Kim Lan mereka mengikuti penjaga itu meninggalkan ruang tahanan bawah tanah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa koridor, yang berbelok belok.
Si penjaga penjara akhirnya menunjuk kearah sebuah kamar besar, yang Nan Thian pernah datangi dulu.
Nan Thian mengibaskan tangannya kearah pintu ruangan yang tertutup rapat.
Tapi dari dalam kamar tersebut suara Isak tangis wanita.
"Brakkkk..!"
Pintu kamar terpental kedalam, sehingga ruangan itu terbuka lebar tidak berdaun pintu lagi.
Wu Cong Kuan yang sedang beraktivitas dengan pelayan muda, yang berlutut di hadapan nya,
Dia terlihat sangat kaget, saat melihat Nan Thian kembali datang menganggu acara baiknya, dengan menjebol pintu kamarnya.
Di belakang Nan Thian, Bai Xue Sethai dan kedua muridnya yang melihat pemandangan di dalam sana.
Dengan wajah merah mereka membuang muka.
"Dasar binatang,.. biadab..!"
umpat Kim Lan emosi.
__ADS_1
Sedangkan Bai Xue Sethai, dia hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar itu sendiri, terlihat Wu Cong Kuan sedang memaksa seorang gadis pelayan muda, yang sedang berlutut di hadapannya, untuk menghisap anu nya.
Gadis itu terlihat sedang menangis ketakutan, sambil terus menggelengkan kepalanya berulang kali.
Wu Cong Kuan sendiri terlihat duduk santai di atas kursi, dengan sepasang kaki setengah terbuka.
Tangan kirinya menekan kepala belakang pelayan itu kearah anu nya.
Sedangkan tangan kirinya terlihat tidak berhenti mempermainkan bukit pribadi pelayan malang, yang pakaian atas nya, di biarkan terbuka lebar.
Nan Thian terlihat sedikit emosi melihat kelakuan Wu Cong Kuan.
"Bajingan bau tanah, kamu benar benar tidak berubah..!"
bentak Nan Thian sambil mengulurkan tangannya kedepan.
Dengan pengerahan tenaga sakti Qian Kun Im Yang Sen Kung, yang memunculkan sebuah bayangan Pat Kwa didepan telapak tangan Nan Thian.
"Wuttt...!"
"Arggghhh...!'
teriak Wu Cong Kuan kaget, saat merasa tubuhnya terhisap melayang kearah Nan Thian.
Sedetik kemudian Wu Cong Kuan dengan celananya yang melorot, sudah tergantung di udara.
Dia terlihat sedang meronta ronta lemah, memegangi tangan Nan Thian yang sedang mencekik tenggorokannya.
Lidah Wu Cong Kuan terlihat terjulur keluar, matanya melotot besar, dia terlihat agak kesulitan bernafas.
Nan Thian teringat dia masih butuh informasi dari bangsat tua ini.
Jadi dia terpaksa menahan keinginannya untuk mencekik mampus bajingan tua itu.
"Brukkkk..!"
"Arrggghhh...!"
Jerit Wu Cong Kuan kesakitan sambil memegang pinggang nya yang terkilir.
Karena di banting dengan kuat oleh Nan Thian.
"Cepat katakan, di mana senjata ketiga senior ini di simpan..?!"
bentak Nan Thian dingin.
"Ahhh,..aduh..Hufff...!"
keluh Wu Cong Kuan meringkuk di atas lantai sulit bangun.
Nan Thian tersenyum dingin, lalu mencengkram tengkuk Wu Cong Kuan, menentengnya keatas.
"Tunjukkan cepat, tidak usah banyak gaya, atau kamu boleh mencobanya sekali lagi.."
ucap Nan Thian seperti hendak membantingnya sekali lagi.
Wajah Wu Cong Kuan langsung memucat,
"Ahhh tunggu..tunggu..! sebentar aku akan katakan...!"
"Di..di..sebelah sana...di sana..!"
ucap Wu Cong Kuan gugup, sambil menahan rasa nyeri di pinggang nya yang terasa kiut miut.
__ADS_1
Dia menunjuk kearah sebuah bangunan yang berdiri tidak jauh dari bangunan, di mana Nan Thian pernah bertemu dengan Kim Hong.
Nan Thian tanpa banyak bicara, dia langsung menenteng Wu Cong Kuan melangkah cepat menuju bangunan itu.
Nan Thian di dalam hati kecil ingin cepat cepat membereskan masalah di sini.
Sebelum melihat keadaan Zi Zi, hatinya tidak bisa tenang.
Dia baru akan merasa tenang bila melihat Zi Zi benar benar hidup bahagia bersama Li Dan.
Tragedi yang menimpa Xue Xue, telah merubah pikiran Nan Thian tentang adat aturan dan bakti.
Dia sudah tidak mau perduli lagi, siapapun akan dia lawan, demi kebahagiaan Zi Zi.
Dia tidak akan biarkan gadis yang sangat dia sayangi itu, mengalami nasib tragis seperti Xue Xue.
Karena nya, Nan Thian selalu terlihat buru buru dalam menyelesaikan masalah Lim Ping Chi ini.
"Di sini tuan..di dalam gudang pusaka dan harta itulah senjata mereka di simpan.."
ucap Wu Cong Kuan cepat, sambil menunjuk kearah bangunan yang ada di hadapannya.
"Wutttt..!"
Nan Thian dengan gerakan santai melempar tubuh Wu Cong Kuan kedepan.
"Brakkkk..!"
Tubuh Wu Cong Kuan terlihat terbang menabrak pintu gedung penyimpanan pusaka dan harta itu.
Pintu gedung itu langsung jebol, saat tertimpa tubuh Wu Cong Kuan.
"Baaammm...!"
terdengar suara pintu terbanting keatas lantai.
"Blukkk...!"
Di susul dengan tubuh Wu Cong Kuan ikut terbanting diatasnya.
"Ahhh...!"
teriak Wu Cong Kuan kesakitan, saat dia untuk kedua kalinya kembali terbanting, dengan bagian pinggang mendarat duluan.
Wu Cong Kuan terlihat meringkuk di sana dengan wajah penuh keringat, dia berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa, hingga sulit bersuara.
"Senior coba kalian lihat sendiri, di mana senjata kalian di simpan."
ucap Nan Thian sambil melangkah masuk kedalam bangunan tersebut.
Saat hendak melewati Wu Cong Kuan yang sedang meringkuk kesakitan diatas lantai.
Nan Thian berkata pelan,
"Ini hadiah untuk mu, kedepannya kamu tidak perlu repot mengurus kebutuhan bagian itu lagi."
Nan Thian terlihat menyentil kan jarinya kearah bagian bokong di bawah pinggang Wu Cong Kuan.
"Cesss..!"
"Cesss..!"
Dua energi transparan terlihat melesat menuju titik Shang Liao, Hui Yang.
"Arggghh..!"
tubuh Wu Cong Kuan yang meringkuk langsung menegang.
__ADS_1