
Di dalam ruangan itu kesembilan orang duduk secara melingkar termasuk aku di dalamnya, hampir seluruhnya adalah pria paruh baya yang memiliki rambut putih dan memiliki jabatan tinggi atas kerajaan.
"Aku tidak percaya bahwa seorang anak kecil memimpin kita di sini."
"Ini sudah perintah raja, jika kau menolak kepalamu yang akan melayang."
"Jangan bercanda."
Saat pria itu akan bangkit pria di sebelahnya mencoba untuk menenangkannya lalu mengubah topik.
"Lawan kita kini berubah yang tadinya hanya satu raja iblis kini menjadi dua raja iblis, keduanya sepertinya memutuskan untuk bergabung demi mengalahkan kita."
"Itu karena mereka mewaspadai orang yang telah membunuh raja iblis sebelumnya."
"Begitu," kataku ringan sementara Rion memelukku dari belakang.
"Hey Lion aku lapar, belikan aku makanan."
Bukan hanya aku yang kesal, semua di sini juga merasakan hal sama.
"Berhentilah bermain-main," teriak yang lain yang tidak bisa menyembunyikan amarahnya.
"Dibanding benua manusia, keadaan kita bukannya lebih baik... di sana perang melawan Titan sedang berlangsung."
"Aku tidak peduli, jangan pernah meremehkan raja iblis kau tahu bagaimana raja Solomon pernah menyerang seluruh benua, bukan berarti dia telah dikalahkan sepenuhnya ada kemungkinan raja iblis yang tersisa sekarang ada sangkut pautnya.
"Kau mengatakan bahwa dia masih hidup, begitu."
"Tepat sekali, kita harus mewaspadai kebangkitannya juga."
Obrolan kini berputar diantara petinggi kerajaan ini, sampai Rion memotong dengan perkataan yang seharusnya tidak dia sebutkan.
"Itu mustahil, raja iblis Solomon memang sudah dikalahkan, jika pun dia bangkit dia pasti memerlukan waktu yang lama."
"Kenapa kau bisa mengatakan itu?"
__ADS_1
"Karena aku yang melakukannya."
Semua orang langsung bangkit selagi menunjukan bilah pedang yang dibawa mereka.
"Kau dewi jahat itu."
"Kenapa kalian begitu terkejut, bukannya kalian menyembahku."
"Kami hanya menyembah Dewi Riona meski ada desas-desus bahwa beliau yang menjadi dewi jahat kami tidak pernah mempercayainya."
Rion menatapku dengan pandangan hampir menangis.
"Mereka tidak mempercayaiku Lion?"
"Dia bukan dewi jahat ataupun Dewi Riona, dia hanya terobsesi dengan menjadi dewi tolong maafkan dia."
"Kau juga Lion."
Dewi ini pasti sudah lupa bahwa seharusnya identitasnya harus disembunyikan.
"Jadi apa rencanamu?"
"Mengingat bahwa dua kubu raja iblis telah bergabung maka penyerangan bukan hanya akan terjadi di ibukota... aku ingin kalian membagi diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan melindungi setiap kota besar, akan lebih baik jika setiap pasukan terhubung satu sama jadi saat satu kota diserang pasukan di kota lainnya bisa turut membantu."
"Bagaimana dengan ibukota?"
"Aku dan para murid akademi yang melindunginya, lagipula raja iblis itu pasti akan datang kemari saat aku menyebarkan gosip bahwa pembunuh raja iblis sebelumnya berada di sini juga."
"Kau menjadikan dirimu umpan?"
"Ini untuk mengurangi jumlah orang yang akan terbunuh."
"Anggap saja kita memang setuju dengan idemu tapi bagaimana kita bisa saling menghubungi satu sama lain."
"Aku sudah memikirkannya."
__ADS_1
Aku mengeluarkan beberapa batu kristal dari sihir penyimpananku yang kuberikan pada setiap orang.
"Aku menyebutnya kristal telekomunikasi, dengan ini kalian bisa menghubungi setiap orang meskipun itu berada di tempat yang sangat jauh."
"Mustahil?"
Di dunia lamaku ada yang disebut ponsel aku hanya meniru kerjanya hanya saja di sini tidak perlu repot-repot membuatnya.
Hanya memikirkan bagaimana itu bekerja maka alatnya akan tercipta.
"Itu adalah benda ciptaanku karena itu saat perang ini selesai aku akan mengambilnya kembali."
"Kami mengerti."
"Senang semua orang bisa menerimanya."
"Kami akan langsung membawa pasukan."
"Baiklah."
Saat semua orang pergi aku masih duduk di kursi dengan Rion yang duduk di pangkuanku.
"Kau yakin Lion? Mereka sama sekali tidak berniat memberikannya lagi padamu loh."
Rion bisa membaca pikiran maupun isi hari seseorang jadi yang dikatakannya memanglah sebuah kebenaran.
Tapi.
"Aku sudah tahu itu, teknologi seperti ini sangat berbahaya jika digunakan untuk berperang karena itu saat mereka menggunakannya sekali kristalnya akan meledak sendiri."
"Jadi begitu, itu alasan kenapa kau membuat kristalnya berukuran kecil."
"Benar, bahkan jika mereka mencoba menyalin atau menirunya itu juga akan meledak."
"Fufu kau benar-benar berhati-hati."
__ADS_1