Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 443 : Insiden Di Kota Jam


__ADS_3

Setelah beberapa menit aku akhirnya bisa beristirahat di penginapan, aku memutuskan untuk menyewa satu kamar untuk diriku sendiri dan itu berhasil sebelum ketukan terdengar di pintu.


"Siapa?"


"Pelayanan kamar."


"Aku rasa aku tidak memesan pelayanan kamar."


Aku membuka pintu dan melihat Estelle berdiri dengan hanya mengenakan Lingerie sexy.


"Pelayanan kamar."


"Selamat malam," aku menutup pintunya.


"Biarkan aku masuk."


"Ogah."


Dan berikutnya digantikan Mamia lalu Varlia.


Aku seharusnya tidak berharap bahwa dunia ini jauh lebih baik atau sebagainya. Pagi berikutnya sebuah insiden terjadi di kota jam orang-orang mengerumuni jalanan di depan menara jam dan melihat sesuatu yang mengerikan.


Anggota party yang sebelumnya kami temui telah dibunuh dengan luka tebasan berbentuk X di tubuh mereka lalu digantung dengan sebuah tali di menaranya.


Itu adalah pemandangan yang mengerikan.


"Lion, apa kau yang?" ucap Varlia namun aku menggelengkan kepalaku lebih dulu.


"Tidak bukan aku, aku semalam terus berada di kamarku."


"Jika begini, apa mungkin ada yang membenci mereka?"


Dengan kepribadian mereka mungkin saja tapi yang membuat aneh adalah mereka baru datang kemari, itu terlalu cepat jika seseorang membunuhnya di sini.

__ADS_1


Sebuah suara datang dari sampingku.


"Itu pasti ulah pembunuh petualang, belakangan ini para petualang telah meninggalkan kota ini."


"Benar, ini mengerikan."


Pembunuh petualang? Kami harus mengetahui hal itu lebih jauh lagi.


Kami tiba di guild yang berada di kota ini, seharusnya itu berada di sana tapi sekarang telah berubah menjadi sebuah bar untuk minum-minum.


Seorang guild master kini berubah menjadi pembuat minumannya.


"Silahkan, tanpa alkohol."


"Terima kasih, tapi ini mengejutkan sekali."


"Mau bagaimana lagi, guild telah berubah seutuhnya, kecuali kalian aku tahu bahwa tidak ada lagi petualang di sini, lebih baik kalian cepat pergi juga."


Estelle mengebrak meja.


"Tapi."


"Bagaimana jika kau memanggil petualang dari guild lain?"


"Itu mustahil, tempat ini sudah terkenal mereka jelas tidak akan mau melakukannya."


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Varlia.


"Mau bagaimana lagi, kita harus menangkap pembunuhnya dan dengan itu kita bisa meminta petualang lain untuk membantu kita mempertahankan kota."


"Kurasa itu ide bagus tapi kalian kemungkinan akan terancam dibunuh," perkataan guild master memang benar, tapi aku punya ide bagus untuk itu.


Jika kami diincar maka itu akan lebih mudah.

__ADS_1


Di jalanan sepi tengah malam Estelle akan memancing pembunuhnya.


Kami hanya mengawasi dari belakang tanpa mengendorkan penjagaan.


"Apa ini akan berhasil Lion?" tanya Mamia dan aku jelas mengangguk mantap.


"Tidak ada yang bisa menahan godaan dari dada besar, dia adalah target utama dari kejahatan."


"Jika Estelle mendengarnya dia jelas akan marah."


Kami kembali mengawasi Estelle yang berjalan dengan kecepatan siput, tiba-tiba sesosok siluet bayangan muncul, dia mengenakan jubah hitam dengan wajah tertutup seutuhnya karena kegelapan.


"Kita bergerak."


Sebelum kami melakukannya Estelle lebih dulu membekuknya dengan baik.


"Kita berhasil menangkapnya Lion."


"Tidak, jangan lengah."


"Apa?"


Aku menggunakan sihir teleportasi dan dalam sekejap pisau menghujaniku. Itu menancap di beberapa titik.


"Lion?"


"Aku tidak apa."


Mamia dan Varlia segera mendekat.


Sementara itu Estelle membuka tudung pelaku yang dia lumpuhkan dan melihat bahwa itu hanya sebuah boneka kayu.


"Pembunuhnya?"

__ADS_1


"Dia jelas bukan orang yang mudah dihadapi."


__ADS_2