
Setelah perjalanan jauh kami sampai di tempat penempatan kami selanjutnya yaitu tembok suci Maria.
Kota ini termasuk kota besar yang menopang ibukota yang sebelumnya kami duduki. Tinggi temboknya sendiri berkisar 100-110 meter dengan gerbang yang mewah, saat itu terbuka suara yang cukup membuat telinga sakit terdengar.
Kereta kami memasuki wilayah tembok yang mana menampilkan deretan rumah yang mirip di abad pertengahan.
Kini tugas kami melindungi semua ini.
Kami menghadap pemilik tanah yang merupakan pria gemuk dan ia menyambut kami dengan tangan lebar, di sini ada pahlawan juga yang sebelumnya terpanggil lebih dulu dibanding kami jadi kurasa pembagian tugas akan jauh lebih cepat selesai.
Tidak ada orang yang diberikan tempat tinggal, mereka diharuskan menyewa penginapan atau sebagainya dengan uang pribadi. Karena kami bersama, aku dan Kizuna memilih kamar berdekatan.
Tidak ada barang mewah apapun di dalamnya kecuali ranjang, lemari dan ruang belajar. Jika kau ingin mandi kau hanya harus menyewa pemandian umum yang ada di bawah. Sungguh kehidupan kami berubah sampai akarnya.
Rose berkata selagi duduk di ranjang.
"Apa tuan tidak menyukainya?"
"Tidak, yang terpenting dari semua ini adalah tempat ini masih nyaman untuk ditinggali."
"Benar, ranjangnya bisa muat untuk kita bertiga."
Aku mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Nia sebelum berjalan ke arah jendela dan melihat seluruh isi dari kota ini.
Kota ini terlihat makmur namun sejujurnya kota ini dibangun di tanah yang mereka ambil dari ras Titan yang mana membuatku tidak tahu harus melakukan apa.
Untuk sekarang kami hanya bersiap-siap untuk tugas pertama kami.
__ADS_1
Setelah mengganti pakaianku dengan seragam militer, aku keluar bersama Rose dan Nia dalam bentuk pedangnya.
Begitu juga Kizuna yang membawa katana di tangannya. Di saat-saat tertentu dia terlihat sangat dingin ataupun sebaliknya.
"Lakukan tugasmu dengan benar Erik."
"Tentu saja."
Kami berpencar di persimpangan jalan. Dia akan baik-baik saja terlebih dia sangatlah kuat.
Aku berjalan menuju bagian atas tembok dengan sihir aku bisa berjalan mudah tanpa hambatan hingga sampai di atasnya, di sana ada beberapa orang yang menyusun meriam besar dan salah satunya berkata padaku.
"Kau terlambat dihari pertamamu cepat bantu bersihkan meriam itu."
"Baik."
Paling tidak tugasnya satu unit dengan Kizuna.
Saat matahari tenggelam itu menjadi batas pekerjaanku hari ini.
"Oi Erik, kau akan ikut dengan kami? Hari ini aku yang traktir."
"Maafkan aku, aku mempunyai urusan berbeda setelah ini."
"Sayang sekali, kalau begitu kami duluan."
"Aah."
__ADS_1
Jadwal khusus yang kulakukan hanyalah bersenang-senang dengan kedua senjataku, saat aku melakukannya jendela status terbuka menunjukan peningkatan.
Aku hampir naik dua kali lipat dari sebelumnya.
"Bukannya cara seperti ini lebih baik tuan."
"Kurasa begitu," jawabku ragu, yang kujalani sekarang hanyalah kehidupan tidak sehat.
Selama tiga bulan aku bekerja giat dan mengambil istirahat dua Minggu sekali, kehidupanku jelas nyaman tapi itu hanyalah sementara.
Di jalanan utama aku bertemu seseorang yang berdebat, mereka berdua saling memukul satu sama lain hingga aku memisahkan keduanya.
"Hentikan kalian, apa yang terjadi?"
"Dia tidak mau bayar barang yang dibelinya. dengan harga penuh."
"Itu sudah seharusnya, benda ini rusak aku membayarnya sesuai keadaannya."
Kizuna yang melihatku kerepotan muncul.
"Berhentilah kalian berdua, kita bisa menyelesaikannya dengan baik-baik."
"Dengan cara apa?"
"Bagaimana jika benda itu aku beli dengan harga yang ditawarkan sementara barangnya akan kujual lagi pada pelanggan ini dengan harga yang diinginkannya, setuju."
"Baiklah."
__ADS_1
Aku senang dia ada di sini.