
Sebelum dia menyerang, aku lebih dulu mengikat tubuh besi itu dengan tanaman yang menyeruak dari pijakannya.
Semakin dia berusaha meloloskan diri maka semakin kuat lilitan dari tanamannya, naga besi membuka rahangnya membuat sebuah bola raksasa dari sana.
Naga memang seperti ini terkadang Harty juga menyemburkan hal sama.
Aku membuat satu lagi sulur tanaman yang menjerat lehernya lalu menariknya ke bawah tanah dan itu membuat dirinya meledak karena ulahnya sendiri.
Tanah berhamburan bersamaan dirinya yang terpental ke udara. Besi tetaplah besi aku mampu memotongnya dengan baik lewat tebasanku. Kepala naga besi terlempar ke udara dan di saat yang sama tubuh yang lainnya terpotong-potong dengan rapih.
Sekarang bagaimana keadaan yang lainnya, aku menyarungkan kembali ke dua pedangku sebelum bergegas menuju ke arah suara pertempuran yang masih terdengar jelas, pertarungan Glory sepertinya telah selesai dan aku melihatnya tampak berbaring di tanah.
"Lion."
"Kau tak apa, biar aku bantu."
"Tidak usah, tinggalkan saja aku... lebih baik bantu yang lainnya kupikir mereka dalam kesulitan."
Luka Glory sepertinya tidak terlalu parah dia pasti bisa bertahan, sebagai pencegahan aku hanya menutup lukanya sebelum berlari ke tempat lain.
Di sana tampak Kizuna telah terbaring di tanah sementara Charlotte terbelah dua dengan kepalanya tertembus pedang, sungguh pemandangan mengerikan yang mana orang yang masih bertarung hanya sosok Ireta yang setengah topengnya telah hancur.
Bukan hanya itu fakta dia sedang melawan Solomon lebih mengejutkanku, aku membuang semua keterkejutan lalu segera menyembuhkan luka Kizuna dengan sihir air.
"Lion?"
__ADS_1
"Jangan dulu bergerak, aku akan memulihkanmu."
"Bagaimana dengan Charlotte?"
"Walau terlihat mengenaskan dia masih hidup, setelah menyembuhkanmu aku juga akan memeriksanya."
"Terima kasih."
Kizuna termasuk salah satu orang yang sangat kuat, meski begitu dia sama sekali bukan tandingan Solomon. Sudah sepantasnya dia disebut Bos dibandingkan naga besi yang sebelumnya kulawan.
Ketika Kizuna telah pulih aku ke segera mendekat ke arah Charlotte, aku menarik pedang dari kepalanya membuatnya tersadar.
"Kau terlihat cukup parah Charlotte," kataku memulai obrolan.
Dia sejenak mengalihkan pandangan ke arah Kizuna.
Dibanding peduli dengan keadaannya dia lebih mengkhawatirkan keadaan Kizuna.
"Nah Charlotte aku penasaran kenapa kau begitu memperhatikan Kizuna, apa kau ini lesbi?"
Tak ada jawaban jadi aku pikir aku benar.
"Hah, aku wanita normal.. jangan katakan kau selalu berfantasi tentang kami berdua selama ini."
"Lain kali tolong bantah lebih cepat lagi," balasku lemas.
__ADS_1
Aku menyatukan potongan tubuh lain Charlotte dan ia akhirnya terlihat seperti baru, bukannya aku memperlakukannya seperti benda yang telah diperbaiki hanya saja hampir seluruh bekas yang dia alami telah pulih sedia kala.
"Kizuna."
Charlotte buru-buru berlari ke arah Kizuna untuk memeriksa keadaannya, masih ada yang harus kulakukan jadi biarkan mereka bersama.
Solomon mengayunkan pedangnya pada Ireta yang telah kehilangan nafasnya karena pertempuran yang dipaksakan, sebelum bilah pedang itu membelah kepalanya aku muncul melalui sihir teleportasi jarak dekat dan menahan pedang Solomon dengan mudah.
"Maaf menunggu lama Ireta, apa kau baik-baik saja?"
"Mana mungkin aku baik-baik saja, tulang rusukku patah, gigiku tanggal serta topengku hancur.. yang membuatku kesal fakta bahwa aku tidak bisa mengalahkannya."
Mau bagaimana lagi topeng itu buatan Solomon jelas pembuatnya lebih kuat.
"Begitu, karena sudah ada aku.. kau bisa mundur."
"Aah, tolong balaskan dendam Julie."
Aku mengangguk mengiyakan sementara Ireta menyeret tubuhnya yang terluka untuk mendekat ke arah Kizuna dan Charlotte.
"Lama tak bertemu Solomon, sepertinya kau memang semakin kuat."
"Perkataan itu juga berlaku untukmu, paling tidak kau masih lemah dariku."
Kami masing-masing melompat ke belakang untuk menjaga jarak, aku berkata ke arahnya.
__ADS_1
"Aku sudah menduganya, sebelum salah satu dari kita mati maka tujuan kita tak akan selesai, karena itu mari selesaikan semuanya di sini."
"Aku juga memikirkan hal sama, entah dewi yang selalu bersamamu atau dirimu kalian berdua sama-sama pengganggu."