Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 251 : Pertarungan Di Ibukota Borman Bagian Satu


__ADS_3

Dari wilayah luar kerajaan Borman kami bergerak menuju ibukota, dalam perjalanan beberapa pasukan musuh mengepung kami dan peperangan tak bisa dihindari.


Glory terbang melayang untuk menjatuhkan Titan aku pun menyusul di belakangnya untuk membunuh Titan berikutnya.


Sementara di bagian bawah Thomas dan Ginny melakukan tugas mereka bersama pasukan lainnya, kami telah bertarung tiga kali dalam satu hari yang mana membuat seluruh tubuh kami telah mencapai batasnya, kini pasukan yang tersisa lebih sedikit dari sebelumnya.


Setelah mengalahkan raksasa aku bertarung melawan sesama manusia, banyak darah yang mengalir dari setiap pertarungan ini yang mana hanya dalam sekilas akhirnya aku mengerti apa yang direncanakan Solomon.


Ia mencoba membuat kami saling bertarung dan membunuh, tak peduli siapapun pemenangnya hasilnya adalah sama, jika yang diinginkannya pengurangan jumlah manusia maka dia memang telah berhasil.


Aku berdiri di antara puluhan mayat yang tergeletak begitu saja. Kami belum mencapai kekaisaran tapi korban malah jauh lebih banyak dari yang kupikirkan.


Peperangan ini membuatku muak.


Di aliran sungai itu aku membasuh wajahku dengan air, warna darah terpantul di alirannya lalu menghilang terbawa arus.


"Silahkan Lion."


"Terima kasih."


Aku mengambil handuk yang diberikan Rion untuk mengeringkan wajahku.

__ADS_1


"Ada yang kau pikirkan?"


"Tidak, cuma saja hanya dua orang bisa membuat kekacauan seperti ini."


"Maksudmu Solomon dan Nightmare kah, keduanya telah mengalami hal yang sulit meski begitu sungguh disayangkan mereka melakukan ini, dibanding mencoba merubah dunia lebih baik mereka berharap menghancurkan segalanya."


Aku hanya melihat pantulan wajahku di sungai sebelum sebuah pergerakan memaksaku untuk bersiaga.


Dari balik pohon seorang sedang membawa kudanya, ia berpenampilan seperti samurai dengan rambut panjang bergaya dango.


"Kanade?" panggilku demikian.


"Akhirnya aku bertemu denganmu lagi... aku tinggal di gua di sana."


"Jangan khawatir, aku berada di pihakmu sekarang."


Aku melirik ke arah Rion dan ia mengangguk mengiyakan sebagai konfirmasi bahwa perkataanya tidak bohong.


"Jadi apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin bergabung dengan pasukan kalian."

__ADS_1


"Hah? Setelah menyerangku kau ingin bergabung, apa yang kau rencanakan?" tanyaku curiga.


"Tidak ada yang kurencanakan.. aku hanya sudah mengerti apa yang terjadi di negara ini sekarang dan juga sepertinya seluruh pasukan musuh telah ditempatkan di ibukota."


Mendengar itu aku menghela nafas panjang.


"Ngomong-ngomong ternyata kau tampan juga."


Aku lupa telah melepaskan topengku, pada akhirnya aku memperkenalkan sosok Kanade pada yang lainnya sebelum kembali bergerak.


Di pertarungan selanjutnya mungkin kami harus bertarung habis-habisan, Ginny mengirim pesan untuk meminta bantuan pasukan terdekat dan bersama-sama menyerang ibukota yang kini telah berada di hadapan kami.


Kota ini telah ditinggalkan dan sekarang hanya menjadi lokasi peperangan. Di atas tembok ibukota para pasukan mulai menembaki kami dengan anak panah.


Beberapa jatuh dan beberapa lagi telah menunggu saat gerbang kota dibuka oleh Glory dan aku yang masuk lebih dulu.


Di dalam sana kami mulai menyebar membagi diri menjadi empat kelompok yang masing-masing di pimpin satu orang.


Aku dan Kanade bergerak bersama, sisanya Ginny, Glory dan juga Thomas bergerak ke arah lain.


Seperti yang dikatakan Kanade musuh yang telah menunggu kami sangatlah banyak. Aku menciptakan sihir api saat beberapa penyihir musuh menggunakan air sebagai serangan mereka.

__ADS_1


Kanade bergerak membantuku dan menebas mereka bersama pasukan yang kubawa, untuk sekian kali peperangan kembali pecah.


__ADS_2