Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 68 : Putri Dewa Titan Dan Masa Lalu Dari Dewi Jahat


__ADS_3

Gadis kecil tidur di sini sendirian?


Terlebih dia juga terlihat kelaparan?


Aku berbicara sendirian.


Di saat aku kebingungan.


Gadis itu hanya diam menikmati makanannya.


Penampilannya tampak lusuh serta terlihat tidak mandi beberapa kali, akankah aku mencoba membantunya.


Kurasa itu lebih baik, aku tidak akan tidur nyenyak jika mengabaikan hal ini.


"Ngomong-ngomong pekerja seperti apa yang kau ambil?"


"Aku diminta membantu komandan kota ini untuk melawan iblis."


"Gadis sepertimu?"


"Aku ini cukup kuat jadi jangan remehkan aku..


uhuk.. uhuk."


Dia tersedak, aku meminta dia membuka mulutnya lalu kukirim sihir air kepadanya.


"Sihir air memang sangat praktis."


Dia kembali melanjutkan makanannya.


"Aku juga memiliki perkejaan sama sepertimu, bagaimana jika kau bersamaku? Kau tahu aku juga memiliki tiga orang anggota partyku."


"Itu."


Ekpresinya berubah menjadi sedih.


"Siapapun yang bersamaku akan mati, aku tidak ingin hal itu terjadi."


"Aku tidak percaya hal semacam itu, takdir kematian sudah ditentukan semenjak orang itu lahir jika seseorang mati karenamu itu tidak lucu."


"Tapi itu kebenarannya."


Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya, meskipun...


"Aku sama sekali tidak percaya, jika begitu bergabunglah denganku mulai sekarang... aku bukan petualang kaya raya tapi lebih baik seperti itu dibanding hidup sendirian di tempat ini."


Nibela tampak kebingungan sesaat.


"Jika kau mati, jangan salahkan aku."


"Aku tidak akan mati."

__ADS_1


Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.


"Namaku Lion mulai sekarang mohon bantuannya."


Aku kembali ke penginapanku dan melihat semua anggota partyku tampak menunjukan wajah bermasalah.


Udara dingin menusuk punggungku.


"Mungkinkah ini alasan Lion menolak kita semua?"


"Aku mungkin harus segera melaporkannya ke pihak berwenang."


"Ah, kau menemukan putri Dewa Titan secepat ini."


Perkataan Rion bahkan lebih mengejutkan.


"Ehh?"


Gadis bernama Nibela tampak menggaruk kepalanya.


"Kenapa kakak ini bisa tahu tentangku?"


"Aku bahkan mengenal ibumu dan jujur saja dia sebenarnya masih hidup."


"Berhenti bercanda, ayah dan ibuku sudah.."


Rion kini memiliki wajah serius, dia meletakkan tangannya di bahu Nibela dan berkata.


Dengan kata lain yang menyuruh Rion untuk mencari putri Titan adalah ibunya.


"Ini terjadi saat perang Ragnarok hampir berakhir, saat itu ibumu diambil dari wilayah Titan oleh para dewi dan dipenjara di alam Dewi dan aku sebenarnya adalah teman ibumu."


Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan akan tetapi aku memilih mendengarkan semua cerita Rion sampai selesai.


Semuanya dimulai seperti apa yang dikatakannya dan dulu Riona bukanlah seorang Elf.


-Sudut pandang Riona.


Itu adalah sebuah kuil milik Dewi Harfilia yang sedang aku kunjungi, aku telah mengenalnya sejak lama mungkin jika itu di dunia fana mereka menyebutkan sahabat, itulah cara menggambarkan hubungan aku dengan dirinya.


Selagi membawa bekal berupa buah-buahan, aku berjalan ke sebuah penjara besar mirip sebuah kurungan burung di mana di dalamnya ada seorang yang sedang bermain ayunan.


"Aku membawakanmu buah-buahan."


"Riona, maaf selalu merepotkanmu."


"Jangan khawatirkan itu, kupikir kau lebih menyukai buah-buahan dari dunia fana jadi aku membawakannya untukmu."


"Terima kasih."


Aku mengupas kulitnya lalu memberikannya padanya, Harfilia memiliki rambut merah panjang berwarna merah, tubuhnya tidak terlalu kecil maupun besar akan tetapi dia sangat imut.

__ADS_1


Matanya berwarna merah ruby dengan suara bagaikan lonceng yang merdu.


"Ngomong-ngomong bagaimana suamiku?"


"Dia sudah meninggal, putrimu sepertinya berhasil selamat dengan menyembunyikan dengan sihir es keabadian."


"Begitu."


"Dibandingkan memikirkan itu, pikirkan dulu tentangmu... kau menikah dengan ras Titan dan sekarang kau pasti akan mendapatkan hukuman berat, kau mungkin akan dimasukkan ke dalam gerbang neraka Tiamat."


"Asal putriku selamat itu jauh lebih baik."


"Kau ini, aku tidak peduli denganmu lagi."


Aku berkata seolah tidak memperdulikannya.


"Kalau aku punya kesempatan aku ingin hidup bersama putriku, mengenakannya gaun dan juga memaksakannya makanan yang enak, dan kami bisa tertawa bersama maupun sebaliknya."


"Kau ini? Apa kau tahu apa yang telah kau lakukan? Dewi dilarang menikah dengan penghuni dunia bawah, jika kau ingin menikahinya lebih baik kau bereinkarnasi dulu jadi manusia... kepalaku sangat sakit."


"Maafkan aku, aku telah membuatmu kerepo..."


Sebelum dia menyelesaikan perkataannya aku telah melepaskan gembok yang mengikat kurungan tersebut.


"Pergilah dan temui putrimu, aku akan melakukan sesuatu di sini."


"Tapi jika kau lakukan."


"Tenanglah, aku akan mengambil gerbang neraka Tiamat."


"Kau mungkin akan diusir dari alam Dewi."


"Itu bukan masalah, mari bertemu lagi di dunia fana."


"Tapi..."


"Sudahlah, pergi sana... titip salam untuk putrimu."


"Riona."


Aku mendorong Harfilia jatuh ke dunia manusia yang dia inginkan.


Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, yang kutahu aku terbangun di sebuah tempat asing di mana seluruh tubuhku telah mengecil atau sejujurnya aku terlihat seperti gadis berusia lima tahun.


Aku menatap jendela di salah satu rumah dan kulihat wajah diriku di cermin, aku memiliki rambut perak dengan telinga runcing serta mengenakan gaun putih.


Mataku bulat dengan warna hijau emerald.


Satu kata yang keluar dari mulutku hanyalah.


"Aku elf."

__ADS_1


__ADS_2