
Evila melesat melukai Glory melalui pedang pendeknya, di saat dia terpojok Ginny terlibat juga dalam pertarungan menjadi dua lawan satu.
Dentrang.... dentrang....dentrang.
Brak.
Glory dan Ginny jatuh dan bangkit di saat bersamaan.
Glory menciptakan lingkaran sihir dari tangannya untuk menyemburkan air dari dalamnya yang mampu membasahi seluruh pakaian Evila.
"Sihir tak berguna, tunggu... ini bukan air."
"Tepat sekali, itu adalah minyak."
Mengetahui maksud dari Glory, Evila memekik terkejut namun semua itu terlambat tepat sihir api digunakan tubuhnya terbakar.
"Kerja bagus Glory."
"Kurasa masih belum, dia sepertinya menyembunyikan sesuatu."
Seperti yang dikatakan Glory, Evila pada akhirnya menarik sebuah botol ke tangannya lalu meminumnya meskipun dia sedang terbakar.
"Sialan, kalian berdua akan kubunuh, bunuh," teriakan itu menggema ke udara, asap abu-abu muncul dari sosok Evila ditambah dengan sedikit ledakan angin.
Evila telah berubah menjadi raksasa setinggi 70 meter, dengan tubuh diselimuti sisik mirip kadal.
"Dia berubah jadi Titan," ucap Ginny melompat saat tangan raksasa meraihnya, adapun Glory dia lebih memilih maju ke depan.
"Graaaaaah."
Raksasa itu berteriak lalu menepuk tubuh Glory hingga dia menukik ke tanah dengan bunyi dentuman keras.
"Menjadi raksasa hanya membuatmu semakin mudah diserang."
Ginny melompat ke hadapannya namun dari mulut raksasa Evila menyemburkan asap yang dalam sekejap membuat tubuhnya tak bergerak.
Itu adalah asap pelumpuh.
Dia terjun bebas sebelum ditangkap oleh Glory dari bawah.
__ADS_1
"Tangkapan bagus."
Keduanya jatuh sejajar dengan tanah.
"Padahal aku memujimu barusan."
"Kakiku terluka."
"Ah benar."
Raksasa di depan mereka mulai mendekat, sebisa mungkin Glory mengirim sihirnya namun semuanya hanya berakhir sia-sia.
Raksasa itu kembali mengangkat tangannya ke udara bersiap mengakhiri semuanya, tatapan yang dipenuhi kebencian tersebut dilayangkan ke keduanya.
Selanjutnya.
"Graaaaaah."
Duar.
Material terangkat ke udara menelan semuanya dengan ledakan besar meski keduanya tidak bisa menghindarinya sesuatu yang mustahil telah terjadi di sana.
Keempat sosok yang sebelumnya bersamanya telah menyelamatkannya.
"Kenapa kau diam begitu, bangunlah Glory... aku akan marah jika kau mati begitu saja."
"Qiana."
"Kita telah banyak berlatih kuharap kau juga semakin kuat sepertiku."
"Weis."
"Sepertiku? Kau lebih lemah dariku kau tahu.. dia harus sekuat aku untuk menyelamatkan dunia ini."
"Ace."
"Kalian berdua berhentilah membandingkan siapa yang terkuat, kekuatan hanya dilihat dari seorang yang terus berjuang tanpa menyerah."
"Edmund."
__ADS_1
Air mata mengalir di wajahnya, walau mereka bertemu sebentar saat mereka bergabung di pasukan yang sama mereka sudah terbilang dekat satu sama lain.
Qiana melanjutkan.
"Bangunlah Glory, kita kalahkan dia bersama-sama."
"Baik."
Glory menyeka air mata yang mengalir di wajahnya lalu mempererat kedua tangannya yang memegang pedang, diam-diam Ginny hanya memperhatikan selagi terbaring tak berdaya.
"Majulah."
"Aaaaah."
Bersamaan teriakan semangat Glory melangkahkan kakinya.
Raksasa yang sebelumnya terdiam mulai menggerakkan kembali tangannya.
"Tebas jarinya," ucap Qiana dan Glory melakukannya.
"Menghindar."
"Kemudian tangan lain."
"Baik."
Srak.
Keempatnya terus memberikan arahan pada Ginny, di sisi lain raksasa Evila hanya bisa meraung kesakitan.
"Glory?"
Qiana mengulurkan tangannya untuk menarik Glory ke atas lewat pergelangannya, kemudian dia meraih tangan Weis, selanjutnya Ace yang terakhir Diamond.
Dengan memutar tubuhnya dua pedang di tangannya dia silangkan ke udara kemudian dijatuhkan, mengirim dua tebasan sekaligus memotong tubuh raksasa Evila sekejap mata hingga rubuh.
Selagi berdiri ia melihat keempat rekannya yang hanya diam selagi tersenyum ke arahnya.
"Ini adalah bantuan terakhir kami, saat bertarung lagi jangan sampai mati ya," ucap Qiana melambai disusul yang lainnya hingga mereka menghilang menjadi butiran cahaya.
__ADS_1
Glory menyeka kembali wajahnya dan berkata
"Terima kasih," sebelum akhirnya terbaring karena kelelahan.