
Sudut pandang Ryker.
Setelah meninggalkan tembok suci Maria, kupikir semuanya akan berjalan lancar akan tetapi itu hanya harapan bodoh.
Aku berdiri di dahan pohon saat Kizuna mengarahkan para Titan melewati jalan di bawahku.
Aku bertemu Kizuna di tembok suci Maria dan sekarang dia bergabung denganku, aku awalnya tidak tertarik untuk menambah anggota party tapi kurasa dengan kemampuan Kizuna semuanya akan lebih ringan.
Dia pandai memasak dan juga bertarung dan itu adalah poin berharga dari seseorang jika ingin bertahan hidup di dunia ini, bukan berarti aku tidak pandai memasak hanya saja kemampuan Kizuna lebih baik dariku.
Berbicara soal penampilan Kizuna memiliki rambut hitam yang dipotong sebahu, ia memiliki kulit putih pucat dengan tubuh terbilang ideal, sebelumya dia memakai seragam yang diberikan oleh ortodok kesucian namun dia sekarang memakai pakaian yang dibuatnya dengan ajaib melalui kemampuannya.
Roknya pendek sementara bahunya terbuka sementara bagian ujung lengannya terkesan mengembang dan tertutup.
Untuk pakaian bagian atas itu berwarna hitam sama dengan roknya namun memiliki corak bunga berwarna merah, aku belum pernah melihatnya tapi dia menyebutnya sebagai kimono di negeri asalnya.
"Ryker."
"Baik."
Saat para Titan itu melewatiku aku melompat dan mengirim dua pedang untuk menghabisi mereka, dengan berdiri di pundaknya aku merobek leher mereka kemudian melompat untuk menghabisi sisanya.
Hingga mereka semua roboh ke samping.
Aku sungguh kasihan pada penduduk ini yang diubah menjadi makhluk mengerikan namun sayangnya tidak ada cara lain untuk mengembalikan mereka menjadi manusia kecuali membunuh mereka dan mencegah banyak orang mati karenanya.
Berbeda dari Titan yang asli, mereka dibuat untuk membunuh manusia dengan memakan mereka.
Sungguh pemandangan mengerikan saat melihat tubuh manusia berserakan tidak utuh.
Kizuna memeluk katananya lalu mendekat ke arahku.
"Itu yang ke dua puluh, kurasa sudah tidak ada lagi."
"Syukurlah kalau begitu, mari lanjutkan perjalanan, kita terlalu lama berada di sini."
__ADS_1
"Oke."
Suara lain menusuk ke telingaku, itu berasal dari pedang Kizuna yang sesungguhnya adalah artefak suci yang dibuat dari ratu roh Charlotte.
"Harusnya Kizuna yang menjadi pemimpin, bukan kau.. aku yakin dia lebih hebat dalam bermain pedang."
"Hoh."
Aku mendekatkan wajahku pada pedang bicara itu.
"Sekuat apa?"
"Sangat kuat dan berhenti bernapas di dekatku."
"Yah Charlotte hanya bercanda."
"Jika begitu bagaimana kalau kita berduel, anggap saja seperti latihan dan aku akan menuruti semua perintahmu."
"Tolong jangan terhasut dengan perkataan Charlotte, aku jelas tidak mau berduel, aku sudah bilang ingin bergabung dengan aliansi sudah sewajarnya aku menjadi bawahannya."
"Eh? Jadi..."
"Mari anggap kita berteman saja dan aku memintamu untuk membantu dan nanti akan kuperkenalkan dengan Lion."
Kizuna memiringkan kepalanya.
"Kau aneh."
"Aneh apanya?" kataku demikian.
"Bukan apa-apa, kupikir pria itu selalu ingin menjadi pemimpin."
"Kau hanya mengada-ada."
"Syukurlah kau bisa mengerti, tapi kuperingatkan jika kau macam-macam dengan Kizuna bagian bawahmu akan menghilang," tambahnya demikian.
__ADS_1
Aku hanya mendesah pelan sebagai balasan.
Roh ini begitu melindungi Kizuna, tidak berlebih bahwa dia memang menganggap Kizuna layaknya putrinya sendiri.
Kami baru melewati hutan namun pemandangan yang pertama kami lihat adalah sebuah desa yang sudah dihancurkan, hampir seluruhnya sudah tidak bisa dihuni lagi.
"Apa Titan yang baru kita kalahkan lebih dulu menghancurkan tempat ini?" tanya Kizuna.
"Kurasa begitu."
Aku mengambil sebuah tangan yang sudah terpotong dari tubuh utamanya lalu membungkusnya dengan kain, sebagai orang yang masih hidup aku memiliki kewajiban untuk melakukan satu hal terhadap desa ini.
Mari kumpulan potongan tubuh mereka dan kuburkan di satu lubang.
Ini untuk mencegah penyakit berbahaya dari tumpukan mayat atau lebih dari itu dimakan monster lain dan menjadikannya mereka terbiasa memakan manusia.
Tak hanya orang dewasa anak-anak juga menjadi korbannya.
"Ryker kau baik-baik saja."
"Tak apa, aku hanya mengingat Titan yang pernah menyerang kota yang kujaga."
"Apa mereka dimakan?"
"Yang menyerangnya Titan asli, mereka tidak makan daging namun membunuh semua orang dengan tragis."
"Begitu, aku akan berkeliling dulu untuk memeriksa yang lainnya.. kita bisa istirahat sebentar."
"Baiklah."
Kizuna berjalan meninggalkanku yang hanya duduk diam.
Beberapa orang di sini juga memilih untuk mengakhiri diri mereka sendiri dibanding dimakan.
Para Titan sudah berlebihan, dibanding merebut wilayahnya kembali mereka jelas berniat untuk membasmi umat manusia. Jika begini aku jelas tidak bisa memaafkan mereka semua.
__ADS_1