
Selagi merasakan hembusan angin yang menerpa padang rumput yang landai aku duduk di atas batu besar berlumut selagi melepaskan topeng dari wajahku.
Naina dan Salsa telah bertemu kembali hingga keduanya saling berpelukan, Harty yang tidak ada sangkut pautnya ikut memeluk keduanya hingga Valentine yang membuat sup berkata ke arahnya.
"Bukannya kau sudah terlalu lama berpelukan Harty?"
"Aku suka pelukan."
Kuharap kedua gadis kelinci itu tidak terganggu olehnya, Rion yang dalam bentuk elf meregangkan tangannya lalu merebahkan dirinya di atas batu.
"Hidup seperti inilah yang kuinginkan, damai tanpa terlibat hal merepotkan."
Orang ini telah banyak melakukan pertempuran jadi wajar jika dia menikmati hal ini, sore hari yang tenang selagi menikmati matahari tenggelam.
Rion berbaring ke samping selagi menahan kepalanya dengan tangannya.
"Jadi bagaimana sekarang? Di balik gunung itu merupakan wilayah negeri tanah, sementara arah sebaliknya adalah rumah mereka berdua."
"Karena sejauh ini, aku berkewajiban untuk mengantarkan mereka kembali ke rumah."
"Kau utusan dewi jahat, hal itu bertentangan dengan perintahku."
"Memangnya kenapa? Walau dewi jahat yang memanggilku kemari, bukan berarti aku harus sejahat dirimu."
"Itu memang benar, aku juga tidak keberatan sih.. asalkan jangan sampai kau berhubungan dengan dewi lain, kau tahu aku sangat bermusuhan dengan mereka."
"Sudah jelas, kau menyerang alam dewi.. dan menghancurkan kuil mereka," kataku lemas.
__ADS_1
"Bagiku itu hanya kejahilan kecil haha."
Dewi ini hanya terlihat manis saat dia diam.
Karena sedikit penasaran aku bertanya lebih jauh.
"Apa semua dewi itu memiliki telinga runcing sepertimu?"
"Jika kau suka kau boleh menyentuhnya?"
"Aku hanya penasaran saja," balasku ringan.
"Berbeda dari kebanyakan dewi, aku berasal dari ras Elf di hutan Arfa... awalnya aku hanya elf biasa yang memiliki keseharian biasa namun saat hutan membeku, aku memutuskan untuk bertambah kuat agar bisa mengembalikannya sedia kala hingga tanpa kusadari statusku malah menjadi dewi."
"Apa bisa hal itu terjadi?"
Tanda tanya muncul di atas kepalaku sementara Rion tertawa selagi membetulkan posisinya duduk menghadap ke arahku.
Dia meletakkan satu jarinya di bibir selagi memiringkan kepalanya dengan senyuman indah.
Banyak hal yang aku tidak tahu dari dewi ini, ketika waktunya kurasa aku akan tahu siapa sebenarnya Riona.
Aku yakin itu.
Valentine mengangkat tangannya sembari memanggil kami berdua.
"Waktunya makan, kalian berdua cepatlah."
__ADS_1
"Sebentar," ucapku berdiri lalu melompat ke bawah tanpa mengenakan topengku.
Aku membantu Rion turun, dan dadanya seperti biasa memantul dengan keelastisan yang sangat baik.
Dia tersenyum lalu berlari ke arah semua orang.
"Makan, berikan aku porsi yang sangat banyak."
"Tentu."
"Ayo Lion, duduklah di sampingku."
Aku mengangguk atas pernyataan Valentine dan duduk di sampingnya selagi menerima sup yang dibuatnya.
Salsa dan Naina tampak menatap ke arahku cukup lama.
"Ada apa kalian berdua?"
"Ini pertama kalinya kami melihat wajahmu, Lion sangat tampan."
"Aku tidak setampan itu," balasku pada Naina namun ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai balasan.
Begitu juga saudarinya.
"Dengan wajahmu seperti itu, aku tidak heran Lion bisa memiliki 20 istri atau bahkan lebih."
Aku hanya bisa tersenyum masam atas pernyataan tersebut.
__ADS_1
Aku tidak mungkin terlibat Harem bahkan sebanyak itu, kudengar hanya para raja yang menikah demikian dan alasannya sederhana hanya untuk memajukan negara.
Raja tersebut adalah raja yang berada di wilayah di negeri tanah yang akan aku kunjungi setelah mengantar kedua gadis ini kembali ke rumahnya.