
Aku mengenakan kembali topengku lalu berlari sepanjang jalanan ibukota untuk melompat ke atas tembok, dari sana deruman tanah yang bergerak mulai terdengar jelas, bersamaan itu Wisteria, Genjitsu dan juga seorang wanita bernama Yukisa telah mengikutiku dari sampingku.
"Ngomong-ngomong siapa dia? Dan dimana Aoi?"
Wisteria yang menjawab pertanyaan Genjitsu.
"Aoi sudah bersiap-siap untuk mengevaluasi penduduk jika terjadi sesuatu... dan ini adalah Lion, dia orang yang berkerja untukku."
"Jadi begitu."
Aku hanya menundukkan kepalaku sebagai jawaban sebelum mengalihkan pandangan ke arah para iblis titan.
Yukisa berkata setelah keheningan.
"Kita sebisa mungkin menjatuhkan beberapa saja, setelah itu maka giliran kita yang akan menyerang."
"Tolong lakukan," balas Genjitsu.
Meriam ditembakan tanpa jeda, bersamaan bunyi yang memakkan telinga barisan iblis titan mulai berjatuhan.
Bukan hanya titan aku merasakan kekuatan dari arah belakangku.
"Nona Hime dalam bahaya."
__ADS_1
"Apa katamu? Aku yang akan pergi," potong Genjitsu dan melompat ke bawah.
Kami hanya bisa mempercayainya bagaimanapun tidak ada siapapun yang bisa menahan mereka kecuali kami.
Setelah satu jam meriam ditembakan giliran kami untuk menyerang, pedang di tanganku mengeluarkan aura gelap.
Pedang yang kubawa dari kediaman Wisteria adalah pedang yang diberikan oleh Hime yang merupakan pedang iblis. Tak hanya satu pedang aku menggunakan dua pedang sekarang.
Dengan aba-aba Yukisa kami bertiga melompat lalu berlari menerjang, ada bercak hitam di tubuh keduanya yang merupakan penanda dari gerbang iblis itu sendiri, gerbang iblis merupakan teknik yang dimiliki iblis dimana itu adalah sebuah kutukan yang memperkuat penggunanya.
Ada dua tingkatan dalam penggunaannya pertama hanya memunculkan tanda sedangkan kedua adalah merubah seseorang menjadi bentuk iblis sempurna. Sejauh ini aku tidak tahu keduanya akan berubah jadi apa namun yang kutahu Wisteria menggunakan teknik yang indah.
Dari sekitarnya puluhan kupu-kupu berterbangan ke segala arah, setiap kupu-kupu itu masuk ke dalam tubuh iblis titan dan mereka meledak dari dalam.
Di sisi lain Yukisa memiliki pola ombak di tubuhnya, pedang yang dia tebaskan menciptakan bilah air yang memotong apapun bahkan jika mereka setinggi 80 meter.
Mereka benar-benar kuat.
Aku melesat di antara kaki salah satu iblis titan saat mereka hilang keseimbangan aku memenggal kepala mereka sebelum melompat ke iblis titan lainnya selagi memberikan kematian pada mereka.
Di dunia manusia memang sedikit kesulitan tapi di sini aku lebih baik dimana dua orang ini bisa membantuku. Puluhan dari mereka bisa dikalahkan dengan mudah dan hanya tinggal beberapa ratus lagi yang harus kami habisi.
Aku menancapkan pedang yang mana membuat jurang yang melahap seratus iblis titan ke dalam tanah sekaligus, ketika mereka mencoba untuk keluar dari sana tanah yang mengerucut dari pinggirnya menebus tubuh mereka sebelum akhirnya jurang itu tertutup kembali.
__ADS_1
Bahkan setelah tengah malam kami terus bertarung, Yukisa menciptakan ombak yang menyapu mereka ke belakang dengan sihir petir dia merobohkan paling tidak puluhan dari mereka.
Aku, Wisteria maupun Yukisa saling membelakangi satu sama lain.
"Mereka tidak ada habisnya? Lion kau memiliki rencana?"
"Meski kau menanyakan padaku selain mengalahkan mereka tidak ada lagi yang bisa kukatakan."
"Aku punya rencana, kita pergi saja dari sini," potong Yukisa.
"Itu jelas bukan rencana, apa Yukisa takut?" Wisteria menggoda.
"Aku tidak takut, hanya saja aku sudah mencapai batasku mungkin hanya satu atau dua tebasan lagi yang bisa kulakukan."
"Sejujurnya aku juga begitu."
Aku menciptakan lingkaran sihir air di bawah kaki kami, tak hanya berfungsi memulihkan luka lingkaran ini juga memberikan tenaga.
"Lion?"
"Kita akan terus bertarung sampai semua ini selesai."
Keduanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1