
Kompetisi ini memang dirancang agar berjalan dengan cepat, dari penyeleksian maju ke semi final kemudian final.
Tidak aneh jika pertandingan ini dimulai dari siang hari hanya saja kenapa seorang pembunuh naga juga diperbolehkan ikut menjadi kontestan.
Itu terlalu berlebihan paling tidak orang yang bertarung dengannya harus setingkat naga untuk bisa seimbang menghadapinya, aku mungkin akan berfikir bahwa gadis itu memerlukan uang.
Di sisi lain karena panti asuhan telah memenuhi kebutuhannya Mamia tidak dituntut untuk menang, dia sekarang hanya ingin menguji kemampuannya saja.
Mereka berempat berbaris dan mulai mengundi nomor pertarungan, yang akan bertarung pertama adalah Mamia melawan Estelle. Keduanya berdiri saling berhadapan di arena dengan postur siap bertarung, ketika lonceng berbunyi pertarungan dimulai.
Mamia mengayunkan pedang dari samping yang ditangkis baik oleh Estelle, dia memutar tubuhnya untuk mengirim tebasan berikutnya, dalam waktu singkat kemampuan Estelle meningkat pesat.
Senjatanya mengharuskan dia bertarung dari jarak dekat membuat Mamia kesulitan mengimbangi.
"Hebat sekali, Estelle memang kuat."
"Mamia juga."
Mereka menendangkan kakinya secara bersamaan membuat semua orang terpukau saat keduanya bersilangan lalu mundur menjaga jarak.
Estelle menggunakan sihir 'Fire Bolt' dan Mamia menggunakan pelindung dari sihir cahaya sebelum melesat maju, dia melompat melebihi tinggi Estelle untuk menjatuhkan pedangnya.
Estelle berguling dan pedang itu hanya menghancurkan tanah pijakannya membuat ledakan besar di sana.
Mamia melesat ke samping mengejar pergerakan Estelle, Estelle pun tidak lari melainkan menghadapinya secara langsung, dia menendang pergelangan tangan Mamia hingga pedangnya terlempar menancap di tembok, itu hampir menusuk salah satu penonton.
Sementara penonton itu terduduk lemas Estelle keluar menjadi pemenangnya.
"Aku kalah."
"Pemenangnya Estelle."
__ADS_1
Ini jelas kemenangan baginya.
Estelle melompat-lompat selagi mengarahkan tangan ke arahku.
"Aku menang Lion, menang."
"Kerja bagus."
Aku senang dia berhasil meskipun sekarang tatapan para pria padaku penuh dengan hawa membunuh.
Pertarungan kedua Vale melawan Varlia telah dimulai, Varlia berdiri dengan tatapan datar saat Vale menerjang maju ke arahnya.
Vale tampak kesal mungkin tepatnya marah.
"Dasar pembunuh naga sialan, akan kubuktikan bahwa gelar itu hanya kebohongan."
Dia mengayunkan tongkatnya dan Varlia menangkap tongkat tersebut dengan tangan kosong seolah itu memang sebuah hal yang membosankan.
"Aku datang kemari untuk mencari kandidat teman perjalanan yang bisa membantuku melawan raja iblis, sejauh ini kalian semua sangatlah lemah."
Vale tersungkur ke bawah, saat dia hendak bangkit sebuah tendangan menghantam wajahnya hingga dia menukik menembus tembok lalu pingsan di sana.
"Pemenangnya Varlia Vallaha."
"Aku ingin menyelesaikan pertarungan ini, pemenang di babak pertama silahkan maju."
Estelle yang berada di sampingku dengan Mamia menunjukkan wajah bermasalah.
"Aku tidak yakin bisa mengalahkannya."
"Coba saja dulu, dia tidak akan membunuhmu... kurasa."
__ADS_1
"Kurasa?"
Estelle naik setelah memaksakan dirinya, baru satu menit dia terlempar ke luar arena.
"Menarik, sejauh ini hanya sedikit orang bisa bertahan satu menit melawanku."
"Kalau begitu pemenangnya adalah Varlia."
Dia memiliki tujuan yang sama dengan kami hanya saja kondisi yang kuinginkan adalah Estelle yang membunuh raja iblis jika dia yang melakukannya aku tidak bisa kembali ke duniaku, paling tidak aku berharap dia tidak ikut dengan kami.
Ketika aku memikirkannya Varlia menunjuk ke arahku.
"Aku ingin melakukan pertarungan melawan pria bertopeng di sana sebagai bonus pertarungan, apa bisa?"
Panitia yang hendak memberikan uang langsung berhenti untuk mengikuti pandangan ke arahku.
"Tapi dia bukan kontestan? Jika semua orang tidak keberatan maka pria di sana bisa naik ke arena."
Semua pria jelas tidak menolaknya malah lebih memprovokasi Varlia untuk menghajarku.
Aku menghela nafas panjang sebelum melompat ke arena.
"Apa boleh buat? Tapi jika aku menang uang di tanganmu akan jadi milikku."
"Tidak masalah, aku tidak terlalu membutuhkan uang bahkan karena kau mau naik ke atas sini akan kuberikan."
Varlia melemparkan uangnya padaku dan jelas panitia kompetisi ini tampak kebingungan, harusnya uang ini diberikan pada pemenang tapi malah kacau balau seperti ini.
"Kalau begitu aku ingin memberikannya pada panitia kembali, banyak hal terjadi di sini kuharap dia akan melakukan kompetisi berikutnya yang sedikit normal."
Wajahnya mulai menangis terharu.
__ADS_1