Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 219 : Padang Gurun Merah


__ADS_3

Nightmare menjatuhkan beberapa koin perak di depan pemilik penginapan.


"Berikan aku satu kamar."


"Itu, apa kau sendirian?"


"Jangan khawatir aku seorang petualang."


Walau ragu, pemilik yang merupakan wanita tua memberikan kuncinya lalu hanya melihat kepergian gadis itu dengan wajah ketakutan. Ia bisa merasakan jika dia menolak memberikannya hidupnya akan mati dalam sekejap.


Tubuhnya terkulai lemas dengan sedikit perasaan lega di dadanya, hal yang bisa dia lakukan hanya mencoba untuk tidak berurusan dengannya.


Penginapan ini memiliki kamar yang bagus di mana di dalamnya tersedia bak mandi sendiri, walau mereka tidak memberikan makanan mereka masih menyediakan rak yang diisi pakaian tidur yang bisa penyewa kenakan.


Selama perjalanan bersama gurunya Nightmare tidak memiliki pakaian lebih, karena itu dia cukup terbantu dengan ini.


Bukan karena dia tidak memiliki uang hanya saja pelatihan yang diberikan Clarisa sangatlah kuat membuat seluruh pakaiannya rusak, dia ingat bagaimana dia harus berlatih dengan hanya menutupi dirinya dengan daun-daunan.


Setelah melepaskan pakaiannya Nightmare meluncurkan tubuh kecilnya ke dalam bak mandi selagi mengusap-usap kulitnya.


Setelah selesai dia menekan dadanya dan memijatnya perlahan.


Saat dia diperjual belikan sebagai budak seseorang telah memberikan sihir kutukan padanya sehingga seberapa banyak dia melakukan hubungan intim dia tidak akan pernah hamil. Mengingatnya membuat Nightmare tersenyum senang.


Dia membuka mulutnya bagaikan seorang monster yang telah terbangun dari tidurnya.


"Akan kubunuh kalian semua."


Pagi berikutnya Nightmare pergi ke guild petualang untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan alamat yang ditulis oleh Clarisa, dia bertanya pada gadis loket dan dengan senang gadis itu memberikan informasinya.


Tempat di tulis di sana merupakan padang gurun merah yang konon ditinggali para monster, tidak ada orang yang berani datang ke sana dan mereka memutuskan untuk menghindarinya.


Dari kota Nightmare berada perlu beberapa minggu untuk sampai di sana.

__ADS_1


"Jadi begitu, terima kasih."


Nightmare mengambil quest kecil di papan permintaan lalu berjalan pergi.


"Tolong berhati-hatilah, di luar terjadi pembunuhan."


Tentu suara itu tidak akan pernah sampai ke telinganya, karena dialah pembunuh sebenarnya.


Di depan gerombolan para Orc, Nightmare membunuh mereka dengan mudah, selagi menggusur tubuh Orc yang dipenuhi luka, para petualang yang sebelumnya meremehkannya hanya bisa menahan nafas mereka.


Untuk membunuh satu Orc perlu dilakukan beberapa anggota sementara baginya sendiri lebih dari cukup.


Orc raksasa yang menjadi raja para Orc yang dihadapinya telah mencapai batasnya.


"Mustahil, bagaimana bisa bocah sepertimu?"


Nightmare memainkan pisau di tangannya.


"Jika kau meremehkan musuhmu kau akan mati loh... paling tidak cobalah melawanku dengan serius "


Orc itu menerjang ke depan dengan pedang besar di tangannya, saat ia mengayunkannya Nightmare berputar mengikuti pergerakan lengannya, dengan sekali tebasan tangan Orc terpotong rapih.


"Dasar monster."


"Tidak sopan, aku elf yang cantik.. hora."


Nightmare menendang tubuh musuhnya hingga tumbang, ketika dia hendak bangun Nightmare menikam jantungnya beberapa kali selagi tertawa.


"Hahaha bunuh, bunuh, apa segini kemampuanmu.. cepat balas aku, cepat.. heh, apa kau sudah mati... sama sekali tidak menyenangkan."


Beberapa hari berikutnya semua petualang berusaha menghindari Nightmare, selama di guild dia hanya berpetualang sendirian dan duduk di meja makan tanpa ada siapapun yang menggangunya sampai beberapa orang petualang peringkat atas yang sebelumnya pergi menjalankan misi muncul dan mengerumuninya.


Salah satunya menepis makanan Nightmare hingga jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Kudengar kau petualang solo, bahkan ajakan petualang lain kau.."


SRAK.


Sebelum petualang itu melanjutkan perkataannya tangannya terpotong ke udara.


"Ara, tiba-tiba saja tanganku bergerak sendiri.. maaf apa itu sakit... kurasa tidak, petualang tingkat atas tidak mudah merasa sakit kan? Kan?"


"Tanganku, tanganku kau?"


Beberapa staf guild segera menengahi perkelahian itu.


"Tolong jangan berkelahi di guild."


"Sialan, akan kubuat kau membayarnya."


"Benarkah, majulah."


"Cukup sampai di sana," suara itu berasal dari pria yang bertugas sebagai kepala penjaga yang muncul bersama beberapa orang di belakangnya.


"Apa kau yang bernama Nightmare?"


"Hmm kasih tahu tidak yah."


"Berhentilah bermain-main, beberapa orang yang kami penjarakan tiba-tiba saja terbunuh dalam sel... kami menduga bahwa kau pelakunya."


"Karena kejadiannya terjadi saat aku datang kemari, kalian bisa menuduh seenaknya... lalu bagaimana para penjahat itu mati?"


"Seseorang menaruh racun ke dalam makanannya, anehnya yang mati hanya penjual budak."


"Heh begitu... jadi bukan aku, aku tidak pandai meracuni orang, aku hanya pandai tidur dengan pria."


"Pokoknya ikutlah dengan kami."

__ADS_1


"Baik, baik."


__ADS_2