Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 174 : Penyihir Titan


__ADS_3

Jika kami bisa mengalahkan orang ini maka, tidak akan ada lagi manusia yang dijadikan raksasa.


Maka hari ini kami memang tidak boleh kalah.


Aku mengirim pasukanku untuk menyebar bukan karena meremehkannya melainkan sebaliknya, jika membiarkan mereka ikut bertempur itu hanya akan membuang nyawa tidak berarti.


Orang di depanku memang pantas menyandang gelar jenderal. Titan yang dikendalikannya mulai menerjang ke arahku, tak perlu menghindarinya aku hanya perlu menggunakan Magic Tree yang mana telah menusuknya dengan tanaman dari segala arah, tubuhnya mulai mencair dan terserap ke dalam tanaman.


Dihadapkan dengan kekuatan ini sosok Rumia hanya menghela nafas.


"Barusan raksasa yang bagus, sayang sekali berakhir mengenaskan."


Gracia bangkit dan dalam sekejap tubuhnya terselimuti amor besi dengan penutup wajah menyerupai kepala naga.


Pedang Theresa di tangannya memunculkan sinar keemasan.


"Menyerangnya dengan setengah-setengah tidak akan berarti untuknya, mari keluarkan semua yang kita miliki."


"Itu memang benar."


Dengan bantuan Aira dan Rion di pedangku, dia bukanlah musuh yang sulit bahkan jika dia memutuskan untuk memakai wujud Titan.


"Majulah kalian berdua."

__ADS_1


Aku mengayunkan pendangku dengan sebuah putaran, seolah tubuhnya terbuat dari asap Rumia bergerak ke belakang. Ia memunculkan tongkat untuk menahan teknik pedangku.


Aneh rasanya bahwa tongkat itu terbuat dari kayu meski begitu masih bisa menahan pedang, kedua pedangku terpental oleh sebuah gelombang mana, di saat itu Gracia turut menyerang dari sebelahku.


Kilatan cahaya tercipta saat senjata kami saling berbenturan.


Rumia melompat ke udara lalu berdiri di atas tongkatnya selagi mengarahkan kedua tangannya dengan sebuah rapalan.


"Gate to the hell."


Seketika seluruh api menyembur dari sekeliling kami berdua.


"Tidak masalah aku bisa mengatasinya," dengan sihirku aku menciptakan bola-bola air yang selanjutnya memadamkan api tersebut.


Sebagai balasan aku menciptakan api raksasa lalu menembakannya seperti sebuah meriam.


"Fire Bolt adalah sihir dasar tak kusangka kau bisa menggunakannya sekuat itu."


"Apa itu berarti aku lebih kuat darimu."


"Tidak, aku bahkan lebih dari itu."


Sekitar sepuluh bola api muncul di dekat Rumia yang dia lesatkan padaku, awalnya itu hanya setitik bola tapi lama kelamaan bertambah besar.

__ADS_1


"Sihir yang luar biasa, aku yakin dia bekerja keras untuk melatihnya."


"Aku juga sepakat dengan Riona."


"Kalian berdua bukan waktunya memuji musuh," aku menyela perkataan keduanya dan Gracia telah siap dengan serangannya.


"Grand Chaos Ariesta."


Pedang bersinar diayunkan melahap seluruh api dalam sekejap, cahaya tersebut menyayat tubuh Rumia hingga dia memuntahkan darah dari mulutnya.


"Pahlawan memang hebat, jika kalian memiliki kekuatan seperti ini seharusnya kalian bisa mencegah perang ini terjadi."


Walau Gracia memiliki kekuatan luar biasa itu jelas mustahil, peperangan ini dibuat oleh Nightmare dengan memanfaatkan berbagai situasi.


Pertama Solomon yang membenci manusia dan mencoba menyelamatkan rasnya apapun yang terjadi.


Titan yang berusaha mengambil tanah yang diambil oleh manusia dan terakhir adalah rencananya untuk mengambil alih alam dewi.


Semua itu tidak bisa dihindarkan.


Rumia kembali mendaratkan kakinya dan melapisi dirinya dengan sihir penyembuhan. Sejauh ini dia tidak mengambil wujud raksasa dengan kata lain ia masih menyembunyikan kekuatannya sesungguhnya.


Aku bertanya ke arahnya.

__ADS_1


"Kau membuat manusia menjadi raksasa, apa kau juga bisa merubah mereka kembali?"


"Tentu saja tidak bisa, aku membuat mereka membayar apa yang mereka perbuat... mereka telah membunuh anak dan suamiku, sekarang maka terimalah akibatnya bagaimana kalian mati."


__ADS_2