Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 417 : Gerbang Penghubung


__ADS_3

Kami bertiga kembali ke kota Eldar dimana Valentine, Harty, Siel dan juga Farida telah menunggu kedatangan kami di luar labirin, mereka sedikit terkejut dengan seorang wanita yang hanya mengenakan gaun dari daun telah menempel di lenganku dan ketika aku menjelaskannya mereka mengangguk kecil.


Semuanya telah selesai dan kami sekarang hanya akan membuat laporan ke guild dan menerima banyak uang untuk tiap orangnya.


Karena sangat banyak, kami baru bisa menerima bayarannya setelah tiga hari berlalu, meski demikian itu sudah cukup membuat perubahan besar pada semua orang.


Siel mendirikan kafe kucing seperti yang diinginkannya sementara di sebelahnya Farida membuat toko bunga yang cukup populer dikalangan wanita di sini.


Dari sini keduanya akan memiliki kehidupan yang normal sekarang.


Sekembalinya ke benua iblis.


"Lion bagaimana penampilanku sekarang?"


"Itu sangat cocok denganmu," balasku demikian.


"Hehe."


Hari ini Alteira mengenakan gaun terusan panjang yang memiliki dasar putih dan biru untuk menemui teman lamanya Clarisa Marie di kediamannya di Elfdian, ia bahkan memotong rambutnya sebahu sekarang.


Aku sudah menyarankan untuk dia tinggal bersama para ras titan di negara Nibela namun sayangnya ia memilih untuk tinggal di sini sebagai asisten pribadiku bersama Livia.


Aku tidak bisa berbuat banyak untuk itu.


Livia juga tidak keberatan mengingat pekerjaannya akan berkurang setengahnya, pintu dibuka menampilkan Clarisa Marie yang sedang duduk membaca buku besar di tangannya.


Dia menggunakan tangan buatan dari kayu serta menutup tangannya dengan sarung tangan hitam, hampir semuanya terlihat normal.


"Sepertinya kau sudah berhasil mengumpulkan batu bintangnya, tak kusangka kau juga berhasil menyeret Alteira dari rumahnya."

__ADS_1


"Tidak sopan dengan mengatakan menyeret, aku yang memutuskan untuk ikut dengannya."


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan dan Livia hanya diam mendengarkan.


"Hoh, dalam sekejap kau banyak berubah... tapi itu bagus."


Clarisa tersenyum, menutup bukunya lalu meletakannya di meja sebelum berjalan ke arahku.


"Aku sudah membuat gerbangnya kini hanya perlu semua batu bintang itu."


Aku memberikannya dan bersamanya pergi ke sisi lain dari Elfdian yang masih merupakan daratan kosong, Elfdian sendiri adalah kota di tengah danau, untuk sampai ke sana kami berjalan melewati jembatan yang menghubungkan daratannya.


"Hebat sekali, ini jembatan raksasa.... waktu benar-benar sudah berjalan sejauh ini."


"Fufu banyak hal yang mengagumkan jika bersama Lion, aku juga menunggu apa lagi yang dia buat di masa depan."


"Aku merasa tertekan di sini."


Clarisa maupun Alteira segera menatapku dengan pandangan berbinar.


"Televisi, apa itu?"


"Kalian berdua terlalu dekat. Aku berniat membuat sebuah acara hiburan, misal jika seseorang sedang bernyanyi di tempat ini maka orang-orang di tempat jauh pun bisa melihat maupun mendengarkannya secara bersamaan."


"Itu benar-benar hebat, aku tidak sabar untuk melihatnya."


"Aku juga begitu."


"Masih banyak yang harus dilakukan di negara ini jadi, kalian harus bersabar."

__ADS_1


Berbeda dengan di negaraku yang sudah biasa, di sini hal itu memang baru pertama kali dilakukan.


Clarisa mengangkat tangannya dan sebuah gerbang raksasa setinggi 50 meter jatuh dari langit, ada sepuluh lubang kosong di bagian depannya yang mana setiap lubang tersebut diisi oleh batu bintang yang sebelumnya kudapatkan di labirin.


Kesepuluh batu bintang bersinar terang hingga gerbang tersebut terbuka lebar.


Jauh di dalam istana kekaisaran, Hime yang mendengar kedatangan Lion mengangkat gaunnya ke atas lalu berlari sepanjang koridor.


Wisteria dan juga Yukisa di belakangnya berlari untuk mengejarnya.


"Nona Hime, tolong jangan berlari."


"Nona Hime."


Perkataan keduanya jelas tidak didengar sama sekali, dia berhenti lalu mengatur nafasnya di depan gerbang istana selagi melirik seorang pria yang dengan santai membuka topengnya di depan wajahnya.


"Lion?"


"Lama tak bertemu Hime, hmm kurasa nama itu jelas lebih mudah diingat."


Hime yang tersenyum lebar berlari ke arahnya lalu melompat untuk memeluknya, di dorong insting Lion pun membalas dengan pelukan sama.


Clarisa Marie yang diam-diam memperhatikan dari belakang bersama kedua sekertaris berbisik pelan.


"Entah kenapa mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu."


"Benar sekali, kupikir dua orang lagi di belakangnya juga ingin melakukan adegan yang sama."


"Um... bikin iri."

__ADS_1


"Aku bisa mendengar itu."


__ADS_2