Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 459 : Hal Untuk Dipersiapkan


__ADS_3

Berbeda dengan di dalam kota seharusnya setiap orang bisa bicara normal di luar kota, dan itu memanglah benar.


Berbeda dengan kota sebelumnya kota ini lebih bisa diajak berkerja sama, mereka membantu untuk mempersiapkan hal yang dibutuhkan untuk pertahanan seperti jebakan serta alat-alat yang telah kubuat lewat sihir kayuku.


"Tuan Lion, kami sudah membuat jebakan lubangnya.. apa yang harus kami lakukan?"


"Ini sudah cukup kalian hanya harus berlatih menggunakan busur dan panah saja.


"Kami mengerti."


Sama seperti sebelumnya aku tidak berniat membuat orang-orang baik ini untuk maju di garis depan, mereka hanya akan menyerang dari jarak jauh dan sisanya akan kami ambil alih.


Varlia berkata selagi menatap senjata yang kubuat.


"Ini sangat hebat, apa namanya."


"Ketapel."


"Ketapel kah."


Seperti yang kukatakan itulah yang kubuat sekarang, di jaman abad pertengahan atau mereka sering menggunakan alat ini, itu berupa empat roda dengan penahan batu yang menyerupai sendok raksasa. Batu yang dibakar akan diletakkan di sendok lalu akan ada seseorang yang memotong talinya hingga batu itu terlontar jauh ke depan.

__ADS_1


Setiap ketapel aku meminta dua orang untuk menjalankannya, ada bahan mirip tiner yang digunakan agar mudah dibakar.


Sebagai demontrasi aku menunjukan hal itu pada semua orang dan seperti yang kuduga batu terlontar lalu jatuh ke tanah dengan ledakan besar.


"Bahkan aku yakin dengan ini kita bisa mengalahkan naga."


Aku harap akan begitu, naga memiliki kecerdasan dibanding makhluk lainnya, mereka sebuah pengecualian.


Mempersiapkan hal ini selama beberapa hari rombongan pasukan raja iblis telah tiba di kota, itu terdiri dari ribuan laba-laba hitam dengan pemimpin wanita yang menyerupai manusia namun masih memiliki tangan laba-laba berjumlah delapan buah di belakangnya.


"Silahkan makan anak-anakku, kalian bisa melahap daging manusia yang tampak lezat itu haha."


Jebakan pertama membunuh sebagian dari mereka yang berupa lubang yang di bawahnya diisi dengan bambu-bambu runcing, semakin musuh kami berat maka semakin mudah pula mereka terjebak.


"Tim ketapel bersiap.... tembak."


Mengikuti arahanku mereka melepaskan peluru yang sebelumnya dipersiapkan, setiap tubuh laba-laba yang terkena hancur hingga bercerai berai dengan mudahnya.


Estelle meletakan tangannya di pinggang selagi berkata penuh kemenangan.


"Dengan ini pekerja kita akan semakin mudah."

__ADS_1


"Berbeda dari kota sebelumnya kurasa kita tidak akan terlalu menggunakan kekuatan kita," ucap Mamia yang mana mendapati anggukan kecil Hualing meskipun sebenarnya dia belum terlibat peperangan yang kami lakukan sebelumnya.


Kami terus memborbardir para laba-laba tersebut tak terlewat juga pasukan busur yang terus bergantian menembakan anak panahnya.


"Apa-apaan ini? Kenapa manusia bisa sekuat ini, bukannya mereka hanya makhluk tak berguna."


"Kau terlalu meremehkan manusia bukan."


Aku menebas dari belakang, itu melukainya tapi tidak terlalu dalam.


"Cih," decapnya demikian.


Varlia dan Estelle juga mengambil langkah untuk menyerangnya juga dibantu Mamia, mengeroyok satu orang dengan jumlah banyak bukan gayaku tapi kami juga tidak ingin mengambil resiko untuk melemahkan serangan.


Hualing bernyanyi dan alunan suara merdunya mulai memberikan kami kekuatan.


"Sialan, jadi kalian lah yang menyerang pasukan yang lain, aku tidak akan membiarkannya."


Wanita itu membuka mulutnya dan dari sana laba-laba yang kecil bermunculan lalu menyebar ke sekeliling kami, dengan sihir Estelle ia membekukan mereka dengan mudah sebelum melesat maju.


Kaki wanita laba-laba itu juga membeku jadi sulit untuk bergerak.

__ADS_1


"Tunggu, aku menyerah tunggu."


Tebasan Estelle mengakhiri semuanya.


__ADS_2