
Setelah selesai dengan pekerjaanku aku kembali ke kediamanku di istana, Aira, Rion, Valentine dan juga Harty duduk di perkarangan rumah menikmati teh bagaikan seorang bangsawan.
"Kalian benar-benar sangat santai?"
"Bekerja tidak cocok untuk kami."
"Benar sekali, kukuku bisa rusak."
Kenapa dengan orang-orang ini.
Ketiga pelayanku Friella, Laina dan Misa masih terlihat bekerja, karena ketiganya kurasa mereka akan selalu santai.
"Aku sebenarnya ingin bekerja tapi mereka melarangku."
"Tidak, Valentine tidak boleh bekerja jika orang ini, ini dan ini memang harus bekerja."
"Kami berdua istrimu loh."
"Yah, naga tidak pandai bekerja mereka hanya pandai merusak."
Harty mengatakannya dengan bangga.
Mereka lalu mengembungkan pipinya.
"Aku mengerti, kalian tak perlu bekerja."
"Yaattta, Lion bisa mengerti akhirnya," ucap Rion sebagai perwakilan.
Aku hanya tersenyum sebagai balasan, aku tidak berniat memaksa mereka lagipula Rion dan Aira adalah pedangku juga.
Keesokan paginya aku kembali mengerjakan jalan untuk menghubungkan kedua kota, walau membuatnya cukup lama pekerjaan aku dan Livia telah selesai di awal.
Membuka jalan selama 5 hari dan sisanya akan diselesaikan para pekerja, aku juga membuat beberapa jembatan seperti apa yang kukatakan.
Tersisa satu hari sebelum aku berangkat ke kerajaan Frames oleh karena itu aku memutuskan untuk memeriksa negara yang dibuat oleh Nibela.
Negara para Titan bernama kerajaan Andromeda.
Para Titan hidup seperti manusia pada umumnya karena itu entah rumah atau bangunan lainnya semuanya berukuran sama, ketika aku mengunjungi Nibela dia melompat ke arahku.
Tubuhnya kecil jadi sangat menyenangkan saat memangkunya ke atas.
"Ara, papa sudah pulang," yang berkata itu adalah ibu Nibela seorang Dewi bernama Harfilia.
__ADS_1
Keduanya memiliki kesamaan yang mana memiliki rambut merah.
"Yah... aku bukan suamimu."
"Apa? Padahal kita sering menghabiskan malam bersama."
Dia terduduk selagi mengusap air matanya, tentu itu semua hanya akting.
"Maaf Nibela, ibu tidak bisa memberikanmu papa baru... ini karena ibumu tidak menarik, tubuhku tidak bisa dibandingkan Rion."
Sementara Harfilia berkata itu dan ini, aku masih mengangkat Nibela.
"Aku diabaikan," teriak Harfilia.
"Tolong jangan perlakuan aku seperti anak kecil."
Padahal dia memang masih kecil.
Aku menurunkannya sementara Harfilia menatapku curiga.
"Kau menyukai putriku."
Sampai kapan kau mengatakan hal aneh-aneh."
Yang terlihat malah mirip seperti janda yang berusaha menggoda suami orang lain.
Kurasa aku akan menghiburnya.
"Bagaimana kalau kita bertiga berjalan-jalan di sekitar kota."
"Itu yang selalu aku tunggu."
Tangan kiri memegang tangan Nibela dan tangan kanan adalah ibunya, entah kenapa kurasa kami benar-benar mirip keluarga.
"Nah, Nibela kau ingin kemana?" tanyaku.
"Taman kota, aku selalu melihat beberapa keluarga pergi ke sana untuk menghabiskan waktu bersama."
"Kalau begitu kita juga."
"Hore."
"Kalau aku ingin pergi ke hotel berdua saja."
__ADS_1
"Aku tidak ingin pergi ke sana."
Sudah jelas dia mencoba menjeratku.
Di taman kota yang ramai aku duduk bersama Harfilia sementara Nibela sedang bermain bersama anak-anak lain lempar tangkap bola.
Sungguh pemandangan yang jarang kulihat, mereka semua masihlah Titan tapi bagiku mereka tidak lebih dari manusia biasa sekarang.
"Dulu aku tidak pernah mengira bahwa para Titan bisa mendapatkan kehidupannya lagi, mereka sudah lama terus berperang dan bahkan terancam punah tapi sekarang akhirnya mereka bisa hidup damai.. aku benar-benar bersyukur," kata Harfilia.
"Semuanya juga berkat suamimu, jika dia tidak melindungi para Titan sudah jelas semuanya akan terlambat meskipun di akhir dia malah memilih jalan yang salah."
"Sungguh disayangkan, suamiku terus melihat para Titan yang menderita pada akhirnya kebencian menelan dirinya dan dia berusaha menghancurkan umat manusia."
Itulah alasan kenapa para dewa dewi bergerak.
"Ayah, ibu."
Nibela tiba-tiba melambai ke arah kami berdua. Aku pun melakukan hal sama bersama Harfilia.
"Kapan kau menikahiku, jika belum Nibela akan sedih loh?"
"Kau pasti selalu mempengaruhinya."
"Mana mungkin, aku hanya bilang kurasa Lion sangat cocok jadi papanya, ia juga setuju."
"Begitu."
"Walau Nibela sudah berumur ribuan tahun ia tetap saja anak kecil ia perlu kasih sayang dari seorang ayah aku juga perlu kasih sayang dari suami lagipula aku masih muda loh."
Konsep tua tidak berpengaruh pada seorang dewi.
"Setelah aku selesai menyelesaikan urusanku, aku akan menikahimu juga."
"Yatta, Lion sangat mudah dibujuk."
Aku menarik pipinya.
Memangnya siapa yang membuat situasi ini hingga aku tidak bisa menolaknya lagipula ini pertama kalinya aku melihat Nibela tersenyum seperti itu.
Dia telah kehilangan ayah kandungnya, kemudian ayah angkatnya disusul seorang yang melatihnya bertarung.
Dia mengalami sesuatu yang sulit yang tidak bisa diterima oleh seorang anak kecil maka dari itu dia juga berhak menerima kebahagiaan lebih dari semua orang.
__ADS_1