Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 408 : Melawan Hydra


__ADS_3

Theo mengambil langkah di depan setelah dia bangkit, ia melompat di atas Hydra lalu menghantamkan perisainya tepat di salah satu kepalanya.


Itu membuat dentuman keras saat dia kembali menginjak kaki di tanah, dan ke delapan kepalanya yang lain kami serang secara bersamaan.


Harty memukulnya tepat di tubuhnya membuatnya terpental ke belakang dan di saat yang sama pula aku menembakan mantra sihir api.


"Siel?"


"Serahkan padaku."


Siel mengayunkan pedangnya dan itu memotong satu kepalanya dengan baik, dan di serangan berikutnya aku dan Livia memotong kepala berikutnya.


Dari sembilan kepala tinggal enam yang tersisa, seperti di dalam legenda Hydra bisa menumbuhkan kepalanya kembali dan salah satu pencegahannya adalah membakar potongan lehernya dengan sihir api agar tak bisa meregenerasi dan cara itu terbukti.


Dengan kepala yang tersisa Hydra menembakan bola api, kami menghindarinya meski begitu itu sedikit mengenai Farida di belakang.


Dia bangkit dan mengangguk sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja. Hydra mulai semakin agresif hingga dia mulai menyerang dengan ekor miliknya.


Sama seperti di sebuah game pola serangan bos selalu berubah saat baris bar HP-nya semakin menurun, monster di depan kami juga begitu. Harty merubah dirinya menjadi seekor naga lalu mendorong tubuh Hydra ke belakang.

__ADS_1


Dia menggigit satu lehernya sebelum membantingnya ke arah samping. Di saat yang sama Farida memberikan sihir kecepatan pada Livia.


Dia mengayunkan pedangnya membelah semua kepalanya yang tersisa dan sisanya kuakhiri dengan tebasan angin hingga Hydra tersebut musnah dan digantikan dengan batu sihir raksasa.


Setelah memenggal kepalanya maka dia dipastikan akan mati. Sekarang kami bisa menarik nafas lega, setiap kelipatan sepuluh merupakan tempat dimana bos berada serta merupakan tempat yang paling melelahkan juga.


Ada pekerjaan yang harus kulakukan sekarang yaitu menambang batu bintang di lantai ini, setelah mendapatkannya aku menyimpannya ke sihir penyimpananku, jika mengingat sejauh ini kami menghabiskan waktu tujuh hari untuk sampai ke lantai 10 dan lima hari berikutnya ke lantai 20.


Hanya ada seekor Minotaurus di sana yang mana dengan mudah kami kalahkan, meski begitu itu bukanlah pertarungan yang mudah untuk dilakukan mengingat sebagaimana kekuatan labirin ini.


Aku membaringkan tubuhku di padang rumput setelah mengambil batu bintang ke dua, dan semua orang juga melakukan hal sama.


"Benar-benar melelahkan, aku lapar?"


"Aku sudah bosan makan buah."


Daging kami hanya tersisa sedikit, menghemat adalah apa yang kulakukan sekarang, setiap tiga hari sekali kami baru bisa makan daging.


Tak hanya masuk ke dalam labirin kami juga harus keluar dengan cara yang sama, bagaimanpun seperti apa yang dikatakan Clarisa sihir terleportasi tidak berkerja di labirin ini.

__ADS_1


Syukurlah bahwa kami sama sekali tidak perlu kerepotan mencari air, di sini banyak sekali air yang bisa digunakan seperti yang didapatkan dari sungai atau danau.


Sejauh ini aku tidak merasakan ada pergerakan dari pemilik labirin meski demikian aku sama sekali tidak boleh lengah, kami diam sebentar dan seperti sebelumnya kembali bergerak.


Di lantai berikutnya pemandangan tidak jauh berbeda, hanya saja di sini terdapat bangunan kota.


"Jadi ini lantai 21?" ucap Dalius.


"Bagiku kota ini jelas mencurigakan," balasku demikian.


Bukti bahwa ada seseorang tinggal di sini sama sekali tidak terlihat, itu seperti seolah penempatan kota ini hanya dijadikan dekorasi semata.


Dari dalam kota beberapa slime raksasa bermunculan dan siap menyergap kami.


Aku menggunakan sihir air untuk menyapu mereka menjauh, dan Valentine menggunakan tanaman mawar untuk menjerat dan menghancurkan mereka.


Jika inti slime dihancurkan mereka akan meledak dengan mudah


Livia berkata.

__ADS_1


"Slime tidak sekuat monster sebelumnya, menempatkan monster lemah di lantai 21 kurasa bukan digunakan untuk menyerang petualang melainkan hanya untuk menjaga tempat ini terawat."


Aku juga berfikir sama dengan Livia, tapi paling tidak ada tempat aman seperti ini yang bisa kami gunakan untuk memulihkan tenaga.


__ADS_2