
Namaku Erik Wilson 17 tahun, tidak ada hal istimewa dariku yang bisa kuceritakan pada siapapun, aku hanya seorang yang bisa disebut rata-rata atau lebih tepatnya semua orang menyebut pria yang mudah kau temui di mana saja.
Aku memiliki penampilan biasa bahkan nilai akademiku tidak terlalu mencolok ataupun mampu membuat orang kagum.
Dibanding hidup berada di atas, aku lebih menghabiskan hidup berada di pertengahan, menjalani hidup dengan damai tanpa masalah yang akan mendatangimu.
Semua orang bisa menyebutku pengecut atau seorang pemalas, namun inilah yang kuinginkan.
"Pagi Erik, kau datang lebih awal."
"Aku ingin pergi ke perpustakaan dulu untuk membaca beberapa buku, kau sendiri?"
"Tidak ada alasan khusus, kau tahu di rumahku selalu terasa tidak nyaman jadi aku putuskan datang kemari lebih awal."
"Aku mengerti, kau mau ikut."
"Tentu saja."
Yang mengobrol denganku adalah seorang gadis sekelas bernama Paula Rich, dia memiliki tinggi sedikit lebih pendek dariku. Selain tubuhnya yang ramping, ia memiliki rambut pirang diikat ekor kuda yang cocok dengan penampilannya.
Nilai akademiknya terbilang bagus dan juga ia sangat atletis.
"Kenapa kau masih diam di sana ayo?"
"Tidak, dari sini aku bisa melihat ke dalam rokmu."
"Hyaaaaaah.... dasar mesum."
Aku duduk di perpustakaan dengan wajah bonyok sementara pelakunya tampak marah selagi menyilangkan tangannya di depan.
"Yang barusan pelecehan."
"Itu hanya kejadian yang tidak sengaja."
__ADS_1
"Humph."
Dia gadis yang lucu.
"Kalau begitu aku akan mengambil beberapa buku untuk kita."
Tepat saat aku mengatakannya tubuhku seketika tidak bisa digerakkan seolah medan magnet telah menarikku ke bawah, ketika aku masih kebingungan sebuah lingkaran bercahaya juga muncul di bawah kakiku.
Lingkaran itu cukup besar hingga mencakup keberadaan Paula.
"Apa ini?"
"Lari Paula."
Saat cahaya menelan kami berdua aku menyadari bahwa aku tidak berada di perpustakaan lagi melainkan di sebuah tempat luas mirip katendral suci.
Aku buru-buru mencari keberadaan Paula meski begitu aku tidak bisa menemukannya di antara puluhan orang yang bernasib sama sepertiku.
Aku bertanya pada seorang gadis berambut hitam sebahu dengan pakaian seragam sekolah lengkap dengan blazer.
"Ah, aku tidak tahu."
"Namamu?"
"Amari Kizuna, kamu?"
"Erik Wilson, apa kau menggunakan bahasa Inggris?"
"Tidak, aku menggunakan bahasa Jepang."
"Tunggu, kau yakin?"
"Tidak salah lagi."
__ADS_1
Kami berdua bisa mengerti bahasa kami satu sama lain.
"Tidak masuk akal."
Ketika aku sedikit shock seorang wanita jauh dari kami berkata selagi melebarkan tangannya, dia berpenampilan serba putih dengan pakaian tipis transparan, rambutnya berwarna serupa dia kepang satu ke belakang dan terkesan memiliki sebuah keindahan yang sulit ditemukan di manapun.
Dia berkata.
"Kalian pasti kebingungan terutama banyak penyihir yang berada di sekeliling kalian, biar aku perkenalkan diriku, namaku Venus, aku adalah pemimpin dari kerajaan suci Berham yang telah memanggil kalian ke dunia ini."
"Jangan bercanda, cepat kembalikan kami."
"Benar kembalikan kami."
Di tempat ini paling tidak ada 40 orang yang sama paniknya denganku.
"Maaf sekali, tapi sebelum misi kalian selesai kalian tidak bisa kembali ke dunia kalian, kalian harus membantu kami untuk mengalahkan Titan, dengan kemampuan kalian aku yakin kalian bisa membuat kedamaian di benua ini."
Jangan bercanda, apa dia menyuruh kami bekerja untuknya.
Mempertaruhkan nyawa untuk orang asing, ini benar-benar mengerikan.
"Jangan khawatir, semua kebutuhan kalian akan terpenuhi seperti uang, wanita ataupun jabatan."
Seorang pria dengan tubuh berotot serta rambut cepak menggantikanku untuk memprotes.
"Oi, oi, jangan seenaknya... kami disuruh melawan Titan, kami bukan siapa-siapa?"
"Kalian salah, orang yang dipanggil ke sini merupakan pahlawan apa kalian tidak memperhatikan apa yang ada di depan kalian, terutama..."
"Namaku Marshall Broughman, ingat itu."
"Ah tentu."
__ADS_1
Semua orang akhirnya tahu apa yang wanita itu maksud, aku bisa melihat baris bar semua orang seperti pada video game, dengan nama serta level kami masing-masing.
Ada beberapa orang yang senang dan juga ada beberapa lagi yang masing kebingungan. Tapi satu hal yang pasti, aku harus menemukan Paula sebelum hal yang buruk terjadi padanya.