Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 268 : Kota Mesin Terakhir


__ADS_3

Tepat saat aku muncul mereka segera mengejarku.


Aku menggunakan Magic Tree membuat tanaman merambat untuk mengikat mereka sekaligus. Undead yang terikat hanya bisa berontak sampai tubuh mereka diselimuti api hitam.


Seberapa kuat sihirnya Magic Tree hanya sihir untuk menumbuhkan tanaman, mereka lemah terhadap api dan kuat terhadap air.


Aku melompat dengan tebasan terayun ke bawah. Satu Undead menahannya membuat tanah pijakannya merebas beberapa meter ke dalam tanah.


Sama seperti kayu yang lemah terhadap api mereka adalah Undead yang lemah terhadap sihir suci maka dari itu.


"Checkmate," kataku singkat.


Sekitar empat lingkaran sihir muncul di atas kepala mereka, dari sana cahaya dijatuhkan lalu meledakan mereka menjadi butiran kecil mirip sebuah kunang-kunang.


Karena malam hari cahaya itu terlihat sangat jelas lalu lenyap di udara.


Aku menyusul Kanade dan Thomas yang sedang duduk menunggu Ginny bangun.


"Bagaimana keadaannya?" tanyaku demikian.


"Tubuhnya sangat lemah tapi bisa diselamatkan," balas Kanade.


Aku menarik nafas lega sebelum duduk bersandar pada pohon terdekat, Rion dan Aira juga berubah menjadi wujud mereka.


Kami sedang berada di pinggir sungai di bawah cahaya rembulan. Thomas tampak marah dengan apa yang telah terjadi, bagaimana pun seluruh pasukan anti kekaisaran telah dihabisi hanya dalam sehari.


Dengan begini mereka benar-benar telah dikalahkan sebelum perang benar-benar terjadi.


Tidak ada siapapun dari kami yang berbicara, bahkan saat kami makan malam kami hanya menyantapnya lalu pergi untuk beristirahat.


Keesokan paginya aku menemukan Rion dan Aira telah terlelap selagi memelukku dari samping, mereka benar-benar menjadikanku bantal guling mereka.


"Apa kau sudah bangun Lion?"

__ADS_1


"Ginny?" panggilku.


Dia sedang duduk di atas batu.


"Jangan khawatir aku sudah baikan lihat...aduh, aduh, tidak sepenuhnya."


"Dimana Thomas?"


"Dia sepertinya pergi ke kota mesin berikutnya saat kita tertidur."


"Dia? Bukannya hujan darah akan terjadi hari ini."


Ginny hanya menggelengkan kepalanya lalu berkata.


"Walau dia tampak terlihat tenang sejujurnya dia sangat peduli dengan pasukannya, aku yakin dia sedang mengamuk sekarang."


"Kita harus cepat menyusulnya."


Ledakan terjadi di sana sini.


"Di mana dia?"


"Thomas," teriak Ginny dan Kanade terus mengawasi.


Darah mulai membanjiri kota dan kami harus berpindah tempat sendikit jauh dari kota.


"Jangan-jangan dia sudah mati," ucap Kanade yang jelas mendapatkan penyangkalan dari Ginny.


"Dia sangat kuat, dia pasti bisa selamat."


Aku melihat sosok Thomas dari kejauhan, ada yang berubah darinya... kini dia telah menjadi vampir.


"Apa kau masih Thomas?" tanyaku.

__ADS_1


"Tentu saja, sayangnya aku terkena darahnya hingga berubah jadi seperti ini."


Kanade mengutarakan kekhawatirannya.


"Apa ada efek sampingnya?"


"Kurasa tidak," jawab Thomas namun aku sudah tahu hal yang mengerikan dari ini semua.


Setiap vampir yang dirubah akan terkena kutukan yang langsung bisa dikendalikan oleh Blossom.


Saat Kanade dan Ginny hendak mendekat aku menahan tangan mereka.


"Kenapa Lion?" tanya keduanya nyaris secara bersamaan.


"Mulai sekarang dia musuh kita."


"Apa maksudmu, aku tetaplah aku.. Thomas dari pasukan anti kekaisaran."


"Tidak, kau tidak tahu kutukan sesungguhnya dari darah itu.. kini Blossom bisa mengendalikanmu."


"Kau terlalu takut, aku masihlah diriku sendiri."


"Karena emosi kau mengambil jalan yang ceroboh."


Aku melirik ke arah langit di mana aku bisa melihat sosok Blossom melayang di sana dengan senyuman di wajahnya.


"Tepat sekali."


Ketika dia menjentikkan jarinya tubuh Thomas dibanjiri rasa sakit, kulitnya mulai melepuh dan matanya mengeluarkan darah.


"Aaaaaaaargh."


"Thomas?" panggil Ginny namun semuanya sudah terlambat yang kami lihat sekarang hanyalah monster yang tak terkendali yang siap membunuh siapapun di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2