Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 326 : Obrolan Di Kedai


__ADS_3

Dua hari berikutnya aku duduk di kios sate di pinggir jalan selagi mengobrol dengan Hime, atau mungkin aku harus menyebutnya Himekawa Rinju dia memiliki banyak nama rupanya tapi menurutku nama Rin lebih mudah menyebutnya.


Dia mengangkat tangannya.


"Tolong dua porsi lagi."


"Baik," balas si penjual.


Menyadari tatapanku Hime tersipu malu.


"Aku benar-benar lapar."


Ah sepertinya dia tidak nyaman saat memesan banyak makanan, tapi dibanding dirinya istriku Rion dan juga Harty jauh lebih banyak makan.


Aku segera membalasnya.


"Aku tidak memikirkan hal seperti itu, bagiku melihat gadis yang bersemangat saat mereka makan tampak indah."


"Apa begitu?"


Aku menegaskan hal itu.


"Kalau begitu paman lima lagi."


"Baik."


Jangan bilang dia menahan diri meskipun piringnya sudah menggunung seperti itu, yah kurasa dia memang benar-benar lapar.


Hime membuka perkataan ke arah yang lebih serius.

__ADS_1


"Tak kusangka Raiku sampai sejauh itu, padahal sebelumnya dia orang yang baik yang membenci hirarki tapi dia malah menjadi orang yang dia benci."


"Pasti ada sesuatu yang terjadi saat dia pergi berpetualang," kataku datar.


"Iya," perkataan Hime diliputi kesedihan.


Semakin kau membenci sesuatu maka kau tanpa sadar akan berubah menjadi seperti itu.


Aku sering melihat hal yang serupa juga di dunia sebelumnya. Saat Hime mengeluarkan gerbangnya ingatan sebelumnya yang dia miliki kembali padanya, sungguh mengejutkan bahwa dia juga mengenal Solomon.


Tak hanya memakan sate enak ini, dia menceritakan banyak kisah tentang Solomon yang sejujurnya membuatku terkejut.


Dia adalah orang baik.


Sayangnya aku juga harus memberitahukan kebenarannya juga, tentang dirinya yang kehilangan desa yang selama ini dia lindungi, tentang rencana untuk menghancurkan dunia dengan pengetahuannya yang didapat dari para titan serta kemunculan iblis titan di dunia bawah.


Semua hal dikarenakan ulahnya.


Hime yang sudah lama menahan tangisnya akhirnya tak kuasa untuk meneteskannya dari wajahnya yang cantik.


"Jadi begitu."


Mau bagaimana lagi, setiap orang memiliki keputusannya sendiri bahkan tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan nanti.


"Silahkan, kami menyediakan wine apa mau kami siapkan juga?"


"Kenapa kau baru mengatakannya pesan itu juga."


"Segera datang."

__ADS_1


Dia kembali bersemangat dalam waktu singkat. Karena dia terlalu banyak minum pada akhirnya aku harus menggendongnya di punggung.


"Berhenti menggosokkan dadamu di punggungku," teriakku.


"Kau menyukainya."


"Sejujurnya itu cukup menggangu hingga aku kehilangan fokus."


"Mwehehe."


Dia akan muntah jadi aku membiarkannya melakukannya di dalam gang.


Aku yakin jelas ini pertama kalinya dia meminum alkohol, walau terlihat baik-baik saja sepertinya dia cukup terpukul dengan apa yang terjadi.


Aku menepuk punggung Hime lalu membawanya kembali ke istana, Wisteria yang menunggu di luar segara bergegas mendekat.


Ini sudah malam jadi dia pasti khawatir.


"Nona Hime."


"Aku baik-baik saja, kepalaku pusing.. uwaah."


"Anda mabuk, aku akan membawa anda ke kamar."


Aku mengangguk mengiyakan dan memberikan tanggung jawab itu pada Wisteria.


Aku sudah mendengar dalang pembunuhan Genjitsu yaitu merupakan mantan pasukan elit bernama Shiramaru dan Kaori, menurut Wisteria orang yang mereka layani adalah Echidna yang merupakan seseorang yang tengah kucari keberadaannya.


Tak kusangka hal seperti ini akan terjadi, sama seperti Henos mereka juga mengincar Hime.

__ADS_1


Sungguh.


Apa yang diinginkan Echidna sebenarnya? yang bisa kulakukan hanya menunggu kedatangan mereka kemari.


__ADS_2