
Hari penyerangan yang kami rencanakan akhirnya dapat dilaksanakan sekarang, di luar kota aku beserta pasukan monster telah bersiap-siap.
Deren yang seorang Minotaurus tertawa terbahak-bahak selagi memukul punggungku.
"Kita pasti akan berhasil dengan ini haha."
Aku sebenarnya ingin menegurnya untuk tidak mengibarkan bendera putih namun segera kuurungkan saja melihat kebahagiaan di wajahnya itu.
White Tiger juga sudah siap memimpin pasukannya karena itu kami langsung bergegas masuk, Rion yang seutuhnya dalam bentuk pedang berkata.
"Ada yang aneh, aku tidak melihat siapapun di kota ini bahkan kita sudah sampai di tengah kota."
Hal itu juga yang kupikirkan.
Para monster saling berbisik satu sama lain dan aku segera memotong.
"Siapa diantara kita yang tidak hadir?" mereka semua saling melihat dan salah satunya mengacungkan tangan.
"Orc bernama Berry, tidak ada."
"Mungkinkah?" teriak Deren.
"Sial.. dia mengkhianati kita," tepat saat aku mengatakannya lingkaran sihir raksasa di atas kepala kami bermunculan.
Aku berusaha menggunakan sihir terleportasi untuk mengeluarkan kami semua namun gagal.
"Percuma Lion, sihir ini menyegel kekuatan kita semua... ini adalah sihir yang sama yang digunakan Venus itu, dua belas lingkaran sihir suci Algoritma bahkan kau juga akan kerepotan, berbeda dari Venus orang-orang ini pasti melantunkan doa dari 500 orang secara serempak, kau tidak akan bisa melindungi semua orang."
Aku menggigit bibirku saat White Tiger datang menyela pembicaraan.
__ADS_1
"Tak apa Lion, kami tidak keberatan mati di sini... tolong rubah negeri ini untuk kami."
Ini memuakkan.
Aku memikirkan apa yang harus kulakukan hingga aku mengeluarkan sebuah botol yang diberikan oleh Ranger padaku.
Rion segera menyela.
"Lion kau pasti tidak serius ingin berubah jadi Titan bukan? Bahkan setelah meminum itu kau tidak akan kembali menjadi manusia."
"Aku tidak keberatan, aku ingin melindungi mereka semua."
"Kau ini? Kenapa kau terlalu baik, biarkan saja mereka mati."
"Itu benar, biarkan kami mati," tambah Deren.
"Berisik... aku tidak akan membiarkan kalian mati, keluarga kalian sudah menunggu kepulangan kalian kau tahu, meski kalian mati paling tidak aku bisa membuat kuburan untuk kalian nanti."
"Kau memperlakukan kami layaknya manusia."
"Sudah jelas kan."
Mereka memiliki akal jika aku tidak berpikir begitu berarti aku juga tidak layak disebut manusia.
Lingkaran sihir mulai bersinar secara bergantian, tanpa ragu aku melepas topengku lalu meminum isi botol tersebut dan membuangnya ke samping.
Asap mengepul dari tubuhku.
Seharusnya dari awal aku menegurnya agar dia tidak mengibarkan bendera.
__ADS_1
DOOOOOARRR!
Bersamaan cahaya yang dijatuhkan dari seluruh lingkaran sihir itu aku telah berubah menjadi Titan setinggi 80 meter, dengan zirah berwarna perak. Menggunakan punggungku aku menahan serangan dahsyat itu, sementara semua orang berada di bawah perutku termasuk Rion dalam wujud elfnya.
"Grrraaaaah," teriakku membelah udara.
"Kau menggunakan zirah perak, kau pasti akan jadi Titan yang langka."
Dewi ini masih sempat-sempatnya merasa kagum saat aku kesusahan, terlebih dalam wujud Titan aku hanya bisa meraung saja.
Titan adalah raksasa yang menyerupai manusia, hanya saja dengan penggunaan sihir mereka bisa membentuk baju yang mereka inginkan.
Bahkan jika aku ingin merubahnya jadi pakaian sederhana, itu bisa saja, tapi aku tidak ingin melihat wujudku dalam bentuk raksasa.
Sebuah cahaya meledak menelan sekeliling kami, kecuali kami seluruhnya telah hancur menjadi sebuah kawah raksasa, hal yang digambarkan hanyalah sebuah bencana.
Orang-orang di kota ini sangat menakutkan bahkan mereka bisa mengorbankan kota yang mereka cintai untuk memusnahkan kami.
Dengan wujud Titan bukan berarti aku tidak menerima damage akan tetapi itu tidak sampai membahayakan nyawaku.
Aku kembali ke wujud manusiaku tanpa mengenakan topengku lagi.
"Kau baik-baik saja Lion?" tanya White Tiger.
"Tak masalah, bagaimana yang lainnya?"
"Ini semua berkatmu, kami semua selamat."
Rion memotong.
__ADS_1
"Terlalu cepat untuk merayakan ini semua, mereka sudah datang."
Pasukan Solo bersama salah satu Orc mengepung kami dari segala arah.