Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 140 : Penyusupan Ke Ibukota


__ADS_3

Gracia menggunakan sihir teleportasinya untuk kembali ke akademinya, bagaimana pun Nibela dan Atlas ada di sana dan kami tidak boleh membiarkannya tanpa pengawasan.


Beberapa monster berakal yang sebelumnya berada di dalam Dungeon mulai beriringan keluar untuk memenuhi kota, karena kota ini telah ditinggalkan maka hanya mereka saja yang ada di sini.


Beberapa sudut kota telah hancur jadi itu menjadi pekerjaan bagi mereka untuk membangunnya kembali, aku berdiri dengan Rion di belakang Diona yang mengutarakan penjelasan.


"Mulai sekarang aku Diona, sang gadis suci mengijinkan bahwa negeri ini bebas untuk ditinggali oleh siapapun, tidak tergantung ras ataupun berasal dari mana kalian, jika kalian ingin hidup damai tanpa ada pertikaian aku akan menyambut semuanya dengan ramah."


Semua orang mulai berteriak senang, dan aku hanya tersenyum kecil memperhatikan.


Malam harinya aku menerima waktu istirahatku di pemandian air panas yang nyaman sebelum Rion dan Diona masuk dengan handuk melilit tubuh mereka.


"Kalian berdua bisa menggunakan kamar mandi di samping, sana pergi."


"Mandi dengan Lion lebih menyenangkan karena itu aku menolak."


Rion membuang handuknya lalu mengambil posisi di kiriku sementara gadis suci Diona di samping lainnya, melihatnya membuatku bertanya.


"Bukannya kau tidak tahan dengan hal seperti ini?"


"Jangan salah paham, aku hanya ingin berterima kasih saja... kata Rion, ini cara yang benar untuk mengatakannya."


Seharusnya dia tidak mendengarkannya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Aku akan biarkan Lion mengambil kesucianku."


Air menyembur dari mulutku sebelum aku akhirnya menarik pipi Rion.

__ADS_1


"Sakit-sakit... hentikan, aku cuma bercanda."


"Dengar, aku tidak akan melakukan apapun padamu jadi simpan saja kesucianmu untuk pria yang akan nanti menjadi suamimu."


Aku bahkan tidak tahu apa yang kukatakan barusan, paling tidak aku bisa menghindar sesuatu yang buruk sekarang.


Jika dengan Rion mungkin aku tidak masalah tapi untuk gadis suci, itu berlebihan.


Aku bisa melihat Rion nyengir sekarang.


Mari kesampingkan hal itu untuk memulai percakapan yang jauh lebih penting.


"Ranger bilang bahwa raja iblis masih ada, jadi aku pikir itu pasti Nightmare."


"Jadi kau sudah menyadarinya Lion."


"Dialah raja iblis yang harus kita kalahkan... aku tidak heran dia pasti sekarang sedang bersenang-senang di ranjang bersama seorang pria dan setelah nafsunya terpuaskan dia akan membunuhnya."


Entah aku dan Diona kami menunjukkan wajah tidak nyaman.


"Aku yakin dia hidup seperti laba-laba betina," pernyataan Diona membuat Rion tertawa.


"Benar sekali, saat dia kawin mereka akan memangsa pria sebagai nutrisi... dan sekarang aku juga akan memangsa Lion."


"Di mana kau menyentuh dewi mesum."


"Tak apa, ini pembelajaran untuk Diona."


"Aku tidak ingin melihatnya."

__ADS_1


Entah bagaimana aku akhirnya bisa melarikan diri setelahnya.


Dua hari berikutnya saat semua orang disibukkan dengan pembangunan kota, aku bersama White Tiger telah masuk ke dalam ibukota secara diam-diam.


Kami menggunakan mantel bertudung coklat untuk menyembunyikan penampilan kami.


"Apa ini akan baik-baik saja?" tanya White Tiger cemas.


"Pokoknya jangan sampai kau ketahuan atau kau akan mati dibunuh mereka."


"Aku tahu."


Di sini sedang diadakan festival untuk menyambut pemimpin yang baru kerena itu kami bisa dengan mudah berbaur dengan yang lainnya.


White Tiger yang berjalan di depan terhenti hingga aku menubruk punggungnya.


"White Tiger hati-hati."


"Maafkan aku, tapi aku barusan melihat gadis suci lainnya."


"Kau yakin tidak salah melihat."


"Aku yakin, dia berlari masuk ke dalam gang."


"Tunggu apa lagi mari kejar dia."


"Ba-baik."


Meksipun salah lihat kami tetap harus memastikannya dulu.

__ADS_1


__ADS_2