
Kami menumpuk mayat para Orc tersebut lalu membakarnya dengan sihirku, itu menciptakan api yang membumbung tinggi dan tak perlu waktu lama untuk semuanya terbakar hangus.
Varlia di sebelahku berkata.
"Pasukan rasa iblis mulai menyerang serempak di beberapa titik berbeda, kita memang beruntung telah berhasil menyelamatkan kota namun sayangnya di tempat lain ada kota dan desa yang telah dimusnahkan."
Meski kami berhasil di sini tidak berarti di tempat lain juga sama. Seperti sebelumnya aku juga kini berada di dunia dengan pertumpahan darah. Dua hari berikutnya kami izin untuk melanjutkan perjalanan. Sejak pagi aku tidak menemukan sosok Mamia jadi mungkin dia memiliki urusan di guild.
Tepat saat kami tiba di gerbang luar kota seseorang tampak bersandar selagi menyilangkan tangannya di depan.
"Kalian sangat lama."
'"Mamia."
Seperti yang dikatakan Estelle dialah yang berada di sana.
"Bukannya kamu?"
"Aku berubah pikiran, aku juga ingin mengalahkan raja iblis... melihat bagaimana mereka ingin mencoba menghancurkan kota aku juga merasa tidak ingin hal itu terjadi pada orang lain."
"Begitu, kami senang jika kau ingin bergabung dengan kami tapi jangan menyesal."
__ADS_1
"Aku tidak akan menyesal."
Aku tersenyum lembut meskipun aku tahu tidak akan ada orang yang menyadarinya, tujuan awal kami adalah ibukota namun hal itu bisa menunggu. Yang akan kami lakukan adalah pergi ke lima titik penyerangan pasukan raja iblis lainnya, dan menurut Varlia tidak sulit menentukan tujuan mereka selanjutnya karena mereka cenderung menyerang kota dari kota terdekat yang berhasil mereka hancurkan.
Satu jenderal telah dikalahkan tinggal lima lagi.
Selama perjalanan aku tetap akan melatih ketiga orang yang sekarang menjadi rekanku. Di malam hari aku memanggang jamur untuk kami nikmati bersama.
Aku menceritakan dunia seperti apa yang aku tinggali serta bagaimana aku berubah jadi raksasa, mereka pikir bahwa dunia yang mereka tinggali buruk namun setelah mendengar apa yang kukatakan, duniaku lah yang lebih terburuk dari dunia ini.
Bagaimana banyak konflik berkepanjangan dari 4000 tahun yang lalu, serta dunia yang masih terancam karenanya. Semua itu hanya diperbuat satu orang bernama Nightmare.
Mengesampingkan hal itu kami menyudahi obrolan tersebut lalu tidur setelah makan malam, kini ada tiga wanita yang seenaknya tidur di dekatku kaki mereka menghantam wajahku dan mereka berbicara dalam mimpi.
"Aku yang akan menghajarnya."
"Aku."
Mereka benar-benar merepotkan padahal aku sudah bilang untuk tidur secara terpisah. Tapi inilah yang terjadi. Mari usahakan agar tidak terjadi apapun malam ini.
Meskipun kurasa itu sulit.
__ADS_1
Saat matahari terbit di dekat sungai aku mengajari mereka bertiga bertarung, dari awal pembunuh naga Varlia Vallaha memiliki kekuatan yang kuat sayangnya dia tidak terbiasa dalam pertarungan kelompok.
Kadang dia tidak mengetahui rekannya hingga saling bertubrukan.
Marina ahli dalam mengayunkan pedangnya hanya saja dia terlalu fokus untuk bertarung dengan senjatanya hingga ketika aku melemparkan sihir air dia terhantam langsung lalu masuk ke dalam air dingin.
Untuk Estelle cukup baik, yang harus dia tingkatkan hanyalah kecepatan dalam mengambil keputusan, saat aku mendesaknya dengan tebasan dari sarung pedang dia kebingungan harus bertahan terus atau menyerang.
Aku menendangnya hingga dia juga masuk ke dalam air yang dingin, Varlia mengambil serangan dari belakang dan aku berputar untuk menendangnya hingga dia juga mengalami hal sama.
"Kalian perlu berlatih lagi, sampai saat itu kalian mandi saja."
"Lion memang sangat kejam... ia sebenarnya ingin mencoba menelanjangi kita... pagi tadi aku merasakan sakit di dadaku, apa yang kau lakukan malam tadi?"
"Sebenarnya aku menyentuh kalian di sana dan membandingkannya. Aku harus pergi sebentar."
"Dia melarikan diri sebelum mengatakan siapa juaranya," ucap Mamia yang mendapatkan ******* kedua orang yang lain.
"Pasti Estelle."
"Benar pasti Estelle."
__ADS_1
"Aku?"