
Selain kota tempat kedua yang dikunjungi Rion adalah hutan yang jauh dari siapapun, di sini ia akan menghabiskan waktu untuk mengasah dirinya dalam menggunakan sihir.
Dulu sebagai dewi, sihir adalah sesuatu yang mudah dilakukan tapi dengan tubuh Rion yang sekarang latihan dan waktulah yang akan menjadikannya bertambah kuat.
Dia harus sering menggunakan sihir agar kapasitas mana ditubuhnya semakin meningkat, singkatnya ketika sering digunakan maka semakin banyak yang bisa ditampung.
Rion mengulurkan tangannya dan menargetkan pohon-pohon yang berada di depannya.
"Elemental Bridge.... Jalan Kehancuran."
Setiap pohon yang dia lihat diledakan dengan baik. Sihir yang dimiliki Rion sedikit berbeda alih-alih menggunakan satu sihir yang sudah ada dia menggunakan sihir yang baru ciptaannya sendiri tentu semuanya tidak terlepas dari sihir yang dia pelajari dari buku.
Saat dia ketahuan membebaskan Harfilia dari kurungannya, Amnesty menjatuhkannya hukuman berat. Selain dibuang ke dunia ini kekuatan Rion juga dibagi menjadi beberapa buah yang mana disebar ke benua enam wilayah yang dilindungi oleh tujuh mahkota dewi.
Mereka adalah pahlawan yang dipanggil ke dunia ini lewat para dewi, Rion bisa saja menantang mereka selagi mengumpulkan kekuatannya namun dia memilih untuk mengambil jalan berbeda.
Semuanya dilakukan hanya untuk satu hal.
Harus ada seseorang yang menghalangi Nightmare, dia berfikir di masa depan kekuatannya bahkan akan melebihi kekuatan para dewi maupun dewa.
__ADS_1
Tak masalah untuk mengamsumsikan hal demikian.
Kini Rion bisa menggunakan berbagai sihir terutama sihir dosa mematikan, baru satu dan sisanya tinggal enam lagi. Dosa nafsu membuat seseorang bisa mengetahui segalanya dengan cara menciumnya, jika mencium pria bagi Rion itu terlalu menjijikan tapi mengingat dia harus mencobanya pada seseorang akhirnya wajah receptionis terlintas dibenaknya.
Jenis kelamin tidak berpengaruh.
Mari cium dia saat aku kembali ke penginapan, pikir Rion dalam hati.
Bukan hal aneh untuk saling berbagi ciuman antar gadis, benar bukan.
Rion membaringkan tubuhnya dengan nafas tersenggal-senggal, dia sudah mengeluarkan sihir selama empat tanpa henti sekarang tubuhnya sangat kelelahan satu hal yang dia dapat lakukan adalah mengambil potion dari tasnya kemudian meminumnya dengan sekali tegukan.
Perlu beberapa waktu agar tubuhnya pulih namun dengan ini semuanya terkendali, potion ini sangat mahal karena itu tidak boleh disia-siakan begitu saja.
Akan menyulitkan jika dia selalu pulang pergi antar hutan dan kota jadi dia selalu melakukan ini di sela-sela kesibukannya.
Rion menganggapnya seperti berlibur demi meredakan kebosanannya karena terus dipaksa mendengarkan curhatan banyak orang. Kalau bukan karena uang dia pasti tidak akan melakukannya.
Itu malah seperti dia seorang petugas suci saja.
__ADS_1
Memikirkan itu hanya buang-buang waktu karena itu dia hanya akan menikmati malam dengan santai.
Ia menggigit daging yang baru matang lalu menengadah ke langit yang diisi pemandangan indah dari bintang-bintang.
"Suatu hari aku akan menantang Amnesty dan menendang pantatnya dari sana," ucap Rion dengan suara pelan.
Saat ia kembali ke penginapan pemilik yang menyapanya hanya bisa terdiam saat tubuhnya di dorong ke dinding sementara bibirnya telah direnggut oleh bibir Rion.
Dia terengah-engah.
"Tunggu, apa ini?"
"Terima kasih, aku ingin tahu bagaimana rasanya berciuman itu... kapan-kapan mari kita lakukan lagi."
"Ogah," bantah pemilik penginapan yang merupakan gadis muda polos.
Paling tidak Rion tahu bahwa kekuatannya bekerja, dalam sekejap dia tahu apapun yang disembunyikan oleh pemilik penginapan di dalam pikirannya.
"Ada brangkas isi kue di balik lukisan itu, boleh aku memakannya nanti."
__ADS_1
"Awawa bagaimana kau tahu?"
Senang melihat gadis polos kebingungan.