Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 101 : Bersama Mantan Pahlawan


__ADS_3

Di atas bangunan itu aku berdiri selagi merasakan hembusan angin sejuk melewatiku, Rion yang duduk di sampingku dengan senang memakan roti lapisnya.


"Syukurlah mereka memiliki makanan enak juga."


"Kau bahkan memakan jatahku, seberapa banyak yang bisa kau makan."


"Seorang gadis selalu memiliki perut tambahan, kau tahu?"


"Kurasa begitu."


Keheningan terasa diantara kami berdua sampai sebuah lubang teleportasi muncul di langit menjatuhkan sosok Gracia Roux dengan hak tingginya.


"Kau datang lebih cepat Gracia, perangnya di gelar besok."


"Aku hanya ingin memeriksa keadaan, kau seenaknya saja menyuruhku ke sana-ke sini.. kuharap kau membayarnya nanti."


"Tentu, kita bisa berkencan atau naik ranjang nanti."


"Aku bukan cewe murahan seperti dewi di sana."


"Siapa yang kau panggil cewe murahan, aku masih perawan sekarang, yah.. paling tidak sampai Lion kehilangan kendali dirinya."


Aku memasang wajah bermasalah sementara Gracia memerah.


"Dasar ca-cabul."

__ADS_1


"Mari kesampingkan hal itu, lalu bagaimana soal benua manusia?"


Aku mengubah pembicaraan.


"Para Titan sudah berhasil menghancurkan beberapa kota di negara kesucian Berham. hanya ada empat kota satelit lagi yang tersisa yang belum mereka sentuh. Pertama, Tembok Suci Maria, Tembok Keadilan Julius, Tembok Penghakiman Argos dan terakhir Tembok Kebijaksanaan Chaldis."


"Kota penyangga ibukota kah, apa mereka sengaja membiarkannya begitu saja?"


"Empat kota tersebut memiliki basis militer yang sangat kuat, ada kemungkinan pihak gereja juga telah memanggil pahlawan dari dunia lain sama sepertimu."


"Maksudmu Tujuh Mahkota Dewi?"


"Tidak, Tujuh Mahkota Dewi adalah tujuh orang yang dipilih tujuh dewi suci, mereka tidak akan muncul sebelum keadaannya sudah tidak terkendali."


"Jadi lawan yang harus kita hadapi masih banyak."


Aku bisa mengerti soal itu.


"Aku tidak akan memintamu melakukannya, masalah itu akan aku selesaikan sendiri."


"Dasar bodoh, jika kau melawan mereka berarti kau akan mendukung para Titan yang melakukan pembantaian."


"Tidak juga, memang benar beberapa Titan berusaha untuk balas dendam tapi aku masih tidak bisa membenarkan apa yang mereka lakukan, tujuanku hanya ingin mencoba bernegosiasi dengan mereka melalui Nibela."


Gracia berjalan beberapa langkah di depanku selagi menyilangkan lengannya di belakang menatap matahari yang mulai tenggelam. Dia berbalik untuk melirik ke arahku dan Rion secara bergantian.

__ADS_1


"Kau melakukan apa yang tidak bisa kulakukan di masa lalu, aku akan mendukungmu sebisaku... jangan ragu untuk mengandalkanku."


"Terima kasih Gracia."


"Hanya itu yang ingin kukatakan, pastikan kau membayarnya nanti."


"Fufu sepertinya Gracia menaruh ketertarikan padamu Lion, maksudku secara seksual."


"Dasar dewi jahat, aku tidak menaruh ketertarikan apapun," pernyataan tersebut langsung dibantahnya keras.


Aku menggodanya.


"Tipe yang malu-malu seperti ini juga sangat menarik, dibanding kembali bagaimana kalau kita menghabiskan malam bersama."


"Awawa... aku tidak mau."


"Uwaahh, ini menyakitkan."


Aku diterbangkan oleh sihir suci milik Gracia.


"Kau mungkin bisa menutupi perasaanmu pada Lion tapi aku tahu kau menyukainya juga bukan"


"Berisik, aku memang jatuh cinta padanya, apa aku salah merasakan ini untuk pertama kalinya?"


"Yah tidak, lagipula aku sudah menduganya dari awal, Lion tampan, baik, dan juga jujur tidak aneh banyak wanita yang menyukainya. Saat kau berhadapan denganku dulu kau seperti mesin pembunuh tanpa belas kasih tapi yang kulihat sekarang hanyalah seorang gadis pada umumnya."

__ADS_1


"Dulu aku hanya fokus untuk menyelesaikan tugasku."


Gracia hanya diam menutupi wajah merah tomatnya.


__ADS_2