Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 497 : Sebelum Keputusan


__ADS_3

Aku menceritakan semua hal kepadanya khususnya seperti benua manusia dan benua iblis yang telah pulih seutuhnya.


Walau tampak ragu Ratu Siren memiliki sedikit kepercayaan padaku hingga dia mencoba untuk menimbang-nimbang pilihannya.


"Aku akan memberikannya jawaban esok pagi, kalian menginaplah di istanaku."


"Maksudmu di dalam air?"


Ratu Siren menjentikkan jarinya dan dalam sekejap kota yang tadinya berada di dalam air naik ke atas di mana pulau yang menyangganya melayang di atas permukaan air.


"Dengan ini kalian bisa tinggal."


Tidak masalah untuk menerimanya, lagipula kami juga lelah dalam perjalanan. Kami diberikan satu ruangan luas yang bisa diisi semua orang, kamar mandi, pakaian ganti dan makanan yang berlimpah.


Tak kusangka mereka cukup ramah juga. Seusai makan, aku, Harty, Hualing dan juga Karina tidur di satu ranjang.


Aku mengeluarkan kubus dari sihir penyimpananku dan ketika aku menekannya sebuah layar melayang ke udara.


"Ini pertama kalinya aku melihat hal seperti ini."


"Ini buatanku sendiri, kita bisa menontonnya selama seharian penuh."

__ADS_1


Mata Karina berkilauan terang, pada malam harinya ketika mereka tidur aku merasakan aura kehadiran seseorang karena itu aku diam-diam keluar dan menemukan Ratu Siren berada di samping kamar kami.


"Sudah kuduga kau bisa menyadarinya, tolong ikut denganku sebentar."


Aku mengikuti apa yang dia inginkan dan duduk di perkarangan istana dengan ditemani secangkir teh hangat.


"Banyak hal yang kupikirkan, tapi sebelum aku tahu tempat seperti itu aku tidak bisa membuat keputusan? Rakyatku telah menderita cukup lama dan aku tidak ingin membuat mereka mengalami hal buruk kembali."


Sudah wajar jika ratu di depanku sedikit waspada. Mempercayai seseorang sangatlah sulit apalagi jika melibatkan banyak orang.


"Aku ingin mengujimu dalam sebuah pertarungan. jika kau menang kami bersedia untuk pindah jika tidak, kami akan menolak."


"Kami perlu orang kuat untuk melindungi kami... maka aku akan yakin setelah melihat kekuatannya."


Jika itu yang dia mau sebagai jawaban aku akan menerimanya.


"Ngomong-ngomong teh ini sangat enak."


"Itu dibuat dari tumbuhan di dalam air."


"Ada hal seperti itu juga ya."

__ADS_1


Keesokan paginya aku berada di sebuah arena mirip Colosseum di mana aku bertanya-tanya siapa yang akan melawanku dalam pertandingan ini, jika mengamsumsikan siapa yang terkuat dari semuanya hanya ada satu orang dan dia adalah sang ratu sendiri.


Dan tebakanku memang benar.


Ratu Siren mengenakan gaun mengembang dengan sebuah cambuk di tangannya.


"Kau sepertinya tidak begitu terkejut?"


"Kurasa aku sedikit menembaknya."


Aku sekarang tidak menggunakan pedang milikku melainkan satu pedang kayu di tanganku, saat pembawa acara mulai menyuarakan semangatnya, kami melangkah maju.


Kuayunkan pedangku dari samping dan sang ratu membentangkan cambuknya dengan kedua tangannya untuk menahan ayunanku.


Bisa seperti itu juga.


Dia berusaha menendang kakiku dan aku menariknya ke belakang untuk menghindarinya, saat hendak menggerakkan pedang kayuku dia sengaja melilitkannya di sana hingga sulit ditarik. Kekuatan yang besar menarikku lalu membantingku ke pinggir arena dengan dentuman keras.


Aku segera bangkit saat dia melompat di atasku berusaha menginjakku dengan sepatu tinggi. Cambuk itu memiliki jangkauan jauh yang mampu kembali mengenaiku.


Aku menangkap ujung cambuk dengan tanganku lalu menarik tubuh sang ratu ke depanku, aku membiarkannya meluncur begitu saja dan hanya menghancurkan sisi arena lain.

__ADS_1


__ADS_2