Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 253 : Pertarungan Di Ibukota Borman Bagian Tiga


__ADS_3

Sementara aku mengalihkan pandangan ke arah pertarungan Kanade ledakan yang lain terdengar dari arah berbeda.


Entah itu berasal dari Glory, Thomas ataupun Ginny pertarungan terlihat sangat sengit.


Kanade melompat dari rumah ke rumah saat api berbentuk panah dilesatkan ke arahnya, sihir Faust memiliki bentuk yang unik di mana api telah mengelilingi dirinya membentuk bayangan merah dengan wajah iblis serta empat tangan yang menarik busur serta panah secara bersamaan.


Tiga panah api dilesatkan secara bersamaan tepat saat Kanade mendaratkan kakinya dari serangan sebelumnya.


Bam.


Tubuhnya terlempar ke udara meski begitu dia masih bertahan, tepat saat kedua kakinya kembali ke tanah dia melesat maju dengan memosisikan tangan memegang pedang yang tersarung.


"Bukannya dia terlihat seperti ahli pedang sesungguhnya?" Ucap Aira.


"Kenapa kau melihatku begitu, aku juga ahli pedang loh."


Rion menambahkan.


"Sulit membandingkan Lion dan Kanade, kurasa Lion terlalu cepat 100 tahun untuk menyamai teknik pedangnya "


Mereka berdua seenaknya saja.


Lebih dari itu Kanade menggunakan langkah cepat dan muncul secara zig-zag saat anak panah menyerangnya, dia memutar tubuhnya untuk menghindari panah yang semakin kuat.


Semakin jarak mereka memendek maka anak panah yang dilesatkan akan jauh semakin kuat, Kanade telah berada di jarak satu meter dengan Faust bersiap menarik pedangnya.

__ADS_1


Faust sejauh ini hanya berdiri tenang, saat bilah diayunkan dengan cepat tangan dari iblis api itu menahannya sementara tiga tangan yang lain menciptakan lingkaran sihir.


"Aku tidak bisa menarik pedangnya."


Itu jelas sangat berbahaya, sepertinya aku juga harus turun membantu.


Kanade melindungi dirinya dengan sihir pelindung setelah dengan tepaksa harus melepaskan katananya untuk mundur, ketiga lingkaran sihir menyemburkan apinya menyeretnya sejauh beberapa puluh meter menabrak bangunan di belakang.


Darah menyembur dari mulutnya.


"Guakh."


Aku muncul di dekatnya lalu menggunakan sihir penyembuh untuk membantunya, Rion dan Aira telah berubah menjadi pedang di pinggangku.


"Jika kau di sini berarti Amos telah dikalahkan," ucap Faust.


"Terserahlah, biar aku yang akan membunuh kalian berdua."


Tiga anak panah dilesatkan ke arah kami, aku merangkul tubuh Kanade lalu menghilang ke tempat lain dengan sihir teleportasiku ke atas bangunan tinggi.


"Kau tak apa Kanade?"


"Aku baik-baik saja, kita harus segera mengalahkan orang itu."


"Bagaimana soal pedangmu?"

__ADS_1


"Aku akan bertarung dengan tangan kosong."


Ahli pedang bertarung tanpa pedang adalah sesuatu yang mustahil dilakukan, karena itu aku mengeluarkan pedang biasa dari sihir penyimpananku lalu memberikannya pada Kanade.


"Gunakan saja itu."


"Baik."


Faust yang telah menyadari keberadaan kami menembakan panahnya kembali, aku menggunakan sihir teleportasi dan muncul di hadapannya.


Menggunakan teknik seperti ini secara terus menerus membebani tubuhku, tidak ada jalan lain selain menghadapinya secara langsung.


Aku menarik kedua pedang dari pinggangku, saling menatap dengan Kanade kami mengangguk sebelum melangkah maju.


Faust berkata.


"Aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan, meski begitu datanglah kalian berdua dan matilah."


Iblis api di belakangnya mulai membesar, tak hanya bertugas sebagai pelindung, iblis api itu juga bertugas sebagai penyerang.


Aku ataupun Kanade berpencar ke arah berbeda, membidik dua orang sekaligus sesuatu yang tidak bisa dilakukannya, iblis api itu hanya akan mengincar salah satu dari kami.


Aku memang berfikir demikian namun sayangnya pemikiran itu dihancurkan dengan mudah.


Iblis api mengincar Kanade sementara Faust mengincarku dengan busur di tangannya, jika begini makhluk dibelakangnya bukan digerakkan olehnya melainkan memiliki pemikirannya sendiri.

__ADS_1


Terlambat untuk mengetahuinya, entah itu aku atau Kanade sama-sama dihempasan ke belakang.


__ADS_2