Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 356 : Buku-Buku Yang Hilang


__ADS_3

Kota berikutnya yang didatangi oleh Rion merupakan kota kecil di sebelah timur kerajaan ortodoks suci, kerajaan ini tiba-tiba saja terbentuk dan memiliki luas setengah dari benua ini.


Meski peperangan telah selesai kota ini tampak masih belum mendapatkan perbaikan seluruhnya, ada beberapa rumah yang hanya menyisakan setengah bangunannya dan ada juga yang rata dengan tanah.


Orang-orang tampak bergotong royong untuk membersihkan semua kekacauan.


Di mata semua orang mereka berhak mengambil tanah para titan lagipula merekalah yang lebih dulu menghancurkan rumah mereka yang sekarang disebut benua iblis.


Tapi bagi Rion semuanya tampak janggal meskipun dia belum bisa menemukan informasi yang lebih jauh soal itu.


"Kau baru datang kemari?" seorang yang bertanya dengan ramah itu adalah seorang pria penjual ubi bakar.


"Iya, apa semuanya baik-baik saja?"


"Ah tidak masalah, beberapa hari lalu ada segerombolan pasukan raja iblis yang datang kemari dan membuat kekacauan tapi semuanya telah diusir ke luar."


Walau mereka telah mengambil tanah para titan sepertinya masalah tidak begitu selesai setelahnya.


"Begitu, pasti sulit untuk kalian."


"Tidak masalah, berkat nona Venus semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


Rion terdiam memikirkan sesuatu hingga suara pria itu menyadarkannya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa, aku pesan dua ubi bakar untukku."


"Baik."


Venus adalah seseorang yang Rion kenal di alam dewi, selama dia mengumpulkan tujuh dosa dia sama sekali tidak ingin berurusan dengannya.


Venus cenderung orang serius dan tidak bisa diajak bicara, seperti itulah pandangan Rion terhadapnya. Mengabaikan pemikiran itu Rion menggigit ubinya dengan senang.


Berkat bisnis gelap yang telah dilakukannya dia sudah cukup banyak uang untuk tempat tinggal, makanan serta keperluan lainnya tapi satu hal yang benar-benar ingin dia lakukan hanyalah satu hal yaitu belajar sihir.


Beberapa buku dibiarkan tergeletak begitu saja seolah sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan siapapun.


"Jika begini bagaimana aku belajar sihir," ketika Rion mengutuk keadaannya dia baru menyadari satu hal penting.


Benar, sesuatu yang sangat mudah dia pahami.


Buku-buku ini dibiarkan begitu saja tanpa penjagaan, tidak ada orang yang akan menuntutnya jika dia mengumpulkan buku-buku ini dan mempelajarinya. Rion tersenyum atas ide yang telah dia dapatkan dan secara cepat mengumpulkan buku-buku yang berserakan tersebut membungkusnya dengan kain seolah dia baru saja pergi dari rumah.

__ADS_1


Ia menyewa penginapan sederhana dan mulai menjalani rutinitasnya seperti biasanya selain meramal ia pun akan pergi untuk belajar sihir.


Pemilik penginapan sempat memperingati sesuatu penting padanya.


"Ah, nona berhati-hatilah belakangan ini ada rumor bahwa buku-buku dibangunan di akademi yang rusak tiba-tiba menghilang aku takut jika di kota kita ada pencuri yang berkeliaran."


"Eh, benarkah?"


"Itu benar, saat beberapa petugas akan membersihkan puing-puing akademi semua buku telah raib."


"Pencuri itu tidak tahu malu, aku yakin dia sedang mengobrol dengan seseorang selagi tertawa dengan uang yang dia dapatkannya."


"Aku juga berfikiran sama."


Pencuri yang dimaksud tentu saja Rion sendiri, setelah dia menyelesaikan satu buku dia akan menjual buku tersebut.


Itu cukup baik saat ternyata buku tersebut memiliki harga cukup tinggi di pasaran apalagi jika melalui pelelangan.


"Nona, kenapa anda senyum-senyum sendiri?"


"Aku baru mengingat hal lucu, aku akan pulang besok hari... tak apa untuk mengunci pintunya lebih awal."

__ADS_1


"Baiklah."


Rion hanya berjalan pergi setelah mengatakan hal itu.


__ADS_2