
"Lihat ini Aira, aku menangkap satu kumbang dengan dua tanduk."
"Owh, benar... suamiku sangat bersemangat."
"Sudah jelas bukan," aku tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku juga akan mencari di sana."
"Memangnya untuk apa serangga ini? Apa kita akan memakannya?"
"Aku tidak tahu serangga bisa dimakan."
"Mau mencobanya?"
"Kalau rasanya enak, aku tidak akan menolaknya."
"Kalau begitu aku akan mencarinya, kumbang kurasa rasanya kurang enak aku akan mencari serangga lain seperti ulat sagu atau ulat daun yang lebih mudah dimasak."
"Aku tak sabar mencobanya."
Sementara Aira mencari serangga aku berjalan ke arah lain untuk menemukan serangga yang bisa dimakan, ada tarantula di bawah kakiku yang cukup besar.
Kami bisa memakannya hanya saja itu terlalu ektrim untuk dilakukan jadi mari ke menu sebelumnya yang sudah ditentukan. Setelah berkeliling sebentar aku menemukan sebuah pohon sagu yang tumbang, aku hanya harus membelahnya dan melihat apa di dalamnya ada ulat yang bersarang.
Aku menemukan sekitar 50 ekor ular dengan tubuh gemuk-gemuk, jika untuk dua orang ini lebih dari cukup.
Selanjutnya aku mengambil ulat daun yang panjangnya sekitar 30 cm, mereka tidak berbulu dan cenderung botak.
Dalam perjalanan ke tempat sebelum aku mendapatkan beberapa belalang juga jadi mari olah ini juga, pertama aku membasuh mereka dengan air panas sebelum menyiapkan api serta wajan di atasnya.
__ADS_1
Bumbunya sederhana seperti bawang putih, bawah merah serta bumbu rempah-rempah lainnya, tentu aku juga tidak melupakan garam maupun penyedapnya sebagai tambahan.
Setelah semua bahan dimasukan, masukan juga serangga yang sebelumnya kudapat lalu oseng-oseng sebentar, aku harus memberikan sedikit air juga ke dalamnya.
Aroma harum tercium dari sana, ini jelas adalah makanan yang akan melegenda di dunia manapun kau berada.
Aira yang sudah selesai berburu muncul dengan banyak serangga di tangannya.
"Lihat Lion, aku mendapatkannya, sangat banyak."
"Ada serangga emas di sana."
"Hebat kan, kalau dijual harganya cukup lumayan tapi aku berniat untuk melepasnya.. menangkapnya juga sudah puas."
Dia benar-benar senang sebelum duduk di sisi lainku selagi melirik makanan yang sedang kubuat sekarang.
"Tentu saja, aku ini chef profesional haha kurasa sudah matang, mari makan sekarang."
"Dengan senang hati."
Aku membuat alas piring dari daun lalu memberikan ranting kecil sebagai pengganti sendok.
"Rasanya sangat enak, aku tidak menyangka serangga bisa memiliki cita rasa seperti ini."
"Benar kan, jika ada tepung makanannya akan jauh lebih enak.. aku bisa membuat ulat tepung goreng sebagai menu utama."
"Um... ada banyak sisanya aku ingin semua orang mencobanya juga."
"Tidak masalah, tapi aku ragu mereka akan menyukainya."
__ADS_1
"Aku tidak berfikir begitu, rasa adalah segalanya apapun bahannya."
"Itu perkataan dari ahli kuliner kurasa."
Semenjak itu terkadang semua orang di istana akan pergi ke hutan untuk berburu serangga dan selanjutnya akan memintaku untuk memasaknya.
Pagi berikutnya adalah giliran Valentine, Valentine istriku yang menyukai bunga lebih dari siapapun, setiap taman di istana juga kebanyakan ditanam olehnya jadi mudah untuk menentukan tempat seperti apa yang dia ingin kunjungi dan itu adalah sebuah taman bunga luas yang diisi oleh berbagai bunga.
Valentine tampak bahagia saat dia duduk untuk mencium aroma dari bunga.
"Harum sekali."
"Bagaimana kalau kita coba merangkai mereka jadi hiasan."
"Itu ide bagus, tapi sebelum itu bolehkah aku meminum darah suamiku."
"Aku tidak keberatan."
Valentine berdiri lalu melompat ke atasku, gerakannya penuh seksual.
"Kalau begitu selamat makan."
"Tolong lakukan dengan lembut oke."
"Aku pasti melakukannya dengan lembut seperti yang dilakukan suamiku setiap malam."
Ujung taring Valentine menancap di leherku dimana aku bisa mendengar suara tegukan dari tenggorokannya.
Senang karena Valentine melakukannya dengan lembut, namun tetap saja aku sedikit pusing karena darahku diambil.
__ADS_1