Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 190 : Pertarungan Di Ibukota Bagian Tiga (Akhir)


__ADS_3

Venus yang berdiri di udara mengirimkan rentetan pedang ke arah Nilstrong yang menunggu dengan kekuatan ototnya, memosisikan dirinya dia meninju seluruh pedang cahaya membuatnya hanya menjadi sebatas ilusi biasa.


Pedang yang hancur menjadi serpihan dan lenyap di udara, jelas hal itu tidak membuat Venus takjub atau kesal.


Venus kembali melindungi dirinya dengan pedang cahaya saat Nilstrong menguatkan kembali ototnya untuk meluncurkan dirinya ke depan wajah Venus.


Pukulan menghantamnya sementara pedang berputar untuk menahannya, Nilstrong melompat ke belakang dengan puas.


"Kita lihat selama apa benda itu akan melindungimu."


Bahkan jika Venus menggunakan 12 lingkaran suci algoritma miliknya itu tidak akan bisa mengakhiri sosok di depannya, di sisi lain Venus mengalihkan pandangannya ke arah dua Titan yang sedang bertarung jauh dari lokasinya.


"Apa yang kau lihat, jangan meremehkanku," teriak Nilstrong mengangkat tanah lalu melemparkannya ke arah Venus.


Tanah itu hancur di udara namun sejak awal itu sebuah pengalihan, serangan yang sesungguhnya adalah tepat saat Nilstrong berada di belakang Venus.


"Rasakan ini, pukulan besi."


Nilstrong merubah tangannya seperti apa yang dia maksud, menghancurkan seluruh pedangnya sebelum melemparkan Venus jauh ke udara.


"Guak."


"Tak kusangka Dewi itu sangat lemah bahkan dia tidak bisa menahan pukulanku."


"Kenapa kau begitu percaya diri jika bisa melukaiku, sejak awal aku sengaja melakukannya."


"Apa?"


Sebuah lingkaran raksasa telah muncul di bawah kaki Nilstrong di mana dia menjadi pusatnya.


Tubuhnya ditarik ke bawah membuatnya tak bisa bergerak.

__ADS_1


"Gaaaaaaaah."


Semakin Nilstrong melawan semakin kuat juga gravitasi yang menariknya.


Selanjutnya.


Dari bawah kakinya ratusan pedang tercipta menembus tubuhnya sehingga membawanya ke atas.


"Aku tidak akan kalah, aku.."


Saat Nilstrong berusaha merubah dirinya menjadi Titan sebuah sihir cahaya menghapusnya tanpa sisa bersama seluruh kota di sekelilingnya.


Menyadari musuhnya telah lenyap Venus segera terbang ke arah dua raksasa yang sedang bertarung.


***


Aku membersihkan lahar dari wajahku sebelum kembali menyerang Renard dengan pukulan.


Menyadari hal itu aku memutuskan untuk mengunci gerakan Renard dari belakang, tanganku melepuh sementara asap mengepul dari kami berdua.


Aku mengangguk sebagai tanda bagi Venus dan dia menembakan pedang tersebut menembus tubuh Renard, sesaat sebelum pedang itu menembusnya aku telah berguling menghindarinya lalu berlari untuk melindungi Aira dan Rion dengan punggungku.


Selanjutnya.


Tubuh Renard meledak dahsyat menghasilkan bola raksasa bercahaya yang menelannya dan akhirnya menyisakan kawah bencana setelahnya.


Aku mengembalikan tubuhku sedia kala bersamaan Venus yang mendaratkan kakinya ke tanah, masih ada satu lagi yang harus kami kalahkan dia adalah Ranger.


Ranger muncul setelah ledakan dan berjalan selagi bertepuk tangan.


Dia berkata dengan santai.

__ADS_1


"Kalian benar-benar hebat."


"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Sejak awal kau sama sekali tidak berniat membunuhku bahkan lebih membantuku."


Jika mengingatnya semuanya jelas janggal, pertama dia memberikanku ramuan merubah menjadi Titan dan kedua dia melepaskanku saat menyerang tembok suci Maria, padahal saat itu dia memiliki peluang lebih besar untuk mengalahkanku.


"Aah, tujuanku adalah melihat bahwa ras Titan akan bisa hidup seperti sedia kala, saat dulu aku memiliki perjanjian dengan Lu Shang, dia bilang suatu hari pasti akan ada muncul seorang yang membantu Titan mendapatkan kehidupannya dan aku menyanggahnya. Aku bilang padanya hal itu mustahil akulah yang akan menghancurkan umat manusia dan menjadikan ras Titan satu-satunya di dunia ini dan dia kembali mengatakan, jika ada? Apa yang kau lakukan? Maka aku akan membantunya dan memilih menyerahkan semuanya padanya."


"Karena itulah kau diam-diam mengirim sebagian pasukanmu untuk menyelinap ke benua iblis dan menjadi penduduk negeri Nibela."


"Benar sekali, hal yang kuinginkan telah selesai... bahkan jika aku kalah atau menang hasilnya akan sama."


Ranger mengambil botol dari bajunya lalu meminumnya ke dalam mulutnya.


Darah menyembur dari mulutnya.


Itu jelas racun.


"Kau? Apa yang kau lakukan?"


"Aku telah banyak membunuh manusia ataupun mengobarkan Titan, rasanya tidak adil jika aku menjalani hidupku setelah membuat mereka mati."


"Kau bisa mengambil jalan ke dua dengan menebusnya," teriakku.


"Tidak, ini lebih baik... aku lebih suka menyusul semuanya, tolong jaga Livia dia terlalu menyukaiku hingga terus mendukungku meskipun sejujurnya dia wanita yang baik, bilang padanya bahwa aku tidak menyukainya sama sekali."


"Kau?"


Tepat saat Ranger menutup matanya dia tumbang ke tanah, Rion berkata.


"Sejak awal dia memang ingin mati, bahkan setelah menghancurkan ras lainnya aku yakin dia akan melakukan hal sama."

__ADS_1


__ADS_2