Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 474 : Menuju Pertarungan Akhir


__ADS_3

Kami menyelesaikan rumahnya dalam waktu dua hari sementara jalannya sendiri itu masih memerlukan waktu lama meski begitu kami akan menyerahkan semuanya pada kerajaan nanti.


Aku memanggil Estelle yang berdiri terharu saat melihat desanya telah pulih kembali, di setiap jalan aku meletakkan pohon-pohon kecil yang akan menambah daya tarik dari desa ini.


"Mari kembali Estelle."


"Baik."


Kami muncul di istana di mana kami melaporkan apa yang telah kami lakukan di desa Estelle.


"Jika itu Lion, aku sudah tidak heran lagi... yah, aku turut senang bahwa desanya cepat bangun ulang, lalu sekarang bagaimana dengan penduduknya? Untuk akses jalan aku akan langsung mengirim banyak pasukan untuk bekerja hari ini."


Estelle memikirkannya sesaat sebelum berkata.


"Kudengar ada desa yang mengalami hal serupa seperti desaku, aku ingin mengundang mereka untuk tinggal di desaku."


"Desa itu kah, aku tidak keberatan aku akan mengirim surat ke sana."


"Terima kasih banyak."


Selepas pembicaraan sesaat dengan Varlia, aku mengunjungi area pelatihan bersama Estelle untuk melihat bagaimana Mamia dan Hualing sedang berlatih.


Hualing mencoba menggunakan pedang meski begitu ia masih perlu banyak latihan, dengan mudahnya dia terjatuh dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Apa kita akhiri saja latihan ini Hualing?"

__ADS_1


"Tidak, tolong sekali lagi."


"Baiklah tapi jangan memaksakan diri."


Kedua pedang kayu mereka saling berbenturan menghasilkan suara khas yang sering kudengar dari sebuah pertarungan.


"Aku juga tidak boleh ketinggalan," Estelle melompat ke bawah lalu berlari ke arah keduanya.


"Tunggu aku juga ingin membantu Hualing."


"Ini giliranku, aku gurunya jadi hanya aku yang boleh mengajarinya."


"Tidak adil, aku juga."


Mereka bertiga sangat bersemangat.


"Aku telah membuat karya yang luar biasa."


Estelle menerima belati yang bersinar terang dengan namanya sendiri tertulis di bilahnya, sementara aku mendapat pedang kembar dengan mata dari inti naga di atas pegangannya.


"Ini sangat ringan."


"Cobalah untuk mengayunkannya."


Ketika aku mengayunkannya pelan di udara itu menciptakan bilah angin yang menghancurkan dinding toko dengan mudah.

__ADS_1


Aku akan mengganti kerusakannya.


Bukannya marah pemilik toko tertawa.


"Aku sudah menduganya, inti naga itu menyerap mana penggunanya secara otomatis jadi berhati-hatilah saat menggunakannya."


"Terima kasih."


"Untuk nona Estelle belatinya sangat ringan meski begitu itu adalah belati yang paling kuat dari apapun yang pernah dibuat olehku, tolong jaga dengan baik-baik."


"Aku mengerti, kalau begitu kami permisi."


"Tunggu sebentar, kalian datang untuk membuat senjata yang kuat, sebenarnya lawan seperti apa yang kalian ingin kalahkan?"


"Kami ingin mengalahkan raja iblis, sekarang kami akan berangkat ke kastilnya."


"Jadi benar, kaulah yang sebelumnya melawan pahlawan."


Aku membungkuk sekali sebelum mengikuti Estelle dari belakang.


"Semoga berhasil, kalian berdua benar-benar terlihat seperti pahlawan sesungguhnya... aku bangga telah membuat sesuatu yang hebat untuk kalian."


Aku sempat mendengar gumaman si pemilik toko, karena samar-samar aku tidak terlalu jelas mengetahuinya.


Kami berjalan ke luar kota di mana Mamia, Varlia dan juga Hualing berada di sana menunggu.

__ADS_1


"Kalian lama, kami sudah siap untuk menghajar raja iblis sekarang," Mamia sangat bersemangat hingga aku pun mengeluarkan terleportasi gate untuk mengirim kami semua ke sana.


__ADS_2