Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 214 : Clarisa Marie Dan Insiden Di Kota


__ADS_3

Itu adalah sebuah alun-alun kota yang ramai di mana orang-orang bersorak-sorai saat menyaksikan dua petarung jalanan saling ujuk kemampuannya untuk memperebutkan sejumlah uang yang dipertaruhkan.


Tidak tanggung-tanggung jumlah itu sudah cukup membuatmu tidak bekerja dalam beberapa bulan, ketika si juara bertahan menang telat atas penantang dari kerumunan orang seorang gadis berjalan maju, jika disebut gadis dia sesungguhnya telah hidup ribuan tahun, kebanyakan elf hidup lebih panjang dari umurnya namun bagi dirinya dia adalah makhluk abadi.


Ia mengangkat tangannya.


"Bolehkah aku ikut berpatisipasi?"


Panitia sedikit ragu untuk memasukannya menjadi kontestan bagaimana pun melihatnya gadis itu hanya seorang loli. Berbicara soal penampilannya ia memiliki rambut emas panjang yang sengaja dia ikat twintail, ia mengenakan gaun terusan perpaduan hitam


putih yang lebih mirip merujuk ke unsur gotic dengan pita melingkar di pinggulnya.


Untuk bagian dada tidak ada yang menonjol seperti gadis seusianya, itu mirip seperti seorang gadis di belasan tahun yang masih dalam pertumbuhan.


Ia mengenakan stocking panjang serta sepatu boot berhak tinggi.


Namanya...

__ADS_1


"Aku Clarisa Marie, akan menjadi penantang berikutnya."


Clarisa adalah seorang dengan gaya bertarung bebas, hanya mengandalkan pukulannya dia telah bersiap menantang pria besar berotot di depannya, matanya yang berwarna biru langit tampak fokus untuk mengenali musuhnya yang sepenuhnya berdiri tanpa terintimidasi.


Clarisa berfikir untuk mengangkat roknya untuk membuat musuhnya memberikan celah padanya, namun sayangnya pria di depannya hanya tertarik dengan janda.


Panitia memotong dan berkata 'mulai' demi memulainya, pria berotot berlari menerjang ke arah Clarisa yang memusatkan pertahanannya.


Ketika pukulan terjulur ke arahnya, sesuatu yang mustahil terjadi. Gerakan Clarisa begitu lembut, ia tidak menangkis serangan musuhnya melainkan memutarnya hingga pria berotot berputar lalu terbang menghantam lantai keras.


"Padahal aku belum siap."


Setiap pukulan ditepis balik, di sela itu Clarisa juga turut membalas, dia mengelak ke samping untuk memberikan tinju lanjutan dari sebelumnya.


Dia bersalto ke belakang untuk menjaga jarak.


Tanpa menunggu musuhnya yang terhuyung-huyung karena dampak pukulannya. Clarisa kembali bersalto ke depan, tepat saat jarak keduanya menutup, Clarisa mengirim tendangan lurus mengenai tubuh pria berotot hingga terbang lalu menembus tembok.

__ADS_1


"Pemenangnya Clarisa Marie."


"Yey, aku menang."


Hasil ini bisa ditebak dengan mudah, setelah memenangkannya Clarisa dituntut untuk melawan beberapa penantang saat semuanya dikalahkan dia akhirnya bisa mengambil bayaran mereka.


"Ini terasa berat," ucap Clarisa meskipun sejujurnya dia tidak bisa berhenti tersenyum karena kebahagiaan. Dengan uang ini dia akan membeli makanan apapun yang dia sukai.


Dalam perjalanan ke sebuah toko sesuatu yang tak terduga terjadi, dari langit yang cerah sebuah gerbang raksasa muncul tanpa peringatan.


Hanya dengan kemunculannya tanah telah berubah jadi tandus hingga seisinya menjadi lahan kehancuran.


Gerbang mulai berderit lalu membuka dirinya seolah seseorang telah membukanya, dari sana kumpulan Iblis Titan bermunculan dengan jumlah besar.


Tinggi mereka bervariasi ada 40, 60, ataupun lebih dari itu.


Sebelum orang-orang beraksi dengan itu, para raksasa mulai menghancurkan seisi kota membunuh yang masih hidup dan memakan apa yang mereka sukai.

__ADS_1


Saat ini Clarisa belum mengetahui gerbang apa itu namun pada waktunya ia akan tahu bahwa gerbang tersebut bernama gerbang Solomon jumlahnya ada tujuh dan yang dia lihat hanya salah satunya.


Tanpa berfikir dua kali Clarisa berlari maju, bagi dirinya dia harap bisa menyelamatkan beberapa nyawa yang terlihat olehnya.


__ADS_2