Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 257 : Pertarungan Di Ibukota Borman Bagian Tujuh


__ADS_3

Kuno melanjutkan.


"Aku dan Evila hanyalah orang yang tidak memiliki tujuan dan tempat tinggal, kami hidup di jalanan dan diperlukan seperti gelandangan namun berkat Tuan Solomon kami hidup dan memiliki arti dari tujuan kami.. bahkan jika kami mati kami bisa mati dengan kebanggaan.. Manusia memang pantas untuk mati, mereka hanya orang-orang yang mementingkan diri mereka sendiri tanpa peduli seseorang menderita atau tidak."


Aku menggigit ujung bibirku.


Solomon jelas memanfaatkan keduanya.


Manusia memang seperti itu, tapi bukan berarti bahwa tidak ada orang baik juga di dunia ini.


Keduanya hanya kurang beruntung.


"Dengar, kau bisa menghentikan semua ini aku berjanji akan mengampuni nyawamu."


"Haha lucu sekali, aku tidak akan mengkhianati tuan Solomon."


Aku mempererat genggaman tanganku.


Kalau saja ada seseorang yang lebih baik menyelematkan Kuno dan Evila, mereka tidak akan terjebak dengan hal seperti ini.


Mungkin mereka bisa hidup tenang di tempat yang jauh lebih baik.


"Lion?" Aira dan Rion memanggilku secara bersamaan.


"Aku tahu, tidak ada jalan lagi."


Kuno memegang pedang besarnya dengan dua tangan begitu juga denganku, aku memasukan pedang Aira dan hanya menggunakan pedang Rion.


Ini menjadi pertarungan satu pedang.


"Akan kuakhiri pertarungan ini dengan sekali tebasan."


"Akulah yang harus mengatakan itu," bantah Kuno.

__ADS_1


Keheningan beberapa waktu terasa di antara kami berdua, langit yang cerah telah tertutup awan mendung dan dari sana tetesan hujan mulai membasahi kota ini.


Mayat-mayat yang penuh darah tersapu air hujan, entah itu kawan atau musuh semuanya telah menjadi satu.


Para pasukan berserta anggota kelompokku mulai bermunculan membentuk diri mereka menjadi sebuah lingkaran besar untuk memperhatikan pertarungan akhir ini.


Aku maupun Kuno saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya melangkah maju di waktu bersamaan.


Kuayunkan pedangku begitu juga pedang miliknya hingga kami saling membelakangi satu sama lain dalam derasnya air hujan.


Aku jatuh berlutut.


"Sepertinya kau yang menang," ucap Kuno, pedang di tangannya terbelah bersamaan dirinya yang jatuh ke tanah selagi menatap langit.


Aku bangkit lalu menyarungkan pedangku sebelum berjalan ke dekatnya, aku menatap sosok Kuno untuk terakhir kalinya sebelum mengambil botol dari balik bajunya lalu menghancurkan dengan tanganku.


Dia memutuskan untuk tidak berubah menjadi Titan melainkan melawanku secara langsung.


"Beristirahatlah dengan tenang."


"Kita menang."


"Menang."


"Menang."


Dibarengi tawa suka cita kepalaku tiba-tiba terasa berat, pandanganku kabur dan saat aku kehilangan keseimbangan Thomas telah menangkapku dari belakang.


"Kau baik-baik saja?" tanyaku demikian.


"Aku baik, beberapa dari pasukan kita ada yang bisa mengobati racun."


"Syukurlah, kalau begitu aku ingin tidur sebentar."

__ADS_1


"Tentu, sisanya serahkan padaku."


Aku menutup mataku dan saat membukanya aku telah berada di tempat tidur yang hangat beserta selimut yang membungkus tubuhku.


Aku buru-buru bangun namun Aira dan Rion yang menungguku menghentikannya.


"Jangan dulu bergerak Lion, kau masih belum pulih."


"Benar yang dikatakan Aira, berbaringlah sebentar lagi."


"Aku pingsan lagi, berapa lama aku tertidur?"


"Tiga hari."


"Jadi begitu, lalu bagaimana keadaannya?"


Itu jelas sesuatu yang ingin segera kuketahui.


"Berkat Lion dan semuanya, pasukan kekaisaran akhirnya bisa ditekan mundur hingga akhirnya mereka kembali ke wilayahnya."


"Untuk keluarga kerajaan yang sebelumnya berada di kerajaan Frames telah kembali ke posisinya semula," tambah Aira.


"Apa mungkin kota ini juga?"


Keduanya mengangguk mengiyakan.


"Jika Lion ingin melihatnya mari kami tunjukkan."


Rion memapahku keluar pintu bersama Aira, saat pintu dibuka bukan lagi pemandangan kota yang mati melainkan kota yang benar-benar telah hidup kembali.


Beberapa orang dengan senang menjajalkan dagangan mereka kepada para pejalan kaki dan di sela-sela itu tampak beberapa anak sedang berlarian.


"Cepat, pertunjukan sirkusnya akan dimulai."

__ADS_1


"Tunggu aku."


Aku sekarang bisa tersenyum lega.


__ADS_2