Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 375 : Ireta Lapiz


__ADS_3

Gadis itu meluncur ke arahku, aku menangkis setiap serangannya ke samping ke kiri kemudian memutar.


Sabitnya sedikit mengenai perutku dan itu merobek pakaianku, ada sedikit darah yang merebas dari sana namun jelas aku memilih mengabaikannya untuk menahan serangan berikutnya. Sabit itu secara bergiliran memotong udara sebelum menabrak pedang Charlotte.


Salah satu sabit muncul dari samping leherku dan kugunakan skill dosa mematikan yang membuatku kebal terhadap serangan. Sabit Ireta tertahan di sana menciptakan suara yang memekikkan telinga bagaikan hantaman sepotong pipa baja.


"Keras sekali," katanya dari dalam topeng.


Dia tak berhenti di sana dan terus menyerangku tanpa jeda, kecepatan serangannya benar-benar mengerikan seolah sabit raksasa seperti itu hanya mainan baginya. Aku tidak ingin menjadi pihak yang selalu diserang karenanya aku juga mengirim tebasan terbaikku.


Kulapisi pedang Charlotte dengan sihir air lalu meluncurkan bilah ke arahnya, bilah itu dengan mudah terhempas ke sampingnya.


Ketika dia akan berlari ke arahku, suara yang tidak kukenal muncul secara tiba-tiba seolah orang asing benar-benar bermunculan tanpa peringatan.


Kini suara itu berasal dari seorang wanita yang datang bersama anak-anak kecil, aku jelas mengingatnya dia salah satu orang yang kulihat di pulau yang Julie kelola.


"Hentikan Ireta, apa kau tahu apa yang kau lakukan?"


"Syukurlah kalian selamat."

__ADS_1


"Lepaskan topeng itu dulu."


"Aku mengerti."


Ireta melepaskannya dan dari wajahnya tampak wajah yang benar-benar terlihat berkaca-kaca.


"Aku pergi ke pulau dan kulihat semua orang telah terbunuh, Julie juga."


"Jadi begitu tapi kau salah pada satu hal yang melakukannya bukan tuan Lion melainkan orang bernama Solomon."


Mendengar itu wajah Ireta lebih terpuruk.


"Dia sudah kembali dan bahkan jauh lebih kuat."


"Tidak mungkin."


Ireta mengembalikan topengnya ke dalam lubang hitam termasuk dua sabit miliknya yang mematikan, aku sebenarnya bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Ireta tapi untuk saat ini menenangkan diri adalah sesuatu yang dibutuhkan semua orang.


Charlotte kembali ke wujudnya sedia kala sementara Livia menepuk dirinya untuk membersihkan debu yang menempel.

__ADS_1


Wanita yang membawa anak-anak itu menundukkan kepalanya dengan perasaan rumit.


"Mohon maafkan Ireta, ia adalah gadis baik tapi mungkin sesuatu telah membuatnya.."


Aku memotong secepatnya.


"Ah, tidak perlu khawatir.... dari awal ini memang kesalahan pahaman karena itu boleh aku mendengar semuanya, silahkan ikuti aku."


"Terima kasih atas pengertiannya, perkenalkan namaku Nerta kita pernah bertemu di pulau dan mereka.."


Nerta mulai memperkenalkan sepuluh anak yang dibawanya yang merupakan titan yang selamat dari pulau, sementara untuk Ireta dia adalah manusia biasa yang dirawat oleh Julie sejak lama.


Dan ketika Nerta mengatakan umurnya itu membuat semua orang menggelengkan kepala tidak percaya. Karena memiliki gejala aneh tubuh Ireta sudah tidak bisa berkembang lagi, walau kini dia sudah menginjak 22 tahun dia akan terus terlihat seperti anak sekolah dasar.


Bagi sebagian pria itu menggemaskan tapi bagiku aku sedikit kasihan padanya, dia lebih mungil dari Clarisa Marie, untuk sekarang mari kembali ke istana dan menyambut mereka sebagai tamu.


Di ruangan tamu aku, Nerta dan Ireta saling membicarakan apa yang terjadi. Untuk sisanya aku minta untuk menunggu di tempat lain.


Ireta terus meminta maaf padaku meskipun aku jelas tidak mempermasalahkannya, setelah mendengar penjelasan dari Nerta banyak hal yang akhirnya terkuak khususnya soal topeng yang sebelumnya digunakan Ireta, sementara itu sisanya telah dimiliki oleh Solomon.

__ADS_1


__ADS_2