
Perjalanan kami dimulai dengan hujan.
Aku maupun anggota partyku hanya bisa berteduh di sebuah gubuk yang jauh dari tempat manapun.
Sementara aku mengeringkan pakaianku ke tiga anggota partyku duduk melingkar dengan tatapan serius, jika mereka mau bermain kartu lagi itu bukan hal yang baik.
Ada beberapa lantai kayu yang rusak jadi aku gunakan sebagai bahan bakar penghangat, dengan sedikit nafas api Harty, api didapat.
"Dibanding kalian yang saling menatap satu sama lain lebih baik kalian keringkan pakaian kalian di api ini."
"Itu ide bagus."
Mereka melemparkan pakaian mereka padaku kecuali pakaian dalam yang masih mereka kenakan. Orang-orang ini benar-benar menjadikanku seperti pembantu saja.
Aku hanya mendesah pelan dan secara bergiliran mendekatkan pakaian tersebut ke api yang menyala.
Aku tidak ada keinginan untuk membakarnya karena itu mari berhati-hati agar tidak terjadi hal yang merepotkan.
"Jadi apa yang kalian lakukan di sana?"
"Kami sedang mencoba bersaing, siapa pun yang berkedip lebih dulu dia kalah."
Pertandingan yang sama sekali tidak bermanfaat, setelah selesai dengan pekerjaanku aku sedikit menoleh menatap langit kelabu di sana.
Riak-riak air tampak menghasilkan suara yang merdu bersama burung-burung yang terbang menjauh, kurasa diantara burung ada yang berpergian walau turun hujan.
Tepat saat aku memikirkannya sebuah tirai cahaya mulai terbuka lebar bagaikan sebuah panggung opera, dari sana warna langit yang jauh berbeda tercipta bersamaan pelangi yang menghiasinya.
__ADS_1
Dengan ini perjalanan kami bisa dilanjutkan.
Aku melirik ke arah anggota partyku yang telah memakai pakaian mereka.
"Kami sudah siap."
Malam hari masih panjang menghabiskan waktu di tempat terpencil seperti ini akan jauh membosankan dari yang terlihat.
Aku mengenakan topengku kembali dan bertanya-tanya tempat seperti apa lagi yang akan kami datangi.
Di jalanan setapak itu aku bernegosiasi dengan pedang yang lewat.
"Aku akan membayar dua koin perak untuk bisa naik ke kota."
"Dua koin perak? Bagaimana yah?"
Ini adalah uangku yang terakhir jika kami tidak sampai ke kota aku takut Harty mulai memakan apapun yang dia lihat.
Keramahan apa maksudnya? Jika orang lain dia pasti akan mengizinkan kami naik secara percuma terlebih dia juga akan melewati kota tersebut.
Aku tidak ingin mengatakan apapun lagi dan hanya membantu anggota partyku untuk naik ke dalam kereta.
Rion dalam bentuk pedang hanya mendengarkan tanpa berbicara apapun, dia sepertinya sudah lelah.
"Hati-hati Valentine."
"Iya."
__ADS_1
Sesampainya di kota kami harus segera mencari pekerjaan, pertama untuk membeli makanan serta menyewa tempat tinggal.
Kami mengunjungi guild yang menawarkan beberapa pekerjaan untuk kami lakukan, ini masih di wilayah tanah lebih tepatnya di perbatasan dan perjalanan cukup panjang untuk sampai ke negeri angin.
Walau Harty seekor naga yang bisa berpergian jauh semua orang sepakat untuk menempuh petualang ini dengan perlahan.
Setelah mengkonfirmasi indentitasku receptionis mengangguk mengiyakan dan mempersilahkan kami untuk mengambil pekerjaan di papan permintaan.
Guild akan selalu menyambut petualang manapun asalkan mereka bisa bersikap sopan.
Orang-orang mulai membicarakanku.
"Level satu, aku yakin dua orang partynya lah yang selalu melindunginya."
"Sudah pasti, dia mungkin anak orang kaya atau anak manja."
"Dia juga memakai topeng kurasa wajahnya mirip Orc atau goblin haha."
"Hentikan, Lion tidak seperti itu."
"Benar, kalian membuatku marah."
"Valentine dan Harty tenanglah... mau bagaimana lagi aku memang level satu? Kita cari apa ada pekerjaan yang cocok denganku."
"Bagaimana dengan membersihkan solokan, itu cukup baik untukmu," potong salah satu petualang selagi mengejek rendah.
"Memang benar, kalau begitu aku ambil yang ini.. Valentine dan Harty tidak usah melakukannya."
__ADS_1
"Tapi itu."
Aku lebih baik beradaptasi dengan bagaimana semua orang memperlakukanku agar tidak terlihat mencolok.