
Hanya dalam beberapa hari Ryker telah tiba di kota yang ingin dia masuki, di tengah kota itu ada sebuah menara berwarna putih yang disebut Menara Aira karena itu juga kota ini disebut dengan kota yang sama.
Selagi mengendap-endap Ryker menutupi dirinya dengan tudung dari jubah coklat yang dikenakannya lalu masuk ke dalam menara.
Tidak ada yang boleh memasuki menara ini karena itu dia harus melakukannya diam-diam tanpa ketahuan penjaga.
Sampai sekarang tidak ada yang tahu apa yang berada di atas sana, meski begitu rumor mengatakan bahwa di sana ada seorang Arc Priest yang sangat kuat yang mengabdikan dirinya sebagai pelayan Dewi suci Aira.
Karena dia membenci keburukan manusia ia pun memutuskan untuk mengasingkan diri di tempat ini.
Paling tidak itulah yang diyakini semua orang.
Sebelum Ryker bisa melangkahkan kakinya para penjaga telah lebih dulu memergokinya. Pada akhirnya dia harus melawan mereka semua terlebih yang membuatnya frustasi fakta bahwa penjaga ini semakin lama semakin banyak.
Diserang kenyataan memilukan, Ryker bersiap untuk menerima kematiannya.
Tangannya sudah gemetar karena harus terus mengayunkan pedangnya, ketika dia berfikir ini akhirnya.
Seluruh para penjaga tiba-tiba berjatuhan ke lantai mereka bukan mati, mereka hanya tertidur.
Bagaimana bisa?
Saat Ryker menanyakan itu pada dirinya suara wanita yang terdengar lembut masuk ke dalam kepalanya.
"Bukannya kamu kemari untuk menemuiku bisakah kamu tidak membuatku menunggu?"
"Siapa Anda?"
"Kamu akan mengetahuinya jika datang ke bagian atas."
Tanpa bertanya lagi, Ryker berjalan di tangga spiral yang membutuhkan waktu cukup lama untuk melihat ujungnya.
Ada sebuah kamar besar yang diletakkan di ujung koridor, tanpa menahan lagi dia membuka pintunya dan mendapati seorang gadis berambut panjang abu-abu duduk di meja selagi menyilangkan kakinya.
Di atas telinganya terdapat aksesoris seperti sepasang sayap burung putih.
Wajahnya sangat cantik dengan hidung mancung serta mata sayu.
Ia mengenakan gaun putih dan dua tonjolan itu begitu sempurna walaupun dilihat dari sisi manapun.
"Kenapa kamu diam di pintu, mendekatlah."
Ryker hanya menutup mulutnya saat kesadarannya telah kembali.
__ADS_1
"Apa Nona ini Arc Priest yang tinggal di menara ini?"
Gadis di depannya hanya memainkan ujung rambutnya ragu.
"Bagaimana mengatakannya, di banding Arch Priest aku adalah dewi itu sendiri."
"Maaf..."
Ryker tampak kebingungan sesaat, saat dia berhasil mengolah informasi yang dia dapatkan di dalam otaknya dia langsung berlutut.
"Maaf atas kekasaran saya dewi Aira."
"Yah jangan dipikirkan aku tahu kamu pengikutku yang beriman jadi aku tidak keberatan... kamu pasti datang ingin mengetahui tentang apa yang terjadi di dunia ini khususnya 4.000 tahun yang lalu, benar?"
"Benar sekali... kalau berkenan saya ingin tahu semuanya."
"Baiklah, mungkin ini sedikit mengejutkan tapi semua yang kukatakan adalah kebenaran."
Setelah Dewi Aira menjelaskannya ekpresi Ryker memucat, ia sedikit terhuyung ke belakang meski begitu ia bisa mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh.
Walau dia juga manusia dia tidak bisa memaafkan apa yang dilakukan nenek moyangnya sejak lama.
Rasanya perjuangannya selama ini terasa tidak berarti.
"Kamu melindungi banyak manusia, itu bukanlah hal salah... lagipula tak semua manusia bersalah bukan? Ini hanya kesalahan yang dilakukan kita semua."
"Jadi itu semua benar."
"Benar... aku yang menolak para dewa-dewi membantu melawan Titan pada akhirnya berakhir diasingkan dan dikurung di menara ini."
"Itu tidak masuk akal.... harusnya para dewa-dewi."
Melihat tatapan Aira, Ryker segera menarik perkataannya lalu meminta maaf.
"Aku juga setuju denganmu."
"Lalu bagaimana caranya agar saya bisa menyelamatkan Dewi?"
"Tolong jangan bicara formal denganku."
"Baik."
Setelah keheningan sesaat Aira menjelaskan.
__ADS_1
"Menara ini dibuat untuk mengurung Dewi suci sepertiku jadi apa bila kesucianku tidak ada maka aku bisa keluar dengan mudah."
Mendengar itu Ryker tersentak, sementara Dewi hanya tersipu malu dengan pipi memerah.
"Jika itu bisa membuat Dewi keluar aku."
"Ah, jangan salah paham... aku tidak bisa melakukan hal itu denganmu atau orang lain, akan tetapi aku punya satu pengecualian."
"Jika berkenan, aku akan melakukan apapun untuk membantu Anda dewi."
"Dewi Jahat Riona telah mengambil utusan dari dunia lain, aku pikir hanya dia yang bisa menyelamatkanku."
"Jika dewi bilang begitu aku akan mencarinya."
"Kamu sangat berbakti... aku tahu bahwa kau ingin menyelamatkan dunia ini dan mengembalikan semuanya ke dalam keadaan semestinya, bekerja samalah dengannya karena dia juga memiliki tujuan yang sama."
"Utusan Dewi Jahat tersebut... tidak, kurasa dia bukan dewi jahat."
"Benar."
"Di mana aku bisa menemukannya?"
"Di benua enam wilayah... datanglah ke negeri api lalu masuklah ke akademi sihir di ibukotanya, maka kamu akan menemukannya, saat itu kamu akan mengetahui siapa orang tersebut."
"Aku mengerti, kalau begitu aku pamit."
"Tunggu sebentar."
Ryker berbalik dan menatap wajah dewi yang terlihat malu-malu.
"Suruh dia datang kemari tapi jangan katakan alasannya, paham."
"Anda terlalu malu."
"Sudah wajar kan... aku juga harus memberikanmu perlindungan ilahi padamu bahkan Riona tak akan bisa membaca pikiranmu."
Sebuah cahaya muncul di tubuh Ryker yang kebingungan.
"Aku sudah meningkatkan statistikmu, aku juga memberikan Skill Kebijaksanaan, gunakanlah sebaik mungkin."
"Terima kasih, aku tidak akan membuat dewi kecewa."
"Berhati-hatilah, rintangan yang kalian akan hadapi akan semakin sulit."
__ADS_1
"Baik."