
Asap mengepul dari tubuhku, selanjutnya aku telah berubah menjadi titan setinggi 80 meter yang cukup membuat semua orang terlihat syok.
"Lion berubah jadi raksasa, apa yang sebenarnya terjadi?" teriak Estelle yang dibalas oleh Varlia.
"Entahlah, pokoknya kita harus mengalahkan mereka."
"Aku akan melindungi tempat ini," balas Mamia juga.
Aku menggunakan tanganku yang lebar untuk menyapu para Orc itu, mereka berguling ke segala arah dan jatuh saat aku menginjakkan kakiku.
Dengan serangan besar aku bisa memecah formasi mereka dan juga mengurangi jumlahnya dengan cepat, tepat saat para petualang bergerak maju hanya sekitar 1000 dari mereka saja yang masih hidup.
Aku kembali ke wujudku sedia kala dan mulai bertarung seperti mereka, kulesatkan pedangku dan sekitar dua sampai lima Orc terbunuh.
Varlia menyelamatkan salah satu rekan petulang hanya saja dia mati saat sebuah panah menembus tulang tengkoraknya.
"Sial."
Kami jelas kesulitan.
Dia membacok selagi berlari melewati para Orc, sekitar sepuluh telah menjadi korban keganasannya Varlia, di sisi lain Mamia dan Estelle melakukan hal sama.
"Kemana kau melihat?"
Sebuah tebasan terayun padaku dan aku menahannya dengan baik. Itu berasal dari Jenderal Orc, hanya dia saja yang memiliki kulit merah dibanding semuanya.
"Jangan berfikir kau bisa lepas dariku."
__ADS_1
Dia mengayunkan pedangnya secara vertikal yang mana bisa kuhindari dengan mudah, aku mempersempit jarak kemudian mencengkeram lehernya sebelum melemparkannya ke arah Estelle.
"Kau yang harus menghadapinya, lakukan yang terbaik."
"Baik."
Mamia melirikku dengan tatapan ikan mati.
"Kau sebenarnya bisa mengalahkannya dengan mudah kan, tapi malah memberikannya pada Estelle."
"Kupikir dia harus memiliki banyak pengalaman dalam bertarung."
"Dasar, kau terlalu kejam."
Aku dan Mamia membunuh Orc yang menghampiri kami dan saling membelakangi punggung, Varlia juga datang untuk bergabung.
"Mereka sudah mati dan beberapa lagi kuminta untuk mundur."
"Benar-benar merepotkan."
"Karena inilah aku marah saat kompetisi itu.. mereka punya waktu untuk berlatih tapi mereka malah menggunakannya untuk bersantai, inilah yang akan terjadi saat situasi genting tiba... kuharap ke depannya mereka bisa belajar dari pengalaman ini."
Jadi itu alasannya juga dia mendorong petualang sebelumnya.
"Apa Estelle akan baik-baik di sana?"
"Dia kuat jadi tak perlu dikhawatirkan, kita hanya harus menyelesaikan sisanya."
__ADS_1
"Dimengerti, aku akan menyerang dari kanan."
"Aku kiri."
"Maka aku dari depan."
Dan kami melakukan hal demikian sepanjang waktu hingga pada akhirnya tidak ada lagi Orc yang bisa kami lawan lagi.
Mamia terbaring di tumpukan mayat bersama Varlia, sementara itu aku duduk selagi melirik pertarungan Estelle dengan Jenderal Orc.
Keduanya sudah kehilangan nafas mereka serta kekuatan mereka, kurasa ini menjadi serangan akhir yang akan mereka lesatkan.
Keduanya berteriak di waktu bersamaan selagi melangkah maju, ada sedikit suara dentuman keras sesaat sebelum mereka saling membelakangi dalam diam.
"Mustahil, ada manusia yang bisa mengalahkanku?"
Jenderal goblin tumbang ke depan sedangkan Estelle yang terluka di sana sini mengangkat tangannya selagi memejamkan matanya, dia akan kehilangan keseimbangannya jadi aku muncul di dekatnya lalu menahan tubuhnya dengan tanganku.
*********** yang besar dan lembut lebih dulu menekanku.
"Hehe aku menang."
"Kau sudah berjuang keras, kini banyak nyawa yang telah berhasil kau selamatkan."
"Syukurlah."
Dia langsung tertidur setelahnya dengan wajah tersenyum riang.
__ADS_1
Sebelumnya saat desanya dihancurkan Estelle tidak bisa melakukan apapun tapi sekarang dia sudah melakukan hal yang lebih dari seorang pahlawan lakukan.